Ironi di Tepi Cisadane, Warga Kranggan Tiap Tahun Alami Krisis Air

- Warga Kranggan, Tangerang Selatan, mengalami krisis air tahunan akibat sumur mengering saat kemarau, memaksa mereka bergantung pada bantuan air bersih dari BPBD.
- Krisis ini telah terjadi sejak 2016 dan warga berharap solusi permanen berupa sambungan pipa PDAM, namun hingga kini terkendala birokrasi yang berbelit.
- Ironisnya, wilayah Kranggan berada dekat Sungai Cisadane—sumber air utama PDAM—namun belum tersambung jaringan pipa; total 35 KK terdampak di Kecamatan Setu yang rawan kekeringan.
Tangerang Selatan, IDN Times - Di bawah terik matahari yang menyengat, Ekawati berjongkok di tepian Sungai Cisadane. Tangannya lincah mengucek pakaian di tengah arus sungai yang perlahan mengalir. Aktivitas yang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, tapi bagi Ekawati, ini adalah bentuk kepasrahan.
Sudah hampir sebulan aktivitas mandi, cuci kakus di rumahnya di Kelurahan Kranggan, Tangerang Selatan, terkendala. Air sumur gali yang menjadi tumpuan hidupnya telah mengering di musim kemarau.
"Sudah enggak ada (air). Sudah sebulan," ujar Ekawati, saat ditemui di tepian Sungai Cisadane, Rabu (15/7/2026).
Tak jauh dari lokasi Ekawati, seorang nenek bernama Masnah warga Kranggan terlihat tertatih-tatih mengangkut ember berisi air bantuan. Ia adalah satu dari puluhan warga yang terpaksa mengantre di bawah terik untuk mendapatkan air bersih dari mobil tangki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan.
"Air ada sedikit (di sumur), cuma (terus) berkurang," tuturnya.
Masalah klasik yang tak pernah usai

Situasi yang dialami warga Kranggan bukanlah potret baru. Ketua RW 02 Kelurahan Kranggan, Nasrullah yang ikut mendampingi warganya dalam krisis ini, menegaskan kekeringan menjadi 'tamu rutin' yang datang hampir setiap tahun. Padahal dahulu, sebelum Tangerang Selatan bertranformasi menjadi wilayah perkotaan maju dan dipenuhi perumahan modern, warga Kranggan tak pernah kesulitan dalam mengakses air.
"Ya dulu mah kita apa, bicara mandi aja bisa di danau, Kali Salak. Kalau bicara dulu enggak ada yang namanya kurang air," kata Nasrullah.
Namun setelah tahun 2010, tepatnya di tahun 2016 warga Kranggan khususnya Kampung Koceak mulai mengalami krisis air saat musim kemarau. "Cuma yang paling parah tuh kemarin tahun 2023, itu hampir setiap hari BPBD mengirimkan air ke wilayah kami," kata dia.
Bagi warga, bantuan air bersih dari pemerintah memang penyelamat jangka pendek. Namun, harapan mereka jauh melampaui sekadar distribusi air lewat truk tangki. Warga mendambakan solusi permanen berupa sambungan jaringan pipa air bersih dari perusahaan daerah yang bisa mengalirkan air langsung ke rumah-rumah mereka.
Nasrullah mengungkapkan, warga sudah berulang kali menyuarakan aspirasi terkait sambungan pipa air PDAM, sayangnya hingga kini masih sebatas usulan yang belum dikabulkan pemerintah.
"Kadang-kadang iya birokrasinya susah. Berbelit-belit," ungkapnya.
Ironi di lumbung air

Nestapa warga Kranggan terasa lebih pahit, letak wilayah mereka tidak jauh dari aliran Sungai Cisadane. Ironisnya, sungai inilah yang menjadi sumber air baku utama bagi PDAM untuk menyuplai kebutuhan air bersih wilayah Tangerang, hingga sebagian wilayah Jakarta.
Karena belum tersambung pipa jaringan air, untuk memenuhi kebutuhan warga, Pemerintah Kecamatan Setu berkoordinasi dengan BPBD Kota Tangerang Selatan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta PDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) milik Pemerintah Kabupaten Tangerang.
Camat Setu Erwin Gemala Putra mengatakan, wilayah terdampak berada di RW 01 sekitar 15 KK dan RW 02 sebanyak 20 KK. Menurutnya, posisi geografis Keranggan yang berada di dataran tinggi membuat cadangan air tanah lebih cepat menyusut saat kemarau.
“Berdasarkan hasil pendataan kami di lapangan, ada dua wilayah yang terdampak cukup parah, yakni di RW 01 dengan perkiraan 15 KK dan RW 02 sekitar 20 KK. Total sementara ada 35 KK yang mengalami krisis air,” kata Erwin.
Sebanyak 16.485,47 hektare kawasan di Tangsel rawan kekeringan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memetakan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan selama musim kemarau 2026. Total luas kawasan yang masuk kategori rawan kekeringan mencapai 16.485,47 hektare.
Sekretaris BPBD Kota Tangsel, Essa Nugraha Sudjana mengatakan, Kecamatan Setu menjadi wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi dibanding kecamatan lainnya.
Essa menjelaskan, berdasarkan hasil pemetaan, Kecamatan Setu memiliki tingkat bahaya kekeringan kategori sedang. “Luas total yang terkena bahaya kekeringan yaitu 16.485,47 hektare,” kata Essa, Senin (13/7/2026).
Ia merinci, luas wilayah dengan kategori bahaya rendah di Kecamatan Setu mencapai 1.246,23 hektare, sedangkan kategori sedang seluas 432,09 hektare.
Sementara itu, enam kecamatan lainnya di Kota Tangsel masih masuk kategori bahaya rendah berdasarkan riwayat kejadian kekeringan dan intensitas curah hujan.



















