4.844 Warga Tangsel ISPA, Dinkes Ingatkan Bahaya Abu Vulkanik

- Dinkes Tangsel mencatat 4.844 kasus ISPA hingga pekan ke-34 2026, akumulasi sejak Januari sebelum erupsi Gunung Anak Krakatau dan belum mencerminkan dampak abu vulkanik.
- Abu vulkanik mengandung silika berpartikel tajam yang dapat mengiritasi mata serta melukai saluran pernapasan, memicu mikrolesi, iritasi, hingga ISPA jika terhirup tanpa perlindungan.
- Masyarakat diminta membilas mata dengan air mengalir tanpa mengucek; PJJ diterapkan untuk mengurangi paparan anak, sementara Dinkes mencegah risiko infeksi berkembang lebih serius.
Tangerang Selatan, IDN Times – Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan mencatat sebanyak 4.844 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga pekan ke-34 2026. Angka tersebut merupakan akumulasi kasus sejak Januari dan tercatat sebelum adanya erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tangsel, Fitria Oriza mengatakan, data tersebut belum mencerminkan dampak paparan abu vulkanik GAK yang kini menyebar ke sejumlah wilayah.
“Tapi itu merupakan angka akumulatif dari tanggal 1 Januari sampai akhir minggu kemarin,” ujar Fitria saat ditemui di Gedung DPRD Tangsel, Senin (7/9/2026).
1. Abu vulkanik bisa melukai saluran pernapasan

Masyarakat Bandar Lampung mulai merasakan dambak debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna) Fitria menjelaskan, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu biasa. Abu hasil erupsi mengandung silika yang partikelnya dapat berbentuk seperti pecahan kaca jika dilihat melalui mikroskop.
“Abu vulkanik yang menyebar dari erupsi Gunung Anak Krakatau mengandung silika. Kalau dilihat di bawah mikroskop, silika ini gambarannya seperti beling atau kaca,” jelasnya.
Menurutnya, partikel tersebut dapat masuk melalui hidung dan melukai jaringan pada saluran pernapasan. Karena itu, paparan abu vulkanik tetap perlu diwaspadai meski jumlahnya tidak terlalu tebal atau terlihat banyak.
“Dampak dari abu vulkanik ini bisa menyebabkan iritasi, baik pada pernapasan hingga menimbulkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA maupun pada mata,” katanya.
2. Mata terkena abu vulkanik jangan dikucek

ilustrasi kelilipan (freepik.com/cookie_studio) Fitria juga mengingatkan masyarakat yang matanya terkena abu vulkanik untuk tidak langsung menguceknya. Ia menyarankan mata segera dibilas menggunakan air mengalir agar partikel abu terlepas tanpa menyebabkan luka pada kornea.
“Kalau dikucek saat kelilipan, itu bisa menyebabkan baret pada kornea dan memicu iritasi mata yang cukup parah,” ujarnya.
Sementara pada saluran pernapasan, partikel abu yang terhirup tanpa perlindungan dapat menimbulkan luka-luka kecil atau mikrolesi. Kondisi tersebut berpotensi memicu iritasi hingga infeksi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi anak-anak sekolah.
Fitria mengatakan anak-anak memiliki potensi terpapar abu vulkanik ketika melakukan perjalanan dari rumah menuju sekolah, terutama jika menggunakan sepeda motor.
“Langkah PJJ ini adalah bentuk pencegahan, jangan sampai angka kasus ISPA mengalami peningkatan,” terang Fitria.
Meski demikian, ia menegaskan abu vulkanik bukan satu-satunya penyebab ISPA. Sebelum erupsi Gunung Anak Krakatau, kasus ISPA di Tangsel memang sudah ditemukan dan dapat dipicu berbagai faktor, seperti infeksi virus maupun alergi.
3. Dinkes Tangsel khawatir paparan berlanjut ke pneumonia

ilustrasi penyakit pneumonia (pexels.com/Michael Obiero) Dinkes Tangsel kini berupaya meminimalkan dampak paparan abu vulkanik terhadap masyarakat agar tidak berkembang menjadi infeksi yang lebih serius. Fitria berharap sebaran abu vulkanik segera mereda sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal.
“Mudah-mudahan paparan abu vulkanik ini bisa segera reda sehingga kehidupan bisa kembali normal,” tutupnya.

















