Mengapa Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Berbahaya Bagi Pesawat?

Abu vulkanik bisa merusak bagian pesawat
Pesawat British Airways pernah alami kejadian saat letusan Gunung Galunggung
Abu vulkanik miliki karakteristik berbeda dari awan biasa, karena terdiri atas fragmen batuan, silika (SiO₂), dan kristal mineral
Tangerang, IDN Times – Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) tak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga ancaman serius bagi keselamatan penerbangan.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari awan biasa. Material tersebut terdiri atas fragmen batuan, silika (SiO₂), dan kristal mineral berukuran sangat kecil yang bersifat abrasif.
Menurutnya, karakteristik tersebut membuat abu vulkanik berbahaya ketika masuk ke dalam jalur penerbangan maupun tersedot ke mesin pesawat.
1. Abu vulkanik bisa merusak bagian pesawat

Masker N95 atau KN95 disarankan saat terpapar abu, terutama abu akibat letusan gunung anak krakatau.(IDN Times/Foto : ilustrasi) Daryono menjelaskan, pesawat yang melintasi awan abu vulkanik dalam kecepatan tinggi berpotensi mengalami kerusakan akibat gesekan partikel keras. Partikel dapat mengikis permukaan kaca kokpit hingga mengganggu pandangan pilot. Selain itu, abu dapat merusak sejumlah sensor penting pesawat, termasuk pilot tube yang digunakan untuk mengukur kecepatan udara.
“Abu vulkanik tidak terdiri dari tetesan air atau kristal es, melainkan fragmentasi batuan mikroskopis, silika SiO₂, serta kristal mineral berujung tajam yang bersifat sangat abrasif,” ujar Daryono. Material tersebut juga dapat mengikis bilah turbin serta lapisan pelindung pada mesin jet.
2. Abu masuk mesin bisa menyebabkan flameout

Turbin pesawat di Bandara Soetta ditutup hindari abu vulkanik (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti) Risiko paling serius terjadi ketika abu vulkanik terhisap ke dalam mesin turbofan. Daryono menjelaskan, suhu di ruang pembakaran mesin jet dapat mencapai sekitar 1.400 hingga 2.000 derajat Celsius. Suhu tersebut cukup tinggi untuk membuat material silika dalam abu vulkanik meleleh.
Material yang mencair dapat mengalir ke bagian turbin. Ketika mencapai area dengan suhu lebih rendah, material tersebut kembali membeku menjadi lapisan seperti kaca.
Penumpukan material ini dapat mengganggu aliran udara dan kerja bilah turbin. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan engine stall hingga flameout, yakni hilangnya pembakaran di dalam mesin.
3. Gangguan pada sejumlah sistem pesawat

Turbin pesawat di Bandara Soetta ditutup hindari abu vulkanik (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti) Selain mesin, abu vulkanik juga dapat memengaruhi sejumlah sistem pesawat. Daryono menerangkan partikel abu yang bergesekan dengan permukaan pesawat dalam kecepatan tinggi dapat menimbulkan muatan listrik statis. Fenomena tersebut antara lain dapat memunculkan St. Elmo’s Fire di sekitar kaca kokpit dan berpotensi mengganggu komunikasi radio.
Kandungan material tertentu pada abu vulkanik juga dapat memberikan risiko terhadap komponen pesawat dan sistem pengondisian udara yang menggunakan bleed air dari mesin.
4. Pesawat British Airways pernah alami kejadian saat letusan Gunung Galunggung

Turbin pesawat di Bandara Soetta ditutup hindari abu vulkanik (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti) Bahaya abu vulkanik terhadap penerbangan bukan sekadar teori. Salah satu insiden paling terkenal terjadi pada 24 Juni 1982 ketika British Airways Penerbangan 9 melintasi awan abu dari erupsi Gunung Galunggung, Jawa Barat. Pesawat Boeing 747 tersebut mengalami kegagalan pada seluruh empat mesinnya setelah abu vulkanik masuk ke dalam mesin.
Daryono menjelaskan, material abu yang masuk ke mesin mengalami proses pelelehan akibat temperatur tinggi dan kemudian membeku kembali pada bagian turbin yang lebih dingin. Kondisi tersebut menyebabkan mesin kehilangan daya. Pesawat kemudian meluncur tanpa tenaga mesin hingga berhasil keluar dari awan abu.
Awak pesawat akhirnya berhasil menyalakan kembali mesin dan melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Berkaca dari risiko tersebut, Daryono menilai penghentian sementara operasional penerbangan di sejumlah bandara ketika terdapat sebaran abu vulkanik merupakan langkah yang tepat. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya mengutamakan keselamatan penerbangan ketika kondisi atmosfer berpotensi membahayakan pesawat.
“Penghentian sementara operasional penerbangan di beberapa bandara saat terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan langkah dan keputusan yang tepat demi menjamin keselamatan penerbangan,” tegasnya.















