Kemarau, Kampung Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Kembali

Musim kemarau menyusutkan muka air Bendungan Karian sekitar 80 sentimeter atau lima persen, sehingga sisa bangunan permukiman di Desa Sukarame dan Sukajaya terlihat.
Bangunan rumah bekas permukiman tidak dibongkar sebelum area digenangi; saat konstruksi, tim hanya membersihkan vegetasi setelah warga direlokasi pada 2023.
BBWS C3 memastikan tampungan Bendungan Karian masih cukup untuk kebutuhan air dan irigasi, meski bekas kampung yang muncul menarik perhatian masyarakat.
Serang, IDN Times – Sejumlah bangunan bekas permukiman yang sempat tenggelam akibat pembangunan Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, terlihat kembali seiring menyusutnya debit air waduk pada musim kemarau. Dinding-dinding rumah tanpa atap yang muncul ke permukaan menjadi saksi kawasan permukiman yang ditinggalkan sejak proses relokasi warga pada 2023.
Fenomena munculnya bekas kampung di area genangan Bendungan Karian, terjadi di wilayah Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira yang berada di bagian hulu waduk.
1. Bangunan tak dibongkar saat diairi

Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau Ciujung Cidurian (C3), Maretha Ayu Kusumawati, mengatakan kawasan tersebut sebelumnya merupakan permukiman padat penduduk sebelum proyek bendungan dilaksanakan. "Lokasi di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, sudah di area hulu, dan awalnya memang merupakan daerah permukiman padat," kata Maretha, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, bangunan rumah di kawasan itu tidak dibongkar sebelum area digenangi air. Proses yang dilakukan saat pembangunan hanya pembersihan vegetasi.
"Kondisi seluruh area genangan, meski sudah dibebaskan, tidak dilakukan demolish untuk seluruh bangunan yang terdampak. Adapun yang dilakukan proses clearing oleh tim konstruksi hanya tanamannya saja," ujarnya.
2. Debit air Bendungan Karian turun 5 persen

Menurut Maretha, debit air waduk saat ini sekitar 80 sentimeter dari kondisi normal atau turun sekitar lima persen dari kapasitas genangan. Penurunan tersebut membuat sisa bangunan terlihat jelas.
"Pada Muka Air Banjir (MAB) waduk, sebagian rumah akan tenggelam karena beda tinggi dengan muka air normal sekitar 3,35 meter. Elevasi saat ini turun sekitar 80 sentimeter dari muka air normal," katanya.
3. Menarik perhatian masyarakat
Sementara Kepala BBWS C3 Dedi Yudha Lesmana memastikan kondisi tampungan Bendungan Karian masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air, termasuk pasokan irigasi.
"Jika di hilir membutuhkan air lebih banyak, masih dapat dikeluarkan dari Karian," ujarnya.
Bendungan Karian merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang dibangun sejak Oktober 2015 dan rampung pada 2023. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, bendungan ini memiliki kapasitas tampung sekitar 314,7 juta meter kubik dan berfungsi sebagai penyedia air baku bagi Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, hingga DKI Jakarta.
Pembangunan bendungan tersebut juga berdampak pada relokasi ribuan warga dari tiga kampung, yakni Kampung Susukan, Kampung Cibolang, dan Kampung Karian. Proyek itu mencakup pembebasan lahan seluas 2.226,44 hektare.
Selain permukiman warga, pemerintah turut merelokasi puluhan fasilitas umum yang terdampak genangan. Secara keseluruhan terdapat 45 bangunan fasilitas umum yang dipindahkan, meliputi enam sekolah, 11 masjid, lima madrasah, sembilan majelis taklim, enam musala, empat kantor desa, satu polindes, dan tiga posyandu.
Munculnya kembali bekas kampung saat musim kemarau menjadi pemandangan yang menarik perhatian masyarakat.
Namun, kondisi tersebut merupakan dampak alami dari penurunan muka air waduk dan tidak memengaruhi fungsi utama Bendungan Karian sebagai penyedia air baku, pengendali banjir, serta pendukung irigasi di wilayah Banten dan sekitarnya.


















