Mengintip Dapur Lakon Indonesia, Laboratorium Fashion di Tangerang

- Teras Lakon di Gading Serpong berfungsi sebagai butik sekaligus laboratorium kreatif Lakon Indonesia, membuka proses pengembangan busana berbasis wastra Nusantara kepada pengunjung.
- Lakon mengeksplorasi batik tulis Pekalongan pada material seperti katun voal, jacquard, dan organza, serta mengembangkan bordir dua sisi dengan detail lebih kompleks.
- Koleksi Harsa berisi 36 busana yang memadukan pendekatan streetwear, siluet ringan dan elegan, serta keterampilan pengrajin untuk kebutuhan daily wear hingga daily wear deluxe.
Tangerang, IDN Times - Di balik busana yang tampil memukau di panggung fashion, ada proses panjang yang melibatkan eksperimen, tangan para pengrajin, hingga eksplorasi teknik yang tak selalu terlihat oleh publik.
Hal itu bisa dirasakan ketika mengunjungi Teras Lakon di kawasan Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Tempat ini bukan sekadar butik untuk memasarkan karya Lakon Indonesia, tetapi juga menjadi ruang bagi tim untuk mengembangkan berbagai eksperimen fashion berbasis wastra Nusantara.
Saat memasuki lantai dasar, pengunjung akan menemukan butik yang memajang berbagai karya Lakon Indonesia, mulai dari koleksi terdahulu hingga rancangan terbaru. Namun, pengalaman berbeda terasa ketika naik ke lantai berikutnya.
Di sana terdapat ruangan yang digunakan untuk proses kreatif tim Lakon. Sejumlah desain, kertas rancangan, hingga papan yang berisi perencanaan busana membuat ruangan tersebut terasa seperti laboratorium fashion.
Pengunjung pun bisa melihat lebih dekat bagaimana sebuah rancangan dikembangkan sebelum akhirnya menjadi busana yang tampil di panggung fashion.
Salah satu koleksi yang dapat dilihat adalah Harsa, yang sebelumnya dipresentasikan dalam JF3 Fashion Festival 2026.
Founder Lakon Indonesia, Thresia Mareta, bahkan mempersilakan pengunjung untuk menyentuh langsung sejumlah karya yang dipamerkan. Baginya, busana yang dibuat Lakon bukan sekadar produk untuk dijual, tetapi juga medium untuk memperkenalkan proses dan kekayaan wastra Indonesia.
“Jadi kali ini Harsa, presentasi pas fashion show kemarin, itu adalah bagian dari koleksi yang lebih besar sebenarnya. Yang kami tampilkan di sini adalah sebuah visi dan hasil dari eksperimen yang dilakukan di The Lakon,” ujar Thresia, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, sejumlah karya yang dipamerkan di Teras Lakon merupakan hasil eksperimen dengan teknik yang lebih kompleks dibandingkan koleksi yang biasanya diluncurkan di butik.
“Kalau dilihat di sini mungkin tekniknya benar-benar sudah lebih jauh daripada apa yang kami launching di toko biasanya,” katanya.
Koleksi tersebut terbagi antara busana yang dapat digunakan sehari-hari dan karya yang lebih menonjolkan eksplorasi teknik.
1. Batik tulis dieksplorasi ke kain voal

Dapur Lakon Indonesia (IDN Times/Muhamad Iqbal) Salah satu sudut yang menarik perhatian adalah lemari berisi berbagai kain batik dengan material yang beragam. Lakon mengeksplorasi teknik batik pada kain yang tidak selalu identik dengan kain batik konvensional.
Thresia menunjukkan salah satu koleksi batik berukuran sekitar 120x120 sentimeter yang menggunakan bahan katun voal, material yang umum digunakan sebagai bahan hijab.
“Kalau dilihat di sini, koleksi bahan batiknya juga lebih variatif. Ada batik di voal, bahan katun voal, ini katun primis biasa. Ini di katun jacquard. Nanti boleh dipegang, sengaja ditaruh di sini supaya bisa dilihat,” ujarnya.
Kain tersebut bukan hasil cetak digital. Thresia memastikan motifnya dibuat dengan teknik batik tulis oleh pengrajin yang ditemukan Lakon di Pekalongan.
Salah satunya merupakan motif parang yang dipadukan dengan material voal.
“Ini adalah batik Parang, dasarnya Madura-an. Ini juga di voal. Tapi bisa dilihat di sana ada yang gaya Cirebon juga, ada di jacquard, dan ada yang di organza. Jadi ini asli dibatik, bukan diprint,” katanya.
Eksplorasi material tersebut memperlihatkan bagaimana teknik tradisional dapat ditempatkan pada material yang lebih beragam tanpa menghilangkan proses pengerjaan tangan.
2. Teknik bordir Lakon terus dikembangkan

Dapur Lakon Indonesia (IDN Times/Muhamad Iqbal) Eksperimen Lakon tidak berhenti pada batik. Teknik bordir juga terus dikembangkan agar menghasilkan detail yang semakin kompleks.
Thresia memperlihatkan bordir yang dikerjakan pada dua sisi atau muka dan bagian dalam busana. Teknik tersebut membuat hasil bordir terlihat lebih rapi dan presisi.
“Karena kalau dilihat di 2023 kami mengembangkan bordir, dipresentasikan di koleksi The Tailor’s Tale saat itu di The Lakon. Ini sudah levelnya berbeda lagi, sudah naik lagi. Dua muka dengan bordir yang sempurna, enggak ada ruang buat kesalahan, tapi dari bordir selalu bagus,” ungkapnya.
Eksperimen tersebut menjadi bagian dari proses Lakon dalam mendorong keterampilan para pengrajin sekaligus mencari kemungkinan baru dalam desain fashion.
3. Harsa bawa wastra ke gaya lebih modern

Dapur Lakon Indonesia (IDN Times/Muhamad Iqbal) Eksplorasi tersebut kemudian terlihat dalam koleksi Harsa yang dipresentasikan pada JF3 Fashion Festival 2026. Harsa lahir dari eksplorasi pendekatan streetwear melalui koleksi Urub. Koleksi tersebut hadir dengan siluet yang lebih lembut, ringan, dan elegan, sekaligus diarahkan untuk kebutuhan daily wear hingga daily wear deluxe.
Selama delapan tahun membangun Lakon Indonesia, Thresia mengatakan proses kreatif menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.
“Selama 8 tahun membangun Lakon Indonesia, saya belajar bahwa kebahagiaan itu hadir justru dalam setiap proses yang kami jalani. Ketika berdiskusi, bereksperimen, menyelesaikan berbagai tantangan, hingga melihat hasilnya yang terus berkembang,” ujar Thresia.
Sebanyak 36 busana dihadirkan dalam koleksi Harsa. Koleksi tersebut menjadi gambaran bagaimana keterampilan tangan para pelaku industri fashion Indonesia terus dikembangkan melalui bahasa desain yang lebih modern.
Bagi Lakon, setiap busana juga menjadi bentuk apresiasi terhadap orang-orang yang berada di balik proses pembuatannya, mulai dari pengrajin batik, pembordir, hingga penjahit.
“Setiap busana yang dihadirkan jadi representasi dari dedikasi dan keterampilan tangan-tangan yang terlibat di setiap prosesnya,” katanya.
Melalui Teras Lakon, proses kreatif tersebut akhirnya tidak lagi menjadi sesuatu yang tersembunyi di balik panggung. Pengunjung dapat melihat, menyentuh, dan memahami bahwa sebuah busana berbasis wastra Nusantara bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga tentang eksperimen, teknik, dan tangan-tangan yang mengerjakannya.



















