Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemprov Banten Usulkan KRL hingga Merak, Butuh Rp1,29 Triliun
Andra Soni (Dok. Khaerul Anwar)
  • Pemprov Banten mengusulkan perpanjangan KRL hingga Merak melalui double track dan elektrifikasi Rangkasbitung-Merak, dengan kebutuhan investasi sekitar Rp1,29 triliun.
  • Realisasi proyek bergantung pada pemerintah pusat; Pemprov Banten menyiapkan studi kelayakan untuk membuktikan kebutuhan, kelayakan operasional, dan pembiayaan, serta membuka pembangunan bertahap.
  • Usulan didorong lonjakan penumpang dan kepadatan layanan: KRL Tanah Abang-Rangkasbitung mencapai 77,5 juta penumpang pada 2025, sementara penumpang Merak masih wajib berganti kereta di Rangkasbitung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Serang, IDN Times - Pemerintah Provinsi Banten mendorong pemerintah pusat memperpanjang layanan KRL hingga Merak melalui pembangunan double track dan elektrifikasi jalur Rangkasbitung-Merak. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp1,29 triliun.

Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, realisasi proyek tersebut masih bergantung pada keputusan pemerintah pusat. Sebab, pembangunan dan pengembangan jalur kereta api merupakan kewenangan Kementerian Perhubungan.

Untuk memperkuat usulan tersebut, Pemprov Banten menyiapkan studi kelayakan atau feasibility study (FS) yang nantinya menjadi dasar pengajuan proyek kepada pemerintah pusat.

"Upaya ini sebenarnya sudah tertuang di dalam RPJMN, namun belum masuk dalam Renstra (Rencana Strategis). Oleh karena itu, kita menginisiasi melaksanakan atau membuat FS," kata Andra seusai FGD FS di Hotel Le Dian, Kota Serang, Jumat (2/10/2026).

1. Kebutuhan transportasi publik jadi dasar

Ilustrasi KRL. (IDN Times/Anjani Asra)

Menurut Andra, FS diperlukan untuk membuktikan kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik sekaligus mengukur kelayakan proyek dari sisi operasional dan pembiayaan.

"Harapannya tentu dari FS tersebut, feasibility study tersebut, nanti terlihat kemudian terkonfirmasi bahwa kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik, double track atau commuter line lanjutan dari Rangkasbitung itu bisa dilaksanakan," ujarnya.

Berdasarkan dokumen studi kelayakan yang dipaparkan dalam FGD, elektrifikasi jalur Rangkasbitung-Merak diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp1,29 triliun. Proyek tersebut juga memiliki economic internal rate of return (EIRR) di atas 10 persen.

"Jika direalisasikan, kapasitas layanan diproyeksikan meningkat dari sekitar 9.900 penumpang per hari menjadi 18.000 penumpang per hari," katanya.

2. Bisa dibangun bertahap

Potret rangkaian KRL buatan perusahaan China CRRC Qingdao Sifang Co., Ltd. (Dok. KAI Commuter)

Pemprov Banten juga membuka opsi pembangunan secara bertahap. Tahap awal dapat dimulai dari lintas Rangkasbitung-Serang, kemudian dilanjutkan menuju Cilegon hingga Merak.

Rencana elektrifikasi tersebut diharapkan berjalan selaras dengan pembangunan double track Rangkasbitung-Merak yang telah diprogramkan dalam RPJMN 2025-2029. Andra menegaskan, Pemprov Banten tidak dapat merealisasikan proyek tersebut secara mandiri karena kewenangannya berada di pemerintah pusat.

Keputusan akhir mengenai pembangunan elektrifikasi tersebut, kata Andra, tetap berada di pemerintah pusat. Pemprov Banten bersama pemerintah kabupaten dan kota akan menyampaikan kebutuhan pembangunan tersebut dengan membawa hasil studi kelayakan sebagai salah satu dasar pengajuan.

"Kami harus membuat inisiasi, membuat inisiatif supaya kami bisa menyampaikan kepada pemerintah pusat terkait dengan kebutuhan ini merupakan sesuatu yang feasible, baik dari sisi operasional maupun dari sisi pembiayaan," katanya.

3. Penumpang KRL Banten terus meningkat

suasana penumpang turun dari krl. (Antara Foto/Fauzan)

Andra berharap proyek tersebut dapat direalisasikan karena tidak hanya meningkatkan pelayanan transportasi publik, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat Banten.

Kebutuhan elektrifikasi juga didukung tingginya penggunaan layanan kereta di Banten. Jumlah penumpang KRL lintas Tanah Abang-Rangkasbitung tercatat 77,5 juta orang pada 2025 dan diproyeksikan mencapai 85 juta orang pada 2026. Tingkat keterisian pada jam sibuk disebut mencapai 161 persen.

Sementara itu, Kereta Api Lokal Commuter Line Merak yang melayani rute Rangkasbitung-Serang-Cilegon-Merak mencatat 4,46 juta penumpang pada 2025 dan diproyeksikan mencapai 4,67 juta penumpang pada 2026. Tingkat keterisiannya mencapai 129 persen.

Saat ini, penumpang dari Merak, Cilegon, dan Serang yang hendak menuju Jakarta masih harus berganti kereta di Stasiun Rangkasbitung.

"Kondisi ini menjadi salah satu alasan penting untuk memperpanjang jangkauan KRL hingga Serang, Cilegon, dan Merak," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article