Kamu Susah Move On dari Hubungan Toxic? Ini Penyebabnya

Pernah gak sih kamu merasa udah berusaha mati-matian buat move on, tapi tetep aja gagal? Atau malah sering banget flashback ke momen manis sama mantan, padahal hubungan kalian jelas-jelas toxic? Ternyata, hal ini gak sepenuhnya salah kamu, lho.
Otak manusia punya mekanisme yang disebut cognitive bias alias bias kognitif. Bias ini memengaruhi cara manusia berpikir dan bikin manusia juga sulit lepas dari situasi yang sebenernya gak sehat, termasuk soal relationship.
Nah, berikut lima cognitive bias yang mungkin bikin kamu susah move on!
1. Rosy retrospection, ketika masa lalu selalu keliatan lebih indah

Pernah merasa masa lalu sama mantan lebih sempurna dari yang sekarang? Itu efek dari rosy retrospection, di mana otak cenderung mengingat momen bahagia dan lupa sama red flags yang ada. Kamu jadi fokus sama masa-masa manis, kayak kencan pertama atau hadiah ulang tahun yang spesial, tapi lupa kalau dulu kalian sering berantem.
Bias ini juga bikin kamu bandingin pasangan baru dengan versi ideal mantan yang udah terdistorsi. Padahal, masa lalu gak seindah yang otakmu gambarkan. Ingat, move on itu soal menerima kenyataan, bukan terus tenggelam dalam ilusi.
2. Sunk cost fallacy, terjebak karena "udah terlanjur"

“Kita udah pacaran lama, masa mau berhenti gitu aja?” Kalau pemikiran ini sering muncul, kemungkinan besar kamu terjebak sunk cost fallacy. Bias ini bikin kamu bertahan di hubungan toxic karena merasa udah invest banyak waktu, usaha, atau perasaan.
Sayangnya, terus bertahan gak akan mengembalikan apa yang udah hilang. Kadang, melepaskan adalah cara terbaik untuk menghargai diri sendiri. Ingat, masa depanmu gak harus dikorbankan demi sesuatu yang gak lagi sehat.
3. Confirmation bias, mencari bukti yang mendukung harapan

Pernah stalking mantan dengan harapan nemuin tanda-tanda dia masih peduli? Kalau iya, kamu sedang terjebak confirmation bias. Bias ini bikin kamu cuma fokus pada bukti yang mendukung harapanmu, kayak ketika mantan nge-view story Instagrammu lalu kamu anggap dia masih punya rasa.
Padahal, kenyataannya mungkin dia cuma scrolling biasa tanpa maksud apa-apa. Bias ini bikin kamu susah lepas dari harapan palsu. Cobalah untuk menerima realita dan berhenti mencari validasi dari tindakan kecil mantan.
4. Negativity bias, trauma yang bikin takut melangkah

Kalau kamu sering overthinking atau takut menjalin hubungan baru karena pengalaman buruk di masa lalu, itu efek dari negativity bias. Bias ini bikin memori buruk terasa lebih kuat dan membekas dibandingkan memori baik.
Akibatnya, kamu jadi terlalu hati-hati dan malah menutup diri dari peluang baru. Ingat, gak semua orang akan memperlakukanmu seperti mantan. Beri dirimu kesempatan untuk sembuh dan membangun hubungan yang lebih sehat.
5. Availability bias, ketika yang terdekat terasa paling tepat

Susah move on dari mantan yang masih sering muncul di hidupmu? Itu efek dari availability bias, di mana otak cenderung menganggap sesuatu yang familiar sebagai pilihan terbaik. Mantan yang masih sering ketemu atau kontak jadi terasa lebih menarik dibanding orang baru yang belum terlalu kamu kenal.
Padahal, rasa nyaman karena familiar gak selalu berarti kamu dan dia masih cocok. Cobalah buka hati untuk orang baru yang mungkin lebih sesuai dengan kebutuhan dan harapanmu sekarang.
Ingat, menyadari keberadaan bias ini adalah langkah pertama untuk bangkit. Kamu bisa mulai dengan lebih sadar dalam mengambil keputusan dan fokus pada dirimu sendiri. Move on memang gak mudah, tapi kamu pasti bisa!


















