Ilustrasi Kekeringan. (IDN Times/Anjani Asra)
Mundurnya musim hujan berpotensi berdampak pada sejumlah sektor, terutama ketersediaan air bersih. Durasi musim hujan yang lebih singkat dapat mengurangi cadangan air di dalam tanah maupun waduk.
Kondisi tersebut juga berdampak pada sektor pertanian. Petani perlu menyesuaikan pola tanam dengan waktu datangnya musim hujan agar kebutuhan air dapat diperhitungkan.
Di sektor kesehatan, masyarakat juga diminta mewaspadai penurunan kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Selain kekeringan, Ana mengingatkan potensi bencana hidrometeorologi ketika hujan mulai turun. Kekeringan yang berlangsung panjang dapat menyebabkan tanah merekah sehingga lebih rentan mengalami longsor saat diguyur hujan.
"Karena kekeringan yang sangat panjang, sehingga tanah-tanah itu menjadi merekah. Nah, pada saat terjadi hujan, ini potensi terjadinya tanah longsor ini menjadi lebih besar daripada biasanya," katanya.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BBMKG merekomendasikan survei bersama dengan Pemprov Banten untuk memetakan wilayah yang perlu mendapat perhatian dan penanganan lebih awal.
Ana juga menjelaskan hujan yang turun di sejumlah wilayah Banten beberapa waktu lalu belum dapat dijadikan penanda masuknya musim hujan.
Hujan masih dapat terjadi selama musim kemarau akibat dinamika atmosfer.
"Ada faktor-faktor dinamika atmosfer seperti saat ini beberapa hari yang lalu itu terjadi hujan karena adanya gelombang Kelvin dan gelombang Rossby yang membawa massa udara ke wilayah Banten sehingga di Banten bisa terjadi hujan, seperti itu," ujarnya.