Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Perjalanan Martabak Kubang Raup Omzet Fantastis di FKS 2026
Naziswan atau Haji Iwan, pendiri Martabak Kubang saat membuat pesanan di Festival Kuliner Serpong (IDN Times/Maya Aulia Aprlianti)

  • Martabak Kubang dirintis Haji Iwan dari gerobak di Padang pada 1969, membuka toko pada 1971, lalu berekspansi ke Jakarta pada 1988 dan kini memiliki tiga cabang di sana.
  • Cita rasa Martabak Kubang mengandalkan daging berbumbu rendang dan rempah serta cabai dari Padang. Saat pandemi, empat cabang di Jakarta dan Tangerang ditutup akibat omzet turun.
  • Rutin mengikuti FKS sejak 2012, Martabak Kubang pernah meraih omzet Rp40 juta per hari pada 2013. Di FKS 2026, penjualannya mencapai sekitar 120 porsi atau Rp8 juta per hari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang, IDN Times - Kuliner tak hanya dapat dinikmati rasanya, di balik kelezatannya terdapat cerita perjuangan. Pada Festival Kuliner Serpong 2026 bertema Satu Jalur Seribu Rasa-Lintas Sumatra, salah satu cerita dibagikan Naziswan atau yang dikenal Haji Iwan, pendiri Martabak khas tanah Minang, Martabak Kubang.

Berawa dari gerobak di Desa Kubang, Kota Padang tahun 1969, ia sempat menumpang di teras rumah seorang warga sebelum akhirnya pada 1971 membuka tokonya sendiri.

Selama 17 tahun berjualan di Kota Padang, martabak unik tersebut memiliki banyak penggemar, hingga akhirnya ia berinisiatif untuk membuka cabang di Ibu Kota Jakarta di tahun 1988, tepatnya di Jalan Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan.

"Di Padang masih ada, cuma sudah dipegang oleh kakak. Di Jakarta ada tiga cabang, itu dipegang saya," kata Haji Iwan saat ditemui di Festival Kuliner Serpong, Summarecon Mall Serpong.

1. Martabak Kubang gunakan bahan dari Padang

Naziswan atau Haji Iwan, pendiri Martabak Kubang saat membuat pesanan di Festival Kuliner Serpong (IDN Times/Maya Aulia Aprlianti)

Haji Iwan mengungkapkan, Martabak Kubang memiliki perbedaan rasa dengan martabak telur pada umumnya. Martabak ini memiliki isian daging yang lebih mendominasi dibanding martabak telur biasa. Sebelum dimasak bersama martabak, isian daging diolah terlebih dahulu menggunakan rempah ala rendang khas Minang. Setelah matang, daging akan dicincang dan dicampur satu butir telur untuk seporsi martabak.

"Untuk rempah benar-benar autentik harus dari Padang. Cabai untuk kuah martabaknya langsung didatangkan dari Padang karena cabai di Jawa ini beda rasanya, jadi hilang rasa khasnya," kata Haji Iwan.

2. Saat Covid-19, sempat tutup 4 cabang di Jakarta dan Tangerang

Naziswan atau Haji Iwan, pendiri Martabak Kubang saat membuat pesanan di Festival Kuliner Serpong (IDN Times/Maya Aulia Aprlianti)

Haji Iwan menuturkan, dirinya tidak pernah menjadikan usahanya sebagai beban. Bahkan, saat pandemik COVID-19 menyerang, ia kehilangan empat cabang tokonya di Jakarta dan Tangerang lantaran penurunan omzet yang sangat signifikan. Ia memilih mempertahankan tiga cabangnya saja, dibanding kehilangan semuanya.

"Sebenarnya kalau jatuh tidak pernah ya, kalau bangunnya itu yang lambat," kata Haji Iwan.

Meski banyak penjual martabak telur yang harganya lebih murah, Haji Iwan tak takut kehilangan pelanggan. Ia yakin rezeki setiap orang tidak pernah tertukar. "Kalau kita yang enggak ada yang takut, malah tambah banyak paling senang. Jadi orang cari merasa yang bagaimana tetap rasa yang enak," kata Haji Iwan.

Selain itu, ia percaya diri dengan martabak buatannya, lantaran selalu mengutamakan kualitas martabak bikinannya. Ia pun tak pernah berpikir untuk mengurangi takaran daging di isian martabak meski harga daging kerap melonjak.

"Saya tetap satu kilogram (daging) tuh paling banyak untuk 17 martabak. Malah kalau tambah ramai, kalau saya ngaduk cuma dapat 14 porsi, untuk rendang saja bisa 20 potong," ungkap Haji Iwan.

3. Omzet Rp40 juta per hari saat membuka stand di Festival Kuliner Serpong

Suasana Festival Kuliner Serpong 2026 (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Haji Iwan menuturkan ia rutin mengikuti gelaran Festival Kuliner Serpong (FKS) sejak tahun 2012. Kedainya tak pernah absen dari daftar kuliner yang tersaji di festival tahunan tersebut. Bahkan, pada FKS tahun 2013, merupakan masa jayanya saat berjualan. Dalam satu hari berjualan mulai pukul 16.00-22.00 WIB, kedainya bisa mengantongi omzet hingga Rp40 juta.

"Waktu itu memamg temanya Minang ya, jadi Martabak Kubang ini jadi yang favorit," kata Haji Iwan.

Meski omzetnya usai COVID menurun, ia tetap setia menjadi tenant di Festival Kuliner Serpong tiap tahunnya. Meski tak sefantastis dulu, omzetnya dalam FKS 2026 ini cukup menjanjikan hingga memperoleh Rp8 juta per hari.

"Porsinya sekitar 120-an dalam sehari," jelasnya.

Kini, ia telah menurunkan ilmu racikan martabaknya kepada anak-anaknya. Ia berharap, Martabak Kubang yang telah bertahan selama 50 tahun tetap terjaga turun temurun. "Sekarang sudah anak-anak, saya percaya saja. Ya ada rezeki untuk saya, rezeki anak-anak untuk anak-anak kan gitu. Jadi kebetulan anak-anak kalau benar-benar dia sungguh-sungguh, kami modalin," katanya.

Selain Martabak Kubang, ia juga menyediakan menu khas Minang lain seperti roti canai, teh talua, nasi dan mie goreng kubang, dan masih banyak lagi.

Dalam FKS 2026, nuansa Sumatera tidak hanya hadir lewat makanan. Area festival dilengkapi dekorasi tematik seperti miniatur Jam Gadang, rumah adat, serta ornamen tiga dimensi yang memperkuat suasana perjalanan melintasi berbagai daerah di Sumatera.

Pengunjung dapat melihat berbagai representasi budaya sekaligus mencicipi makanan dan minuman yang dibawa langsung oleh para pelaku kuliner.

Rangkaian acara diisi dengan penampilan sejumlah musisi Tanah Air, di antaranya Geisha, RNB Trio, Vierratale, Ovhi Firsty, Adrian Khalif, Rany Simbolon, dan Barasuara. "Dari 90 tenant yang kami hadirkan, 57 di antaranya itu autentik dari lintas Sumatra, karena kami menerjunkan tim enam bulan sebelumnya untuk mengkurasi tenant yang akan dihadirkan ke sini," ujar Center Director Summarecon Mall Serpong, Finnah Ngadio.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article