Jasad Surakman Ditemukan, Basarnas Banten Tak Buka Lagi Operasi SAR

Basarnas Banten tidak membuka kembali operasi SAR korban hilang kapal Arupadhatu di Selat Sunda setelah pencarian tujuh hari dan perpanjangan tiga hari tanpa tanda korban lain.
Dalam pencarian, tim menemukan jenazah Surakman pada 12 September 2026. Operasi besar-besaran untuk lima jurnalis dan tiga awak kapal resmi dihentikan 17 September.
Basarnas tetap memantau melalui e-broadcast dan maklumat pelayaran, melibatkan VTS, radio pantai, nelayan, kapal melintas, serta masyarakat pesisir Lampung.
Serang, IDN Times - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten memastikan tidak membuka kembali operasi pencarian terhadap korban hilang dalam kecelakaan speedboat Arupadhatu 1 di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), Selat Sunda. Keputusan tersebut diambil setelah operasi SAR sebelumnya telah diperpanjang dan tidak lagi menemukan tanda-tanda korban.
Kepala Kantor Basarnas Banten, Amrad, mengatakan operasi pencarian telah dilakukan sesuai ketentuan selama tujuh hari dan sempat diperpanjang selama tiga hari. Dalam operasi tersebut, tim SAR menemukan satu jenazah yang kemudian diketahui bernama Surakman pada 12 September 2026.
“Secara aturan pencarian kami itu terlaksana selama 7 hari. Dalam 7 hari kita sudah perpanjang 3 hari. Di 7 hari itu kita menemukan jenazah pada tanggal 12. Nah, sampai tanggal 14 setelah evaluasi kita perpanjang 3 hari. Setelah 3 hari itu tidak ada tanda-tanda korban,” kata Amrad dalam konferensi pers di Kantor Polda Banten, Rabu (23/9/2026).
1. Basarnas lanjutkan pemantauan lewat informasi pelayaran

Petugas mengevakuasi jenazah Surakman alias Sukarman (60) pada 12 September 2026 di perairan Bengkulu. (Dok. Basarnas Lampung). Amrad mengatakan, setelah masa perpanjangan operasi berakhir dan tidak ditemukan tanda-tanda korban lainnya, Basarnas melakukan langkah lanjutan dengan menyebarkan informasi kepada kapal maupun masyarakat yang berada di sekitar wilayah pencarian.
“Oleh karena itu, sebagai tindak lanjut pihaknya telah menyebarkan e-broadcast dan maklumat pelayaran (mapel) untuk kapal-kapal yang melintas,” ujarnya.
Informasi tersebut disebarkan melalui sejumlah jaringan yang berhubungan dengan aktivitas pelayaran dan masyarakat pesisir. Basarnas juga melibatkan Vessel Traffic Service (VTS) dan stasiun radio pantai untuk membantu menyampaikan informasi.
“Jadi e-broadcast yang kita lakukan ini termasuk pemapelan itu, kami libatkan dengan VTS, termasuk stasiun radio pantai, termasuk para nelayan, termasuk para masyarakat yang di sekitar pesisir, warga pesisir pesisir di sekitar Lampung, dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda disampaikan di informasi tersebut. Termasuk transpor-transportasi yang melintas wilayah sekitar lokasi kejadian,” tutur Amrad.
2. Operasi SAR besar-besaran sebelumnya telah dihentikan

Petugas mengevakuasi jenazah Surakman alias Sukarman (60) pada 12 September 2026 di perairan Bengkulu. (Dok. Basarnas Lampung). Sebelumnya, operasi SAR besar-besaran untuk mencari lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, resmi dihentikan pada Kamis (17/9/2026).
Kelima jurnalis tersebut berada di kapal Arupadhatu untuk melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau. Dalam proses pencarian, tim SAR menemukan sejumlah informasi terkait keberadaan korban hingga akhirnya satu jenazah ditemukan pada 12 September.
Setelah operasi diperpanjang selama tiga hari dan tidak ditemukan tanda-tanda korban lainnya, Basarnas tidak kembali membuka operasi pencarian. Pemantauan tetap dilakukan melalui penyebaran informasi kepada kapal-kapal yang melintas serta masyarakat di wilayah pesisir.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















