Sungai Cisadane Tercemar, Kehidupan Terancam

Sungai Cisadane menghadapi risiko pencemaran dari limbah domestik, industri, peternakan, pertanian, dan sampah; penelitian khusus diperlukan untuk memetakan sumber serta tingkat bahayanya.
Ekspansi pusat data di Tangerang berpotensi menambah kebutuhan air, sehingga pemerintah diminta memastikan pasokan industri tidak mengganggu kebutuhan warga dan daya dukung lingkungan.
Cisadane pernah menjadi pusat air, transportasi, ekonomi, dan interaksi warga Serpong; pemulihannya memerlukan data lingkungan, dokumentasi sejarah, serta koordinasi lintas wilayah.
Tangerang Selatan, IDN Times – Sungai Cisadane menghadapi tekanan lingkungan seiring pesatnya pembangunan kawasan perkotaan dan industri di Tangerang Raya. Persoalan limbah domestik, aktivitas industri, penampungan sampah, hingga kebutuhan air untuk industri pusat data dinilai berpotensi memperburuk kondisi sungai jika tidak diimbangi pengawasan dan kebijakan tata ruang yang berpihak pada lingkungan.
Ancaman tersebut menjadi sorotan dalam diskusi terbuka bertema Sungai Cisadane: Antara Urat Nadi Kehidupan dan Saluran Buang Perkotaan di Rumah Makan Lembah Mas Jaya, Tangerang Selatan.
Jurnalis sekaligus pengamat manajemen lingkungan, Asnil Bambani, mengatakan perlindungan Cisadane tidak bisa hanya berfokus pada penanganan sampah. Pemerintah juga perlu memperhatikan perubahan fungsi lahan, aktivitas industri, serta daya dukung lingkungan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS).
Menurutnya, Cisadane memiliki peran strategis bagi kehidupan masyarakat di wilayah Jawa Barat bagian barat, termasuk Tangerang dan sekitarnya.
“Sungai ini adalah inti peradaban di wilayah ini dan bisa dijadikan sentral dari kehidupan yang ada di Pulau Jawa bagian barat ini,” kata Asnil, Minggu (8/11/2026).
1. Limbah domestik hingga industri berpotensi cemari sungai

Belasan Ton Pestisida Terbakar di Gudang BSD, Cemari Sungai Cisadane (IDN Times/Muhamad Iqbal) Asnil mengingatkan, pencemaran sungai dapat berdampak panjang terhadap kesehatan manusia. Zat berbahaya seperti logam berat berpotensi mengendap di lingkungan, diserap organisme, kemudian masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.
Ia mencontohkan pengalamannya saat melakukan peliputan di kawasan industri kertas di Karawang. Berdasarkan penelitian yang diketahuinya, limbah industri di kawasan tersebut diduga mengandung arsenik. Zat itu dapat diserap tanaman, termasuk padi, kemudian berpindah ke hewan dan berpotensi masuk ke tubuh manusia.
“Ketika kita meracuni air, ya kita akan kembali mendapatkan petaka tersebut,” ujarnya.
Asnil juga memaparkan hasil penelitian bersama sejumlah rekannya di Sungai Citarum pada 2023. Dalam penelitian manajemen lingkungan tersebut, limbah domestik ditemukan sebagai salah satu sumber pencemaran terbesar, disusul aktivitas industri, peternakan, dan pertanian.
Namun, ia menegaskan temuan di Citarum tidak bisa langsung disamakan dengan kondisi Cisadane. Penelitian khusus tetap diperlukan untuk mengidentifikasi sumber dan tingkat pencemaran di sepanjang DAS Cisadane.
“Dari temuan saya yang di Citarum, yang paling banyak mencemari itu adalah limbah rumah tangga. Kalau saya nggak tahu di Cisadane itu apa,” tuturnya.
Menurut Asnil, penelitian perlu mencakup aktivitas permukiman, industri, peternakan, dan pertanian. Pemantauan kualitas air juga penting untuk mengetahui kandungan zat berbahaya yang berpotensi mengancam ekosistem dan kesehatan masyarakat.
Ia turut menyinggung peristiwa keruntuhan bangunan penahan TPA Cipeucang atau tanggul di kawasan Cisadane sekitar 2019 yang menyebabkan material sampah menumpuk. Menurutnya, material tersebut perlu diuji untuk memastikan ada atau tidaknya kandungan zat berbahaya.
2. Ekspansi data center berpotensi tambah beban kebutuhan air

Dokumentasi - Daratan di Muara Sungai Cisadane Berubah Jadi Pulau Sampah (IDN Times/Candra Irawan) Selain persoalan limbah, Asnil menyoroti perkembangan industri pusat data atau data center di Tangerang. Industri tersebut membutuhkan pasokan air, terutama untuk mendukung sistem pendinginan fasilitas.
Ia menyebut investasi pembangunan pusat data senilai Rp3,1 triliun di Tangerang sebagai salah satu hal yang perlu diperhitungkan pemerintah daerah. Menurutnya, ekspansi industri harus disertai perencanaan sumber air agar tidak mengganggu kebutuhan masyarakat dan daya dukung lingkungan.
“Tangerang itu kedatangan investasi Rp3,1 triliun untuk membangun data center. Nah, data center ini adalah industri yang paling membutuhkan air. Dapat dari mana airnya? Kalau bukan dari air Cisadane?” ujarnya.
Asnil juga mencontohkan konflik antara industri pusat data dan masyarakat di sejumlah wilayah Amerika Serikat akibat tingginya kebutuhan air.
Ia meminta pemerintah memastikan sumber pasokan air industri sebelum memberikan ruang bagi ekspansi investasi. Menurutnya, kepentingan ekonomi tidak boleh mengabaikan keberlanjutan sumber daya air.
Asnil juga mengkritisi normalisasi sungai yang hanya berorientasi mempercepat aliran air menuju laut. Pengelolaan sungai, kata dia, harus tetap mempertahankan fungsi ekologis kawasan sekitar agar air dapat meresap ke dalam tanah.
“Air yang seharusnya bisa menjadi energi, kita buang langsung ke laut. Itu yang terjadi di Citarum,” katanya.
Ia mendorong pemulihan Cisadane dilakukan berdasarkan penelitian dan karakteristik ekosistem DAS, termasuk perlindungan habitat serta penggunaan vegetasi yang sesuai dengan lingkungan setempat.
3. Cisadane pernah jadi pusat kehidupan masyarakat Serpong

Warga Tangsel terpaksa mencuci pakaian di Sungai Cisadane akibat kekeringan (IDN Times/Muhamad Iqbal) Persoalan lingkungan Cisadane juga berkaitan dengan perubahan hubungan masyarakat terhadap sungai. Penggiat sejarah Serpong, Syahrudin alias Mang Iging, mengatakan Cisadane dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat sebelum kawasan perkotaan dan jaringan jalan raya berkembang.
Sungai tersebut bukan hanya menjadi sumber air, tetapi juga jalur transportasi, pusat kegiatan ekonomi, dan ruang interaksi sosial warga.
“Bicara Cisadane, sudah pasti itu warisan peradaban. Jauh sebelum seperti sekarang ini, Cisadane sebenarnya merupakan tampak muka. Sebelum ada jalan raya, bahkan sebelum masa Hindia Belanda,” kata Mang Iging.
Ia mengingat, masyarakat dahulu memanfaatkan sungai sebagai jalur penghubung kawasan hulu dan hilir. Aktivitas ekonomi tradisional seperti pembakaran kapur atau dikenal sebagai jebongan juga pernah berkembang di Serpong.
Kedekatan masyarakat dengan Cisadane bahkan masih terasa hingga sekitar dekade 1990-an. Saat itu, warga masih menggunakan sungai untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk mandi dan membersihkan diri menjelang Ramadan.
“Kalau bicara masa lalu yang saya rasakan, Cisadane memang menjadi sentral. Sampai tahun 1990-an ke belakang, kami masih melakukan banyak aktivitas di sana. Sebelum ada Cipeucang, kami mandi di sungai, bahkan menjelang bulan puasa,” ungkapnya.
Namun, perkembangan permukiman dan infrastruktur perkotaan mengubah wajah sungai sekaligus hubungan masyarakat dengan lingkungan tersebut.
Mang Iging mengakui kondisi Cisadane saat ini tidak lagi sama dengan yang dikenalnya pada masa lalu. Meski demikian, ia tidak ingin berspekulasi mengenai tingkat maupun sumber pencemaran karena hal itu membutuhkan penelitian dan keterangan pihak yang berkompeten.
Ia menilai dokumentasi sejarah dan kesaksian warga perlu dipertemukan dengan data lingkungan terkini. Dengan begitu, perubahan kondisi sungai dapat diketahui secara lebih menyeluruh dan menjadi dasar penyusunan langkah pemulihan.
Menurutnya, pengelolaan Cisadane juga membutuhkan koordinasi lintas wilayah karena aliran sungai melintasi sejumlah daerah. Kebijakan satu pemerintah daerah dapat berdampak terhadap kawasan lain yang berada di sepanjang alirannya.
“Memang harus ada komunitas khusus Cisadane. Potensinya sangat besar. Cisadane itu seharusnya menjadi tampak muka, bukan tampak belakang,” tegasnya.





















