Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kronologi Sinyal Jurnalis Hilang Sempat Terdeteksi di Pulau Sebesi
Wamenkomdigi Kerahkan Operator Seluler Cari Jurnalis di Selat Sunda (IDN Times/Muhamad Iqbal)
  • Sinyal ponsel salah satu jurnalis hilang sempat terdeteksi sekali pada hari kedua pencarian delapan orang dari speedboat yang putus kontak di Selat Sunda.
  • Tim SAR, Komdigi, dan kepolisian melacak koordinat sinyal ke depan masjid di Pulau Sebesi, tetapi warga sekitar tidak menemukan orang yang dicari.
  • Basarnas belum dapat memastikan apakah sinyal tersebut false alert, karena penilaian validitas sinyal menjadi kewenangan Komdigi atau TIK kepolisian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sinyal ponsel seorang jurnalis yang hilang sempat muncul saat tim mencari delapan orang di Selat Sunda. Sinyal itu mengarah ke depan masjid di Pulau Sebesi. Tim SAR, Komdigi, dan polisi lalu mencari di sana. Warga juga ditanya, tapi orangnya tidak ada. Sekarang sinyal itu sudah tidak muncul lagi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah ketidakpastian pencarian, jejak sinyal yang sempat muncul menunjukkan bahwa pelacakan dilakukan melalui koordinasi lintas pihak. Tindak lanjut Tim SAR ke lokasi serta verifikasi dengan warga mencerminkan proses yang berhati-hati, sementara keterbukaan mengenai keterbatasan data menjaga pencarian tetap berpijak pada informasi yang dapat diuji.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pandeglang, IDN Times - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkap adanya sinyal ponsel salah satu jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Informasi tersebut disampaikan Nezar saat mengunjungi posko evakuasi di Carita, Kabupaten Pandeglang, Sabtu (12/9/2026).

Sinyal ponsel tersebut sempat terdeteksi pada hari kedua pencarian delapan orang yang hilang setelah speedboat yang mereka tumpangi lost contact di Perairan Selat Sunda.

Informasi mengenai sinyal itu kemudian ditindaklanjuti oleh Tim SAR bersama pihak terkait untuk melacak titik koordinatnya.

1. Sinyal hanya muncul sekali pada hari kedua pencarian

Tim gabungan Basarnas melakukan pencarian lima jurnalis yang hilang kontak di perairan Gunung Anak Krakatau (GAK) memasuki hari kelima. (Dokumentasi Basarnas)

Ahli Muda Bidang Kecelakaan Pelayaran dan Penerbangan Basarnas, Rangga Aribowo mengatakan, sinyal ponsel salah satu korban sempat tertangkap pada hari kedua pencarian.

Namun, setelah kemunculan tersebut, sinyal dari ponsel yang dimaksud tidak kembali terdeteksi.

“Kalau sinyal itu memang sempat muncul di hari kedua. Setelah itu tidak ada lagi,” kata Rangga saat berjaga di posko.

Menurutnya, proses pelacakan titik sinyal dilakukan melalui kerja sama sejumlah pihak yang memiliki kewenangan, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta kepolisian.

2. Titik koordinat mengarah ke depan masjid di Sebesi

Tim SAR Lampung terus melakukan pencarian terhadap jurnalis hilang kontak di perairan Selat Sunda. (Dok. Basarnas Lampung).

Hasil pelacakan kemudian menghasilkan satu titik koordinat yang mengarah ke wilayah Pulau Sebesi.

Rangga mengatakan titik tersebut berada di depan sebuah masjid, tepatnya di area jalan dan pintu pagar.

Tim kemudian melakukan verifikasi ke lokasi dengan meminta informasi dari warga sekitar. Namun, tidak ditemukan orang yang dicari di titik tersebut.

“Setelah kita tracking, koordinatnya mengarah ke depan masjid, di area jalan dan pintu pagar. Kita cek ke warga sekitar, tapi tidak ditemukan orang yang kita cari,” ujarnya.

3. Belum bisa dipastikan false signal

KRI Lauser 924 TNI AL tampak dari kejauhan saat mencari speedboat yang mengangkut lima jurnalis dan tiga awak kapal di sekitar Gunung Anak Krakatau, Kamis (10/9/2026).

Rangga mengatakan, kemunculan sinyal tersebut hanya terjadi satu kali. Setelah itu, tidak ada lagi sinyal yang terdeteksi dari ponsel tersebut.

Terkait kemungkinan sinyal tersebut merupakan false alert atau kesalahan sistem, Basarnas tidak dapat memastikan hal tersebut.

Menurut Rangga, kewenangan untuk menentukan validitas sinyal berada pada pihak Komdigi atau bagian teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kepolisian.

“Kalau itu false alert atau false signal, itu kewenangan Komdigi atau TIK kepolisian,” katanya.

Editorial Team

Related Article