Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Meroket! ISPA 2026 di Banten Tembus 1,9 Juta Kasus

Kota Serang
Meroket! ISPA 2026 di Banten Tembus 1,9 Juta Kasus
Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa
  • Kasus ISPA di Banten melonjak dari 745.797 pada 2025 menjadi 1.939.656 pada 2026, sehingga DPRD meminta pemerintah memperkuat pencegahan dan mengevaluasi pemicunya.
  • Kabupaten Tangerang mencatat kasus tertinggi, 521.265 kasus. DPRD mendorong deteksi dini, edukasi, pemantauan kualitas udara, kesiapan layanan kesehatan, serta perlindungan kelompok rentan.
  • Dinkes Banten menyebut kemarau panjang berkontribusi pada peningkatan ISPA. Masyarakat diimbau menerapkan PHBS, cukup istirahat, berolahraga, makan bergizi, dan memperbanyak minum air putih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Serang, IDN Times – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Banten melonjak tajam. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten, kasus ISPA meningkat dari 745.797 kasus pada 2025 menjadi 1.939.656 kasus pada 2026.

Lonjakan tersebut disoroti DPRD Banten. Pemerintah daerah diminta tidak hanya fokus mengobati masyarakat yang sudah terserang ISPA, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan dan mengevaluasi berbagai faktor memicu peningkatan kasus.

Anggota Komisi V DPRD Banten, Yeremia Mendrofa, mengatakan kenaikan kasus tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan.

“Meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dari sekitar 745 ribu kasus menjadi 1,9 juta kasus merupakan kondisi yang harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan,” kata Yeremia, Selasa (11/8/2026).

  1. 1. Kabupaten Tangerang sumbang kasus ISPA tertinggi

    Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa
    Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa

    Berdasarkan data Dinkes Banten, Kabupaten Tangerang menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 521.265 kasus.

    Disusul Kabupaten Serang sebanyak 322.255 kasus, Kabupaten Lebak 244.314 kasus, Kabupaten Pandeglang 236.345 kasus, Kota Tangerang 208.586 kasus, Kota Tangerang Selatan 201.574 kasus, Kota Cilegon 118.101 kasus, dan Kota Serang 87.216 kasus.

    Menurut Yeremia, peningkatan kasus tersebut perlu diikuti evaluasi menyeluruh untuk mengetahui faktor yang berkontribusi terhadap lonjakan ISPA. Ia menyebut, perubahan cuaca, polusi udara, kepadatan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta berbagai faktor risiko lainnya perlu diperiksa secara serius.

    “Pemerintah perlu segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap faktor penyebab peningkatan kasus ISPA. Upaya penanganan tidak boleh hanya bersifat kuratif atau mengobati pasien, tetapi harus diperkuat melalui langkah preventif,” ujarnya.

  2. 2. Jangan tunggu warga sakit baru ditangani

    Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa
    Ilustrasi ISPA. IDN Times/ istimewa

    Yeremia meminta Dinkes Banten bersama dinas kesehatan kabupaten dan kota meningkatkan deteksi dini serta edukasi kepada masyarakat. Pemantauan kualitas udara juga dinilai perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya mengantisipasi risiko gangguan pernapasan.

    Selain itu, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan harus dipastikan untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya jumlah pasien. Kelompok rentan seperti balita, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta juga diminta mendapat perhatian lebih.

    “Dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota perlu meningkatkan deteksi dini, edukasi kepada masyarakat, pemantauan kualitas udara, serta memastikan fasilitas pelayanan kesehatan siap menghadapi peningkatan jumlah pasien. Kelompok rentan harus menjadi prioritas perlindungan,” katanya.

    Menurut Yeremia, persoalan ISPA juga tidak bisa hanya diselesaikan dari sektor kesehatan. Pemerintah perlu memperkuat koordinasi lintas sektor karena gangguan pernapasan berkaitan dengan kondisi lingkungan, transportasi, aktivitas industri, hingga tata kelola kawasan perkotaan.

    Karena itu, penanganan ISPA membutuhkan kebijakan terintegrasi antara pemerintah daerah, sektor lingkungan, transportasi, industri, serta pemangku kepentingan lainnya.

    “Kenaikan kasus yang signifikan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang konkret agar masyarakat tidak terus menjadi korban dampak buruk lingkungan dan meningkatnya faktor risiko penyakit pernapasan,” kata Yeremia.

  3. 3. Dinkes sebut kemarau panjang picu ISPA

    20260126_173645.jpg
    Kepala Dinas Kesehatan Banten Ati Pramudji (Dok. Khaerul Anwar)

    Kepala Dinkes Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan, peningkatan kasus ISPA terjadi di tengah musim kemarau yang berlangsung cukup panjang. Menurut Ati, kondisi tersebut dapat membuat daya tahan tubuh sebagian masyarakat menurun sehingga risiko terserang penyakit saluran pernapasan ikut meningkat.

    “Kasusnya memang sedang meningkat. Karena di musim kemarau panjang, apalagi saat ini masyarakat dengan kondisi kemarau daya tahan tubuhnya mudah menurun, maka kasus ISPA saat ini di setiap puskesmas mengalami peningkatan,” kata Ati.

    Ia pun mengimbau masyarakat lebih disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk menekan risiko penularan maupun mencegah munculnya gejala ISPA. Masyarakat juga diminta mencukupi waktu istirahat, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, serta memperbanyak minum air putih agar kondisi tubuh tetap prima selama musim kemarau.

    “Setiap orang harus mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Selalu cuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, cukup istirahat, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, serta memperbanyak minum air putih,” kata Ati.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More