Ilustrasi tawuran.(Dok.Istimewa)
Program pembinaan tersebut menjadi yang pertama kali diterapkan Pemprov Banten dengan melibatkan TNI untuk siswa SMA/SMK.
Jamaluddin mengakui program tersebut memiliki konsep yang mirip dengan program siswa masuk barak yang sebelumnya diterapkan di Jawa Barat. Namun, ia menegaskan program di Banten bukan untuk memberikan pendidikan militer kepada siswa.
“Kalau sewaktu saya jadi Kepala Dinas Kota Tangerang pernah saya lakukan untuk anak SMP. Kali ini anak SMA, baru kali ini, tahun ini kita mulai,” ujarnya.
Menurut Jamaluddin, salah satu kriteria siswa yang akan mengikuti pembinaan adalah mereka yang memiliki tingkat kehadiran rendah di sekolah. Pembinaan diharapkan dapat memperkuat kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemandirian siswa.
Selain siswa yang membutuhkan pembinaan, program tersebut juga akan melibatkan pengurus OSIS dan MPK serta siswa yang dinilai memiliki potensi kepemimpinan.
Jamaluddin sendiri enggan menyebut siswa sasaran program sebagai siswa bermasalah. Ia memilih menyebut mereka sebagai anak-anak yang “istimewa” dan membutuhkan pembinaan lebih personal.
“Ya janganlah, saya yang ngomong begitu kan. Anak-anak yang istimewa lah menurut saya, yang perlu ada pembinaan secara pribadi di sekolah pembinaan (dari TNI), sehingga penguatannya ada di. Ya saya minta TNI membantu kami untuk bagaimana ke depan anak-anak itu bisa berubah,” katanya.