Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ada 2 Gumuk Daratan di Sekitar Anak Krakatau, Benarkah Cucu Krakatau?
Penampakan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Senin (21/9/2026). (Dok. Istimewa)
  • Dua gumuk daratan di barat laut dan tenggara Anak Krakatau belum dapat disebut pulau baru atau “cucu Krakatau”; kemungkinan terbentuk dari akumulasi material erupsi di perairan dangkal.

  • Ukuran dan ketahanan gumuk bergantung pada aktivitas vulkanik serta erosi: pasokan erupsi dapat memperluas dan menguatkannya, sedangkan gelombang, abrasi, longsoran, atau erupsi besar dapat mengubahnya.

  • Asal dua gumuk masih memerlukan verifikasi melalui observasi lapangan, batimetri, citra satelit, dan data vulkanologi; masyarakat diminta mengikuti informasi resmi PVMBG serta rekomendasi keselamatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Serang, IDN Times - Kemunculan dua gumuk daratan di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, menarik perhatian publik. Fenomena tersebut bahkan memunculkan spekulasi soal kemungkinan lahirnya gunung api baru yang disebut-sebut sebagai “cucu Krakatau”.

Namun, edukator mitigasi bencana sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono mengatakan, fenomena tersebut belum bisa langsung disebut sebagai dua pulau baru, terlebih gunung api baru.

Menurutnya, dua gumuk daratan yang terdeteksi di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau dapat merupakan hasil akumulasi material erupsi yang mencapai perairan dangkal hingga kemudian muncul ke atas permukaan laut.

1. Belum bisa disebut gunung api baru

Tim SAR mendokumentasikan lokasi dugaan penampakan temuan benda putih di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau. (Dok. Basarnas Lampung).

Daryono menjelaskan, kemunculan daratan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya gunung api independen. Material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava dari aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat menumpuk secara bertahap di perairan.

“Secara sains kita belum boleh buru-buru menyebutnya dua pulau baru, apalagi ‘cucu Krakatau’,” kata Daryono.

Menurutnya, material hasil erupsi dapat terakumulasi di wilayah perairan yang relatif dangkal. Seiring meningkatnya aktivitas vulkanik, tumpukan material tersebut bisa menyembul hingga ke atas permukaan laut.

Daryono menjelaskan, proses terbentuknya daratan baru di sekitar Anak Krakatau dapat dipengaruhi kombinasi faktor geologis dan oseanografis.

Dasar laut di kawasan kaldera purba sisa letusan Krakatau 1883 tergolong dangkal. Kondisi tersebut memungkinkan material erupsi lebih cepat menumpuk.

Selain itu, lontaran material piroklastik dan aliran lava saat erupsi dapat mengarah ke sektor tertentu. Dinamika arus dan gelombang laut juga dapat memindahkan material erosi ringan hingga terkonsentrasi di wilayah perairan yang lebih tenang.

2. Daratan bisa membesar atau kembali terkikis

Potret erupsi Gunung Anak Krakatau dari satelit. (dok. Badan Geologi Kementerian ESDM)

Keberadaan gumuk daratan tersebut juga belum tentu permanen. Perkembangannya akan dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dan proses erosi.

Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru berpotensi membuat endapan tersebut semakin luas. Struktur juga dapat menjadi lebih kuat apabila tertutup lava yang kemudian membeku menjadi batuan.

Sebaliknya, apabila aktivitas erupsi berhenti, gelombang dan abrasi dapat mengikis material yang belum padat. Bahkan, longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar berpotensi mengubah atau menghancurkan struktur muda tersebut.

3. Perlu verifikasi untuk memastikan asalnya

Penampakan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Senin (21/9/2026). (IDN Times/Istimewa).

Daryono mengatakan, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah dua gumuk tersebut hanya berupa endapan vulkanik, bagian dari perubahan morfologi Anak Krakatau, atau berkaitan dengan pusat erupsi tertentu.

Verifikasi dapat dilakukan melalui pengamatan lapangan, pemetaan batimetri, analisis citra satelit secara berulang, serta data vulkanologi.

Karena itu, keberadaan dua gumuk tersebut dinilai menarik dari sisi ilmiah, tetapi belum menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa telah lahir dua gunung api baru.

Daryono mengimbau, masyarakat tidak mudah mempercayai informasi spekulatif yang beredar di media sosial terkait fenomena tersebut.

Masyarakat disarankan mengikuti informasi dari sumber resmi, termasuk Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan petugas.

Dengan memahami proses ilmiah di balik kemunculan daratan tersebut, masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak mengambil kesimpulan sebelum adanya hasil verifikasi lebih lanjut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article