Tangerang Selatan, IDN Times – Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memperketat pengawasan perusahaan penyalur pekerja migran Indonesia (PMI) untuk meminimalkan risiko eksploitasi tenaga kerja di luar negeri. Disnaker menegaskan hanya memfasilitasi perusahaan yang dinilai memiliki kapasitas dan memenuhi ketentuan dalam memberangkatkan calon pekerja migran.
Disnaker Tangsel Perketat Pengawasan Penyalur Pekerja Migran

1. Disnaker memfasilitasi dan mengawasi perusahaan penyalur
Kepala Disnaker Kota Tangsel, Sabam Maringan, mengatakan pihaknya tidak terlibat langsung dalam proses perekrutan calon pekerja migran. Peran Disnaker fokus pada pendampingan dan pengawasan terhadap perusahaan penyalur. Pendataan calon pekerja migran dilakukan langsung perusahaan yang menjadi mitra pemerintah.
“Pendataan (Pekerja Migran asal Tangsel) dilakukan langsung oleh pihak perusahaan, kita Disnaker hanya memfasilitasi (kebutuhan calon pekerja),” kata Sabam usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) program pelatihan kerja ke luar negeri di Galeri UMKM Tangsel, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, perhatian utama Disnaker adalah memastikan perusahaan penyalur memiliki kemampuan dan tanggung jawab dalam menempatkan pekerja migran.
“Terutama tanggung jawab kita itu supaya perusahaan ini benar-benar kapabel untuk melaksanakan tugas-tugasnya,” ujarnya.
2. Risiko eksploitasi pekerja migran masih tinggi
Sabam mengakui, sektor penempatan pekerja migran masih menjadi salah satu bidang ketenagakerjaan yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi.
“Karena masalah ketenagakerjaan ini salah satu bidang yang sebenarnya rawan. Rawan eksploitasi dan lain sebagainya,” ucapnya. Karena itu, Disnaker berupaya terus mendampingi perusahaan penyalur agar risiko yang dapat merugikan pekerja migran dapat ditekan.
“Ini jadi concern kita untuk tetap mendampingi, membersamai perusahaan yang mengirimkan anak-anak kita ke luar negeri supaya bisa menekan risiko,” katanya.
3. Pelatihan disesuaikan dengan negara dan bidang pekerjaan
Selain pelatihan bahasa, calon pekerja migran juga mendapatkan pelatihan teknis sesuai kebutuhan pekerjaan di negara tujuan.
“Selain bahasa, nanti tergantung job order yang dia minati. Kalau di bidang perhotelan ya pelatihannya di bidang perhotelan. Kalau di bidang rumah sakit, nanti belajar keperawatan, tenaga medis dan lain sebagainya,” ujar Sabam.
Ia menjelaskan durasi pelatihan berbeda-beda bergantung pada negara tujuan. Untuk Jepang, pelatihan bahasa bisa berlangsung hingga enam bulan karena peserta harus mempelajari huruf kanji. “Kalau pelatihan bahasa itu maksimum enam bulan. Kalau Jepang agak lebih lama karena harus belajar kanji,” katanya.
Sementara itu, peserta yang mengikuti pelatihan bahasa Inggris diperkirakan dapat diberangkatkan lebih cepat. “Tapi kalau Inggris mungkin dua sampai tiga bulan, bahkan ada yang lebih cepat. Yang kelas Inggris harusnya tahun ini sudah bisa berangkat,” tuturnya.
Sabam menambahkan, negara tujuan pekerja migran asal Tangsel disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan di luar negeri, di antaranya Turki, Inggris, Montenegro, hingga Amerika Serikat, selain sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.