Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Samuel J. D. Wattimena di Bandara Soekarno-Hatta (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
  • Desainer Samuel Wattimena mendorong Gen Z mengenali budaya dan potensi lokal, serta mengolah keunikan diri sebagai nilai jual tanpa sekadar mengikuti tren luar negeri.

  • Samuel menekankan perancang fesyen perlu menghadirkan narasi kuat dalam karya, mengangkat kebudayaan Indonesia, dan bersama membangun blueprint mode nasional jangka panjang.

  • Instalasi interaktif mode Indonesia di Terminal 3 Soekarno-Hatta berlangsung hingga 15 November 2026, menampilkan karya desainer, tenun tradisional, buku Mode Indonesia, dan fitur desain digital gratis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang, IDN Times — Industri fesyen tanah air terus berkembang seiring melesatnya minat generasi muda, khususnya Gen Z, dalam mengeksplorasi karya berbasis kebudayaan nusantara.

Desainer senior Indonesia, Samuel Wattimena membagikan pesan penting bagi anak muda yang berminat menekuni karier sebagai fashion designer. Pesan tersebut disampaikan di sela-sela peluncuran buku Mode Indonesia dan instalasi mode Indonesia di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang berlangsung hingga 15 November 2026.

"Kalau kemudian pikiran dari para pelaku kreatif di dunia fashion hanya bikin baju kemudian dijual di department store, kan sayang banget potensinya," kata Samuel, Kamis (5/11/2026).

1. Kenali potensi lokal, jangan jadi orang lain

Samuel J. D. Wattimena di Bandara Soekarno-Hatta (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Bagi Gen Z yang ingin terjun ke dunia perancangan busana, Samuel menekankan pentingnya mengenali akar budaya dan potensi tempat tinggal masing-masing. Menurutnya, identitas dan keunikan lokal menjadi nilai jual utama seorang desainer di industri fesyen.

"Hal yang paling harus dilakukan adalah kenali keberadaan kalian di mana. Jadi kalau kalian di Kalimantan, kalian di Papua, kalian di NTT, kalian di Makassar, di mana pun kalian berada, kenali keberadaan kalian di mana," ujar Samuel.

​Samuel memotivasi para desainer muda agar tidak hanya mengekor tren luar negeri atau menjadi peniru, melainkan percaya pada otentisitas diri sendiri. "Pelajari dan olah semampu kalian. Jangan wanna be somebody. Just be yourself. Karena keunikan diri itu adalah nilai jual," tegasnya.

2. Bawa narasi dan cerita di balik karya

Pengunjung di Bandara Soekarno-Hatta mencoba merancang busana di Instalasi Mode Indonesia Samuel Wattimena (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Selain mengasah teknik perancangan, Samuel mendorong perancang muda untuk memiliki narasi (storytelling) yang kuat dalam setiap koleksinya. Ia menilai peran desainer bukan sekadar memproduksi pakaian untuk dijual di toko, melainkan mengangkat identitas kebudayaan bangsa.

​"Seorang fashion designer kerjanya tidak hanya mendesain pakaian dan dijual. Tapi ada misi yang lebih besar, harus mampu mengangkat kebudayaan kita, terutama untuk kesejahteraan kita semua," kata Samuel.

​Ia pun berharap para pelaku kreatif generasi baru dapat bersama-sama membangun blueprint mode Indonesia untuk jangka panjang agar kekayaan budaya nusantara terolah dengan maksimal.

3. Instalasi mode Indonesia perkuat customer experience di Bandara Soekarno-Hatta

Pengunjung di Bandara Soekarno-Hatta mencoba merancang busana di Instalasi Mode Indonesia Samuel Wattimena (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Untuk lebih memperkenalkan industri fesyen kepada masyarakat umum, Samuel bekerja sama dengan In Journey Airports membuat sebuah instalasi interaktif yang bisa digunakan masyarakat secara umum. Dalam instalasi tersebut, Samuel juga memperkenalkan buku Mode Indonesia yang berisi rancangan hingga cerita dari 100 perancang mode di Indonesi yang telah berkiprah belasan hingga puluhan tahun.

Buku tersebut menampilkan sejarah hingga cerita perancang mode dari tahun 1950-an di Indonesia. Hal tersebut, kata Samuel menjadi penting untuk mengetahui sejarah orientasi perancang dan sistem kerja perancang mode dari masa ke masa.

"Karena perancang sekarang kan begitu banyak kemudahan, begitu banyak sekolah fashion. Pada tahun 1950, 1960, 1970an, itu praktis orang yang mau sekolah fashion itu harus di luar negeri. Saya termasuk yang beruntung, saya otodidak, saya pemenang Lomba Perancang Mode Femina Gadis tahun 79 tanpa latar belakang fashion, hanya karena kesukaan saya gambar," katanya.

Sementara, untuk instalasi di selasar Gate 3 Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta terdapat beberapa koleksinya yang ditampilkan, serta sebuah layar yang memungkinkan pengunjung untuk mendesain bajunya secara digital dan hasilnya ditampilkan di layar besar tersebut.

Direktur Komersial InJourney Airports, Veri Setiadi menuturkan, instalasi ini menampilkan beragam karya perancang nasional serta ragam kain tenun tradisional. Instalasi ini bisa digunakan pengunjung secara umum dan gratis tanpa dipungut biaya.

"Jadi bukan hanya buat penumpang yang mau berangkat, mereka yang mau jemput, mau ngantar, ataupun komunitas bandara yang tiap hari beraktivitas di bandara ini mereka juga bisa menikmati instalasi ini," jelasnya.

​Kehadiran instalasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi Bandara Soekarno-Hatta sebagai gerbang utama Indonesia dalam mempromosikan karya kreatif anak bangsa ke kancah internasional.

"Apalagi terdapat kain tenun juga yang dipajang, hingga karya UMKM seperti tas dari bahan-bahan bekas," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article