Pengunjung di Bandara Soekarno-Hatta mencoba merancang busana di Instalasi Mode Indonesia Samuel Wattimena (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Untuk lebih memperkenalkan industri fesyen kepada masyarakat umum, Samuel bekerja sama dengan In Journey Airports membuat sebuah instalasi interaktif yang bisa digunakan masyarakat secara umum. Dalam instalasi tersebut, Samuel juga memperkenalkan buku Mode Indonesia yang berisi rancangan hingga cerita dari 100 perancang mode di Indonesi yang telah berkiprah belasan hingga puluhan tahun.
Buku tersebut menampilkan sejarah hingga cerita perancang mode dari tahun 1950-an di Indonesia. Hal tersebut, kata Samuel menjadi penting untuk mengetahui sejarah orientasi perancang dan sistem kerja perancang mode dari masa ke masa.
"Karena perancang sekarang kan begitu banyak kemudahan, begitu banyak sekolah fashion. Pada tahun 1950, 1960, 1970an, itu praktis orang yang mau sekolah fashion itu harus di luar negeri. Saya termasuk yang beruntung, saya otodidak, saya pemenang Lomba Perancang Mode Femina Gadis tahun 79 tanpa latar belakang fashion, hanya karena kesukaan saya gambar," katanya.
Sementara, untuk instalasi di selasar Gate 3 Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta terdapat beberapa koleksinya yang ditampilkan, serta sebuah layar yang memungkinkan pengunjung untuk mendesain bajunya secara digital dan hasilnya ditampilkan di layar besar tersebut.
Direktur Komersial InJourney Airports, Veri Setiadi menuturkan, instalasi ini menampilkan beragam karya perancang nasional serta ragam kain tenun tradisional. Instalasi ini bisa digunakan pengunjung secara umum dan gratis tanpa dipungut biaya.
"Jadi bukan hanya buat penumpang yang mau berangkat, mereka yang mau jemput, mau ngantar, ataupun komunitas bandara yang tiap hari beraktivitas di bandara ini mereka juga bisa menikmati instalasi ini," jelasnya.
Kehadiran instalasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi Bandara Soekarno-Hatta sebagai gerbang utama Indonesia dalam mempromosikan karya kreatif anak bangsa ke kancah internasional.
"Apalagi terdapat kain tenun juga yang dipajang, hingga karya UMKM seperti tas dari bahan-bahan bekas," pungkasnya.