Istri Pemandu Jurnalis Ungkap Pesan Terakhir Suami Sebelum Hilang

- Heriyanto, pemandu wisata dalam speedboat Arupadhatu 1, hilang kontak bersama lima jurnalis dan dua kru setelah berangkat dari Dermaga Pagedongan menuju Gunung Anak Krakatau.
- Istri Heriyanto, Epi, menerima foto Krakatau pada 18.13 WIB dan sempat berkomunikasi hingga sekitar 18.20 WIB; pesan berikutnya tak mendapat balasan.
- Epi dan anaknya menyusuri pantai serta mencari informasi ke nelayan, sementara tim SAR gabungan menyisir Selat Sunda untuk menemukan delapan orang yang hilang.
Pandeglang, IDN Times - Senin (7/9/2026) sore seharusnya menjadi waktu kepulangan Heriyanto, pemandu wisata yang ikut dalam perjalanan lima jurnalis menuju Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Namun, hingga malam hari, Heriyanto tak kunjung kembali. Kecemasan pun mulai dirasakan sang istri, Epi.
Epi terus mencari kabar suaminya sejak speedboat yang membawa lima jurnalis dan tiga kru hilang kontak di perairan Gunung Anak Krakatau.
Epi mengatakan, suaminya bersama rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, sekitar pukul 14.00 WIB. Biasanya, perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau untuk keperluan peliputan hanya berlangsung beberapa jam.
"Paling jam 17.00-18.00 di hari itu juga jurnalisnya pulang. Bisa-bisa kata orang perahunya," kata Epi saat ditemui di Posko SAR Terpadu di Marina Carita, Rabu (9/9/2026).
Namun, hingga malam hari suaminya belum juga pulang. "Senin malam sudah khawatir karena kan gak nginep. Jam 8-9 (malam) biasanya sudah sampai, ini gak ada aja sampai pagi," katanya.
1. Terakhir komunikasi kirim foto Krakatau

5 jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda (Dok. Istimewa) Epi masih mengingat komunikasi terakhir dengan suaminya pada Senin sore. Saat berada di sekitar Gunung Anak Krakatau, suaminya sempat mengirimkan foto kepada Epi. Dalam foto tersebut terlihat Gunung Anak Krakatau.
"Terakhir komunikasi 18.13 magrib, di Krakatau kirim foto. Bagus Krakatau, kirim foto saja," ujarnya.
Epi kemudian membalas pesan tersebut. Tak lama berselang, komunikasi kembali terjadi sekitar pukul 18.20 WIB.
Epi sempat menanyakan kondisi suaminya dan perjalanan mereka. Namun, setelah itu pesan yang dikirimnya tak lagi mendapat balasan.
"Saya balas 18.35 Senin (7/9/2026) ceklis satu," katanya.
Epi kembali mengirim pesan dan menanyakan kapan rombongan akan pulang. Namun, tidak ada jawaban.
"Tanya lagi 18.35 pulang jam berapa, gak dibalas lagi," ujarnya.
Sejak saat itu, Epi mulai merasa ada sesuatu yang berbeda. Apalagi, suaminya seharusnya sudah kembali ke daratan pada malam tersebut.
Epi mengatakan, sejak awal dirinya mengetahui suaminya tidak berangkat dari Dermaga Marina seperti yang biasa dilakukan. Rombongan berangkat menggunakan kapal milik kepala desa dari Dermaga Pagedongan.
"Enggak ada yang tahu. Perasaan beda, berangkat dari Dermaga Pagedongan bukan dari Marina. Bawa kapal Pak Lurah," katanya.
Kegelisahan Epi semakin besar karena hingga pagi hari tidak ada kabar mengenai keberadaan suaminya. Dia kemudian mencoba mencari informasi kepada warga, nelayan, maupun pemandu wisata lain.
Epi bahkan sempat menunggu di kawasan Dermaga Marina untuk mencari informasi mengenai keberadaan suaminya.
"Udah nunggu di Dermaga Marina, mereka cari-cari di warga di mana rumah Bonsai. Udah terlanjur bayar, udah transfer. Bonsai baru pulang dari Peucang Minggu sore," tuturnya.
2. Cari suami hingga susuri pantai

Istri pemandu 5 jurnalis yang hilang di Selat Sunda (Dok. Khaerul Anwar) Sejak mengetahui adanya kabar hilang kontak, Epi terus berusaha mencari informasi. Dia menghubungi nelayan dan pemandu wisata lain untuk menanyakan apakah ada yang melihat kapal yang membawa suaminya.
Namun, jawaban yang diterima sama. Tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka.
"Dari kemarin berita simpang siur. Saya tanya ke nelayan dan guide lain, tanya Bonsai, mereka gak lihat di mana-mana," katanya.
Epi juga merasa heran karena jalur menuju Gunung Anak Krakatau merupakan jalur yang biasa dilalui kapal.
"Situ jalur kan Krakatau, kalau perahu ke sana pasti ketemu. Ke mana sih," ujarnya dengan nada khawatir.
Pencarian bahkan dilakukan Epi bersama anaknya. Mereka menyusuri pantai untuk mencari keberadaan Heriyanto.
"Saya cari sama anak, susuri pantai, cari dia gak ketemu," katanya.
Kepada anaknya, Epi hanya bisa mengajak terus mencari sang ayah.
"A, kok ayah belum pulang aja. Kita cari yuk. Ke Pasauran, ke Benda kita cari," tutur Epi.
3. Rombongan hanya bawa bekal seadanya

Istri pemandu 5 jurnalis menunjukan komunikasi terakhir dengan suami (Dok. Khaerul Anwar) Sebelum berangkat, rombongan disebut hanya membawa bekal untuk perjalanan singkat. Epi mengatakan, suaminya membawa satu dus air mineral, lima kotak makan, dan satu buah semangka.
"Bawa Aqua satu dus, lunch box lima dan semangka satu biji. Udah bawa itu doang," katanya.
Menurut Epi, bekal tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa perjalanan memang direncanakan untuk kembali pada hari yang sama, bukan untuk bermalam di sekitar Gunung Anak Krakatau. Namun, hingga Rabu (9/9/2026), Heriyanto bersama rombongan belum juga ditemukan.
Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap delapan orang yang hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Lima jurnalis yang berada dalam speedboat Arupadhatu 1 yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis freelance.
Sementara tiga kru kapal yakni Warta (55) sebagai kapten, Surakman (60) sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai pemandu wisata.
Kedelapan orang tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, menuju Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Laporan hilang kontak diterima Basarnas pada Selasa (8/9/2026).
Hingga Rabu (9/9/2026), tim SAR gabungan masih menyisir perairan Selat Sunda untuk menemukan speedboat Arupadhatu 1 beserta seluruh penumpangnya.
Sementara itu, Epi masih menunggu satu hal yang paling diharapkannya: suaminya pulang.
"Saya cari sama anak, susuri pantai, cari dia gak ketemu," ucapnya.













