Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jurnalis Hilang, Pemilik Klaim Speedboat Layak Jalan tapi Tak Ada Radio

Kab. Pandeglang
Jurnalis Hilang, Pemilik Klaim Speedboat Layak Jalan tapi Tak Ada Radio
5 jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda (Dok. Istimewa)
  • Pemilik Arupadhatu 1 menyatakan speedboat layak beroperasi, berizin, bermesin ganda, dan memiliki jaket pelampung, tetapi tidak dilengkapi radio komunikasi karena hanya mengandalkan telepon seluler.
  • Sandi baru mengetahui kapal hilang kontak pada Selasa siang setelah dihubungi polisi, lalu ikut melakukan pencarian mandiri melalui warga dan penjaga sekitar Anak Krakatau, Pulau Sebesi, hingga Lampung.
  • Arupadhatu 1 membawa lima jurnalis dan tiga kru dari Carita pada Senin pukul 14.00 WIB; hingga Rabu, tim SAR belum menemukan kapal atau delapan penumpangnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pandeglang, IDN Times - Pemilik speedboat Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis ke Gunung Anak Krakatau, Sandi Wiyasa, menyebut kapal tersebut dalam kondisi layak jalan sebelum berangkat pada Senin (7/9/2026).

Menurut Sandi, speedboat tersebut memiliki panjang sekitar 7 meter dengan lebar 2,2 meter. Kapal juga menggunakan dua mesin atau double engine serta dilengkapi jaket pelampung.

"Layak, masih layak jalan. Kita setiap tahun ada izinnya juga untuk kontrol dari syahbandar," kata Sandi saat ditemui di Posko SAR Terpadu di Marina Carita, Rabu (9/9/2026).

  1. 1. Biasa digunakan ke Krakatau dan Ujung Kulon

    Basarnas saat melakukan pencarian di sekitar Gunung Anak Krakatau (Dok. Basarnas)
    Basarnas saat melakukan pencarian di sekitar Gunung Anak Krakatau (Dok. Basarnas)

    Sandi mengatakan, Arupadhatu 1 memang biasa digunakan untuk perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau maupun kawasan Ujung Kulon. Sebelum membawa rombongan jurnalis, kapal tersebut juga baru kembali dari Ujung Kulon.

    Menurutnya, penggunaan dua mesin menjadi salah satu alasan kapal dinilai masih layak digunakan. Jika salah satu mesin mengalami gangguan, kapal masih dapat mengandalkan mesin lainnya.

    "Kalaupun misalnya kerusakan mungkin hanya ada satu, satu pasti hidup. Pengalaman kita enggak semuanya mati," ujarnya.

    Meski demikian, speedboat tersebut tidak dilengkapi perangkat radio komunikasi. Selama perjalanan, komunikasi hanya mengandalkan telepon seluler. "Enggak ada. Kita hanya dari handphone saja," kata Sandi.

  2. 2. Baru tahu kapal hilang kontak dari polisi

    Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat/pras.)
    Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat/pras.)

    Sandi mengaku baru mengetahui kapal dan rombongan tersebut hilang kontak pada Selasa (8/9/2026) siang. Informasi itu diterimanya setelah mendapat pemberitahuan dari Kapolsek yang menanyakan apakah dirinya mengenal kapten kapal yang membawa rombongan jurnalis dan belum kembali ke daratan.

    "Saya langsung dengan Kapolsek ke sini, ke Marina, ke Basarnas," ujarnya.

    Setelah mengetahui adanya laporan hilang kontak, Sandi bersama sejumlah pihak juga sempat melakukan pencarian secara mandiri.

    Pihaknya menghubungi sejumlah warga dan penjaga di sekitar Gunung Anak Krakatau. Komunikasi juga dilakukan dengan warga Pulau Sebesi hingga wilayah Lampung untuk mencari informasi mengenai keberadaan kapal.

    Namun, hingga Rabu (9/9/2026), belum ada informasi mengenai keberadaan Arupadhatu 1 maupun delapan orang yang berada di dalamnya.

    "Kalau sementara belum ada," katanya saat ditanya mengenai laporan dari nelayan yang melihat kapal tersebut.

  3. 3. Seharusnya sudah kembali Senin sore

    Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)
    Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Atet Dwi Pramadia)

    Sandi mengatakan, kapal seharusnya sudah kembali ke daratan pada Senin sore jika perjalanan hanya digunakan untuk keperluan peliputan.

    Menurutnya, perjalanan wisata dari Carita menuju Gunung Anak Krakatau hingga kembali ke daratan biasanya membutuhkan waktu lebih lama karena terdapat sejumlah aktivitas, seperti trekking, snorkeling, hingga makan siang.

    Sementara itu, rombongan jurnalis disebut hanya melakukan pengambilan gambar sehingga diperkirakan dapat kembali lebih cepat. "Harusnya sudah datang ke sini sekitar jam 5 atau jam 6," ujarnya.

    Hingga Rabu (9/9/2026), tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau.

    Lima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis freelance.

    Sementara tiga kru kapal yakni Warta (55) sebagai kapten, Surakman (60) sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.

    Kedelapan orang tersebut berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, menuju Gunung Anak Krakatau menggunakan speedboat Arupadhatu 1 pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

    Tim SAR kemudian melakukan pencarian menggunakan RIB 02 Banten dan KN SAR Tetuka. Namun, hingga operasi hari pertama berakhir, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang tersebut.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More