Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kekeringan Banten Tahun Ini Lebih Parah, 6 Wilayah Level Awas
Ilustrasi sawah (Dok. Istimewa/IDN Times)
  • Enam wilayah Banten berstatus Level Awas kekeringan meteorologis pada 11–20 September 2026: Kota Serang, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Serang, Lebak, dan Pandeglang.
  • Kekeringan 2026 diprediksi lebih parah dari 2025 karena puncak kemarau Juli–September berbarengan dengan El Niño sangat kuat; kondisi lebih basah diperkirakan mulai November.
  • BMKG meminta warga dan pemerintah mengantisipasi keterbatasan air, risiko pertanian, kebakaran terbuka, serta angin kencang dan gelombang tinggi di pesisir Pandeglang-Lebak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BBMKG Wilayah II mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis di Banten. Enam kabupaten/kota berstatus Level Awas pada Dasarian II September 2026, dengan kondisi diprediksi lebih kering dibandingkan 2025.
  • Who?
    BBMKG Wilayah II, dipimpin pelaksana tugas kepala Ana Oktavia Setiowati, menyampaikan peringatan kepada masyarakat, pemerintah daerah, nelayan, dan warga pesisir Banten.
  • Where?
    Level Awas berlaku di Kota Serang, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang. Tangerang Selatan berstatus Siaga, sedangkan Kota Cilegon berstatus Waspada.
  • When?
    Peringatan berlaku untuk Dasarian II September 2026, atau 11–20 September 2026. Banten diperkirakan berada pada puncak musim kemarau Juli hingga September, dengan peralihan lebih basah mulai terlihat pada November.
  • Why?
    Kekeringan dipengaruhi puncak musim kemarau dan fenomena El Niño berintensitas sangat kuat, yang menurunkan peluang hujan, memperbesar defisit curah hujan, serta meningkatkan risiko kekeringan meteorologis.
  • How?
    Status ditetapkan menggunakan Hari Tanpa Hujan, prakiraan curah hujan dasarian, dan Indeks Curah Hujan Terstandardisasi. Masyarakat diminta mengantisipasi keterbatasan air, tidak membakar lahan atau sampah, serta mewaspadai angin kencang dan gelombang tinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Banten sedang sangat kering karena musim kemarau dan El Niño kuat. Enam tempat sudah level awas, yaitu Serang, Tangerang, Lebak, dan Pandeglang. BMKG bilang hujan masih sedikit sampai sekitar November. Warga diminta hemat air dan jangan membakar sampah. Nelayan juga harus hati-hati karena angin dan ombak bisa besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Serang, IDN Times - Kekeringan meteorologis di Banten tahun ini diprediksi lebih parah dibandingkan 2025. Enam kabupaten/kota bahkan telah masuk status Level Awas pada Dasarian II September 2026.

Kondisi tersebut terjadi saat Banten masih berada di puncak musim kemarau dan bersamaan dengan fenomena El Niño yang berintensitas sangat kuat.

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II melalui akun Instagram resminya, @bmkgwilayah2, merilis peringatan dini kekeringan meteorologis untuk periode Dasarian II September atau 11–20 September 2026.

Peringatan tersebut membagi tingkat kerentanan kekeringan menjadi tiga level, yakni waspada, siaga, dan awas.

1. Enam wilayah Banten masuk level awas

Ilustrasi persawahan (Dok. Istimewa/IDN Times)

Dalam peta peringatan dini tersebut, enam daerah di Banten masuk status Level Awas. Wilayah itu yakni Kota Serang, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang.

Sementara itu, Kota Tangerang Selatan berada pada Level Siaga. Adapun Kota Cilegon masih berada pada Level Waspada.

Plt Kepala BBMKG Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati, mengatakan kondisi kekeringan meteorologis Banten pada 2026 diprediksi lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu faktor utamanya adalah pengaruh El Niño yang lebih kuat pada tahun ini.

“Kondisi kekeringan meteorologis pada 2026 diprediksi lebih kering dibandingkan tahun 2025. Salah satu faktor yang membedakan adalah pengaruh El Niño pada 2026 yang lebih kuat, sehingga berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap penurunan curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah Banten,” kata Ana, Rabu (16/9/2026).

2. Puncak kemarau bertemu El Niño

Petani mengeluh hasil pertanian membusuk akibat pencemaran sungai Ciujung (Dok. Khaerul Anwar)

Kondisi kering tersebut terjadi ketika Banten masih berada pada periode puncak musim kemarau. Secara umum, puncak musim kemarau Banten pada 2026 diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September.

Menurut Ana, kombinasi puncak musim kemarau dan El Niño membuat peluang terjadinya hujan semakin kecil. Kondisi itu memperbesar defisit curah hujan dan mendorong tingkat kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah.

Hingga Dasarian I September, seluruh wilayah Banten masih berada dalam periode musim kemarau. Kondisi kering tersebut juga belum diperkirakan segera berakhir. Berdasarkan prediksi curah hujan bulanan, awal peralihan menuju kondisi yang lebih basah baru mulai terlihat pada November 2026.

"Curah hujan pada periode tersebut diperkirakan berada pada kategori menengah, yakni sekitar 150–300 milimeter per bulan," katanya.

3. Warga diminta siap hadapi keterbatasan air

Ilustrasi persawahan (Dok. Istimewa/IDN Times)

Dengan kondisi tersebut, masyarakat dan pemerintah daerah diminta mengantisipasi keterbatasan air hingga memasuki periode transisi menuju musim hujan.

Dampak kekeringan berpotensi meluas, mulai dari ketersediaan air hingga sektor pertanian. Penurunan debit sungai dapat mengurangi pasokan air, sementara lahan pertanian yang bergantung pada curah hujan menghadapi risiko gangguan produksi hingga gagal panen.

“Dengan demikian, masyarakat dan pemerintah daerah masih perlu mengantisipasi potensi keterbatasan air hingga memasuki periode transisi menuju musim hujan,” kata Ana.

Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara terbuka dan meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang rentan mengalami kondisi kering.

Selain kekeringan, peningkatan kecepatan angin juga perlu diwaspadai. Kondisi tersebut berpotensi memicu gelombang tinggi di pesisir selatan Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.

Nelayan dan masyarakat pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan ketika terjadi angin kencang. Nelayan juga disarankan menunda aktivitas melaut serta mengamankan perahu dan sarana pendukung.

“Kondisi angin kencang juga dapat menyebabkan gelombang pecah yang lebih kuat di sepanjang garis pantai,” ujar Ana.

Status kekeringan meteorologis ditentukan berdasarkan sejumlah indikator. BMKG menggunakan Hari Tanpa Hujan (HTH), prakiraan probabilitas curah hujan dasarian, dan Indeks Curah Hujan Terstandardisasi sebagai indikator utama.

Semakin panjang periode tanpa hujan, semakin kuat indikasi kekeringan. Sementara semakin kecil peluang suatu wilayah memperoleh hujan dalam satu periode dasarian, semakin besar potensi kekeringannya.

Indeks Curah Hujan Terstandardisasi digunakan untuk melihat kondisi curah hujan dibandingkan dengan kondisi normal. Nilai yang semakin negatif menunjukkan kondisi yang semakin kering.

Salah satu kriteria untuk mencapai Level Awas adalah periode Hari Tanpa Hujan minimal 61 hari. Kriteria lainnya yakni prakiraan curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen dan atau nilai Indeks Curah Hujan Terstandardisasi paling tinggi minus 2,00.

Sementara Kota Cilegon yang masih berstatus Waspada dan Kota Tangerang Selatan yang berada di Level Siaga menunjukkan indikator kekeringan yang berbeda. Tangerang Selatan mengalami kondisi lebih kering dibandingkan Cilegon, tetapi belum memenuhi ambang Level Awas.

“Hal ini menunjukkan bahwa indikator kekeringan di Kota Tangerang Selatan telah menunjukkan kondisi yang lebih kering dibandingkan Kota Cilegon, namun belum mencapai ambang yang ditetapkan untuk Level Awas,” kata Ana.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article