Ilustrasi persawahan (Dok. Istimewa/IDN Times)
Dengan kondisi tersebut, masyarakat dan pemerintah daerah diminta mengantisipasi keterbatasan air hingga memasuki periode transisi menuju musim hujan.
Dampak kekeringan berpotensi meluas, mulai dari ketersediaan air hingga sektor pertanian. Penurunan debit sungai dapat mengurangi pasokan air, sementara lahan pertanian yang bergantung pada curah hujan menghadapi risiko gangguan produksi hingga gagal panen.
“Dengan demikian, masyarakat dan pemerintah daerah masih perlu mengantisipasi potensi keterbatasan air hingga memasuki periode transisi menuju musim hujan,” kata Ana.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara terbuka dan meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang rentan mengalami kondisi kering.
Selain kekeringan, peningkatan kecepatan angin juga perlu diwaspadai. Kondisi tersebut berpotensi memicu gelombang tinggi di pesisir selatan Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
Nelayan dan masyarakat pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan ketika terjadi angin kencang. Nelayan juga disarankan menunda aktivitas melaut serta mengamankan perahu dan sarana pendukung.
“Kondisi angin kencang juga dapat menyebabkan gelombang pecah yang lebih kuat di sepanjang garis pantai,” ujar Ana.
Status kekeringan meteorologis ditentukan berdasarkan sejumlah indikator. BMKG menggunakan Hari Tanpa Hujan (HTH), prakiraan probabilitas curah hujan dasarian, dan Indeks Curah Hujan Terstandardisasi sebagai indikator utama.
Semakin panjang periode tanpa hujan, semakin kuat indikasi kekeringan. Sementara semakin kecil peluang suatu wilayah memperoleh hujan dalam satu periode dasarian, semakin besar potensi kekeringannya.
Indeks Curah Hujan Terstandardisasi digunakan untuk melihat kondisi curah hujan dibandingkan dengan kondisi normal. Nilai yang semakin negatif menunjukkan kondisi yang semakin kering.
Salah satu kriteria untuk mencapai Level Awas adalah periode Hari Tanpa Hujan minimal 61 hari. Kriteria lainnya yakni prakiraan curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen dan atau nilai Indeks Curah Hujan Terstandardisasi paling tinggi minus 2,00.
Sementara Kota Cilegon yang masih berstatus Waspada dan Kota Tangerang Selatan yang berada di Level Siaga menunjukkan indikator kekeringan yang berbeda. Tangerang Selatan mengalami kondisi lebih kering dibandingkan Cilegon, tetapi belum memenuhi ambang Level Awas.
“Hal ini menunjukkan bahwa indikator kekeringan di Kota Tangerang Selatan telah menunjukkan kondisi yang lebih kering dibandingkan Kota Cilegon, namun belum mencapai ambang yang ditetapkan untuk Level Awas,” kata Ana.