InApps 2026 Dorong Aplikasi Lokal Jadi Tuan Rumah

- InApps 2026 mempertemukan developer, startup, industri, dan investor untuk memperkuat ekosistem digital; investasi subsektor aplikasi pada 2025 mencapai Rp54,18 triliun.
- Pemerintah menempatkan aplikasi sebagai penggerak ekonomi kreatif yang menghubungkan berbagai profesi, sementara ekonomi kreatif menyerap sekitar 27 juta tenaga kerja, 63 persennya Gen Z.
- Raffi Ahmad mendorong generasi muda meningkatkan kemampuan tanpa takut AI serta menekankan kolaborasi agar aplikasi lokal menguasai pasar domestik dan menembus pasar global.
Tangerang, IDN Times - Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, membuka gelaran Indonesia Application Summit (InApps) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Senin (14/9/2026). Mengusung fokus pemanfaatan teknologi bagi pertumbuhan ekonomi kreatif, forum strategis ini mempertemukan para developer, pelaku industri, startup, hingga investor untuk memperkuat ekosistem digital nasional.
Dalam paparannya, Teuku Riefky menyebut nilai investasi di Indonesia tahun 2025 tertinggi ada pada sektor digital dengan subsektor aplikasi yakni Rp54,18 triliun dari Rp183,01 triliun. Hal tersebut membuat Indonesia memiliki potensi besar untuk jadi ekosistem para pengembang aplikasi lokal.
"Tentu kita dalam forum ini juga ingin mempertemukan agar bagaimana hasil karya anak bangsa ini juga bisa berkolaborasi dengan teman-teman dari negara-negara sahabat, dari investor-investor internasional, dan juga bisa masuk tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga bisa masuk ke pasar global," jelasnya.
1. Aplikasi bukan sekadar produk teknologi, tapi penggerak ekonomi kreatif

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya membuka gelaran InApps 2026 di ICE BSD (IDN Times/Maya Aulia Aprlianti) Teuku Riefky menegaskan bahwa pengembangan aplikasi saat ini telah berkembang menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi kreatif yang saling terhubung. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas profesi agar sektor ini terus berkembang cepat.
“Ekosistemnya ini menghubungkan dari developer-nya, lalu designer-nya, lalu animatornya, musisinya, sineasnya juga, dan juga kreator konten, UMKM, dan lain-lain. Kalau kita tidak bisa beradaptasi dan kalau kita tidak bisa sinergi, sayang kalau kita melewatkan momen-momen yang seperti ini,” tambahnya.
2. Ekonomi kreatif sebagai akselerator ekonomi nasional

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya membuka gelaran InApps 2026 di ICE BSD (IDN Times/Maya Aulia Aprlianti) Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad mengingatkan agar semua pihak tidak memandang sebelah mata peran sektor ekonomi kreatif dalam perekonomian Indonesia. Apalagi, kata Raffi, ekonomi digital Indonesia saat ini memiliki angka yang sangat fantastis di tingkat regional.
“Dengan ekonomi digital yang sudah mendekati kurang lebih 130 miliar di tahun 2026 ini—130 miliar dolar loh, ini angkanya bukan main-main. Ini salah satu terbesar di Asia Tenggara, makanya di Indonesia harus menjadi tempat lahirnya aplikasi kelas dunia,” ujar Raffi Ahmad.
Selain itu, saat ini, ekonomi kreatif juga menjadi salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Tentunya, hal ini mendorong percepatan menuju Indonesia Emas.
“Ekonomi kreatif ini jangan dianggap sepele. Ekonomi kreatif justru ini yang sangat bisa akselerasi percepatan kemajuan yang luar biasa. Karena menyerap kurang lebih sekitar 27 juta tenaga kerja, dan yang paling penting, 63 persennya di antaranya berasal dari Gen Z,” ungkap Raffi.
3. Jangan takut pada AI, manusia punya hati
Menanggapi kekhawatiran anak muda terkait pesatnya kemajuan kecerdasan buatan (AI), Raffi mengingatkan agar generasi muda tetap percaya diri dan fokus meningkatkan kemampuan.
“Banyak anak-anak yang bilang, anak-anak Gen Z, anak-anak milenial sekarang, 'Aduh, nanti kita kalah sama AI.' Saya bilang sama mereka semuanya, AI itu yang bikin, dan AI itu dibikin oleh manusia. Jadi manusia, kita enggak boleh takut sama AI. AI tidak punya hati, tapi manusia punya hati,” pesannya.
4. Aplikasi lokal wajib jadi tuan rumah dan go global

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya membuka gelaran InApps 2026 di ICE BSD (IDN Times/Maya Aulia Aprlianti) Dengan lebih dari 220 juta pengguna internet di Indonesia, pasar domestik yang luas menjadi ruang eksperimen yang sangat besar. Namun, target utamanya adalah melangkah lebih jauh ke ranah internasional.
“Aplikasi lokal itu harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan berani menembus pasar global. Itu yang memang kita bisa jadikan kebanggaan kita semua,” tegas Raffi Ahmad.
Dalam membangun ekosistem teknologi dan digitalisasi yang kuat, kerja sama lintas sektor menjadi kunci utama. Pasalnya, untuk membangun ekosistem digital yang sukses memerlukan kerjasama tim di berbagai sektor.
“Kuncinya adalah kolaborasi. Karena tidak ada namanya orang itu sukses sendiri, apalagi zaman sekarang enggak ada Superman, yang ada Superteam,” tutup Raffi.
















