Kronologi Penyelamatan 9 WNI Aktivis Global Sumud Flotilla dari Israel

- Sembilan WNI aktivis Global Sumud Flotilla diselamatkan setelah diculik tentara Israel, dengan koordinasi intensif antara Indonesia dan negara-negara seperti Turkiye, Jordania, Mesir, serta Cyprus.
- Pendampingan hukum dari Adalah membantu pembebasan para aktivis dari penjara Ketziet sebelum mereka diterbangkan ke Istanbul menggunakan tiga pesawat yang disiapkan oleh pemerintah Turkiye.
- Selama perjalanan menuju Bandara Ramon, para aktivis mengalami penyiksaan oleh tentara Israel sebelum akhirnya tiba di Istanbul dan difasilitasi kepulangannya ke Indonesia oleh Kementerian Luar Negeri.
Tangerang, IDN Times - Koordinator untuk misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) dan perwakilan Indonesia, Maimon Herawati, mengungkapkan kronologi penyelamatan 9 WNI yang diculik tentara Israel pada 18 Mei 2026 lalu. Di mana, proses koordinasi intensif dilakukan dengan negara-negara sekitar seperti Turkiye, Jordania, Mesir, hingga Cyprus.
"Karena saya mempersiapkan jika teman-teman saya dibawa ke Jordan, Mesir atau Cyprus yang saya tidak di sana, akan tetapi ada tim GSF di sana untuk just in case," kata Maimon di Bandara Soetta, Minggu (24/5/2025).
1. Para aktivis yang diculik dari berbagai negara didampingi kuasa hukum Adalah

Maimon mengungkapkan, saat mengalami penculikan oleh tentara Israel, pendampingan hukum dari Adalah langsung dilakukan agar para aktivis dari berbagai negara tersebut segera dibebaskan dari penjara Ketziet, Israel, usai dibawa dari kapal ke Ashdod.
"Kemudian setelah dibebaskan, dibawa menggunakan bus ke Bandara Ramon di Eilat. Di sana, sudah menunggu 3 pesawat Turkiye," katanya.
2. Proses visum dilakukan di Istanbul

Tadinya, kata Maimon, otoritas Turkiye hanya bisa mengirimkan 1 pesawat, namun berkat koordinasi intensif pada akhirnya dikirimkan 3 pesawat untuk mengangkut para aktivis ke Istanbul, Turkiye.
"Kami menghubungi pemerintah Turkiye, bisa tidak teman-teman dibawa ke Istanbul? Supaya memudahkan proses visum, proses membangun kasus dan seterusnya, maka dari 1 pesawat, Turkiye mengirimkan 3 pesawat," katanya.
3. Selama perjalanan ke Bandara Ramon, para aktivis tetap disiksa

Maimon menegaskan, selama proses perjalanan dari penjara Ketziet ke Bandara Ramon, para aktivis masih mengalami penyiksaan intensif oleh tentara Israel. Mereka masih mengalami pemukulan hingga penyetruman selama perjalanan.
"Karena kata teman-teman, di depan kamera mereka so sweet, tapi di belakang kamera mereka ditendangi," jelasnya.
Usai tiba di Istanbul, Kementerian Luar Negeri pun bersedia untuk memberikan tiket kepulangan ke Indonesia.
"Saya berterima kasih kepada Kemenlu yang sudah memberikan tiket pulang dan membantu proses di bandara," pungkasnya.



















