Pemudik Motor di Ciwandan Lebih Percaya Calo Daripada Beli Tiket di Ferizy

- Banyak pemudik motor di Pelabuhan Ciwandan memilih beli tiket dari calo karena kesulitan menggunakan aplikasi Ferizy untuk pembelian online.
- Harga tiket dari calo dijual dua kali lipat lebih mahal, mencapai Rp90 ribu, namun tetap diminati karena dianggap lebih praktis oleh pemudik.
- PT ASDP Indonesia Ferry menegaskan akan menindak praktik percaloan dan mengimbau masyarakat membeli tiket resmi melalui aplikasi Ferizy.
Serang, IDN Times - Sejumlah pemudik sepeda motor yang menyeberang dari Pulau Jawa menuju Sumatra melalui Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, lebih memilih membeli tiket dari calo, dibandingkan melalui aplikasi Ferizy.
Para pemudik terlihat mendapatkan tiket dari lapak-lapak penjual yang berjejer di sepanjang Jalan Lingkar Selatan (JLS) menuju pelabuhan. Tiket yang seharusnya dijual seharga Rp45 ribu, dijual kembali oleh calo dengan harga lebih tinggi hingga mencapai Rp90 ribu.
1. Sejumlah Pemudik mengaku kesulitan beli online aplikasi Ferizy

Salah satu pemudik, Adam, mengaku membeli tiket dari lapak di pinggir jalan saat hendak mudik dari Bitung, Tangerang, menuju Lampung Timur. Ia memilih membeli dari calo karena pernah mengalami kesulitan saat mencoba membeli tiket secara online.
"Beli di lapak-lapak itu, karena dulu pernah coba online tapi gagal terus bayarnya," kata Adam di Pelabuhan Ciwandan, Senin (16/3/2026).
2. Mereka rela beli di calo, meski dengan harga dua kali lipat

Adam mengaku tidak mengetahui harga resmi tiket penyeberangan. Namun, ia menyadari harga yang dibayarnya lebih mahal karena membeli dari perantara. "Beli Rp90 ribu. Namanya juga ke calo pasti lebih mahal," ujarnya.
Pemudik lainnya, Amar, yang akan mudik dari kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) menuju Lampung Utara, juga mengaku membeli tiket dari penjual di pinggir jalan. Menurutnya, banyak lapak yang menawarkan tiket di sepanjang jalan menuju pelabuhan. "Tadi beli di pinggir jalan, banyak yang berjejer kan," kata Amar.
Amar mengaku membeli tiket dari calo karena mendengar adanya aturan jarak minimal pembelian tiket dengan pelabuhan melalui aplikasi. Hal itu membuatnya memilih membeli langsung dari calo. "Katanya baru bisa beli tiket di jarak berapa kilometer dari pelabuhan. Akhirnya beli di sana saja," ujarnya.
Ia membeli tiket dengan harga Rp60 ribu, lebih mahal dari harga resmi. "Membeli Rp60 ribu. Namanya juga ke calo pasti lebih mahal," katanya.
3. ASDP bakal menindak praktek calo sepanjang jalan menuju pelabuhan

Sementara itu, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo menegaskan pihaknya akan menindak praktik percaloan tiket di Pelabuhan Merak maupun Ciwandan. Ia juga mengimbau masyarakat agar membeli tiket secara mandiri melalui aplikasi resmi.
"Kepada masyarakat sekali lagi kami mengimbau agar membeli tiket secara online secara mandiri dan jangan melalui perantara," kata Heru di Pelabuhan Merak, Senin (16/3/2026).
Heru menjelaskan, sistem pembelian tiket secara online sudah diterapkan sejak 2020. Menurutnya, masyarakat seharusnya sudah mengetahui sistem tersebut.
"Tiket online ini sudah kita lakukan sejak tahun 2020. Artinya ini sudah berjalan enam tahun. Masyarakat mestinya sudah mengetahui bahwa tiket kami dijual secara online dari enam tahun yang lalu," ujarnya.
Ia menambahkan, ASDP akan bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menertibkan praktik percaloan yang masih terjadi di kawasan pelabuhan.
"Kami bekerja sama dengan pihak kepolisian dan penegak hukum untuk menindak para calo yang masih beroperasi di wilayah pelabuhan," katanya.
















