Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Memprihatinkan, Rumah Keluarga Miskin di Cileles Lebak Nyaris Roboh
Pilu! Rumah Keluarga Miskin di Lebak Nyaris Roboh (Dok. IDN Times/Sandi)
  • Nengsih Mulya Ningsih bersama suami dan dua anaknya telah lima tahun tinggal di rumah 4x4 meter di Kampung Cimurutu, Lebak, yang nyaris roboh.
  • Rumah tersebut berdinding berlubang, beratap bocor, dan penyangganya rapuh; saat hujan air masuk, sementara angin mudah menerobos ke dalam.
  • Keluarga belum mampu merenovasi karena penghasilan suami sebagai buruh penyadap karet hanya mencukupi kebutuhan harian, sehingga berharap bantuan rumah layak huni dari Pemkab Lebak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lebak, IDN Times – Selama lima tahun terakhir, Nengsih Mulya Ningsih (45) bersama suami dan dua anaknya bertahan tinggal di rumah yang kondisinya memprihatinkan di Kampung Cimurutu, Desa Margamulya, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak.

Rumah berukuran sekitar 4x4 meter itu tampak mengalami banyak kerusakan. Dindingnya berlubang, atap bocor, dan penyangga bangunan sudah rapuh sehingga dikhawatirkan ambruk sewaktu-waktu.

1. Atap bocor dan dinding berlubang saat hujan

Nengsih mengatakan, kondisi rumah yang ditempatinya semakin mengkhawatirkan, terutama ketika musim hujan tiba.

“Ya, sudah lima tahun tinggal di rumah ini. Kondisi rumah yang sudah miring dan genting banyak yang bocor membuat takut rumahnya roboh,” kata Nengsih, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, air hujan kerap masuk ke dalam rumah melalui atap yang bocor. Sementara angin dengan mudah masuk karena banyak bagian dinding yang sudah berlubang.

“Iya banyak yang bocor. Terus kalau ada angin juga masuk ke dalam karena kondisi dinding sudah banyak yang bolong,” ujarnya.

2. Penghasilan suami hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari

Potret pohon karet (commons.wikimedia.org/Vis M)

Nengsih mengaku bukan tidak ingin memperbaiki rumahnya. Namun keterbatasan ekonomi membuat keluarganya belum mampu melakukan renovasi. Suaminya bekerja sebagai buruh penyadap karet dengan penghasilan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Bukan tidak mau membangun, tapi penghasilan suami yang sebagai buruh penyadap karet hanya menghasilkan uang untuk kebutuhan sehari-hari saja,” ungkapnya.

3. Berharap untuk memiliki rumah layak

Di tengah keterbatasan ekonomi, Nengsih berharap Pemerintah Kabupaten Lebak dapat memperbaiki rumahnya melalui program rumah layak huni atau bantuan sejenis. Ia berharap keluarganya bisa memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman.

“Semoga saja pemerintah bisa membantu pembangunan rumah saya,” ucapnya.

Editorial Team

Related Article