Serang, IDN Times – Pemerintah Provinsi Banten meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Seluruh fasilitas kesehatan (faskes) dan tenaga kesehatan (nakes) disiagakan untuk mengantisipasi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kesiapsiagaan dituangkan dalam Surat Edaran Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Nomor 400.7/3234/DINKES/2026. Edaran itu menginstruksikan rumah sakit, puskesmas, laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas), balai kekarantinaan, hingga pos kesehatan mengaktifkan layanan siaga 24 jam sesuai tingkat risiko dan rencana kontingensi daerah.
Kepala Dinkes Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengatakan hal tersebut merupakan respons cepat terhadap potensi dampak kesehatan akibat abu vulkanik, khususnya gangguan saluran pernapasan. “Saat ini kasusnya memang masih dalam batas normal. Namun demikian, kami bersama seluruh tenaga kesehatan tetap bersiaga sesuai arahan dari Bapak Gubernur Banten agar ke depan tidak terjadi lonjakan kasus,” kata Ati, Senin (7/9/2026).
Abu Anak Krakatau Ancam Kesehatan, Faskes di Banten Siaga 24 Jam

1. Abu vulkanik bisa picu sesak hingga perburuk asma
Ati menjelaskan abu vulkanik mengandung partikel kasar hingga sangat halus serta gas yang bersifat iritan. Paparan abu dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
Abu vulkanik juga dapat menyerang mata dan kulit, jika tidak tertangani berisiko mencemari sumber air serta makanan yang tidak tertutup rapat.
Selain kesehatan, abu vulkanik dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas karena mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin.
“Dampak lainnya meliputi gangguan mata, iritasi kulit, hingga kontaminasi sumber air dan pangan yang tidak tertutup rapat. Selain itu, ada risiko kecelakaan lalu lintas akibat berkurangnya jarak pandang dan jalanan yang licin,” katanya.
2. Faskes diminta pastikan pesediaan obat dan oksigen aman
Untuk mengantisipasi kondisi darurat, Dinkes Banten mewajibkan seluruh faskes memastikan ketersediaan logistik dan obat-obatan esensial. Persiapan meliputi sistem rujukan, ambulans, tabung oksigen, pulse oximeter, obat bronkodilator, inhaler dan spacer, cairan pembilas mata steril, APD, hingga respirator partikulat seperti N95, KN95, dan KF94 bagi petugas.
Nakes juga diminta memantau kasus gangguan pernapasan. Pengawasan diprioritaskan kepada kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta penderita penyakit kronis.
"Data kasus kemudian dianalisis dan dikoordinasikan dengan BMKG, BPBD, serta Dinas Lingkungan Hidup untuk memantau kualitas udara, termasuk kadar PM2,5 dan PM10," katanya.
3. Warga diminta kurangi aktivitas di luar ruangan
Ati mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga yang terpaksa keluar rumah diminta menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
Dinkes Banten memastikan stok masker tersedia dan siap didistribusikan kepada masyarakat terdampak. Bantuan masker akan disalurkan Pusat Krisis Kementerian Kesehatan ke sejumlah daerah terdampak, termasuk Banten, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Di tingkat rumah tangga, masyarakat diminta menutup rapat pintu, jendela, serta celah yang dapat menjadi jalur masuk abu. Tempat penyimpanan air dan makanan juga harus ditutup.
“Bila membersihkan abu, basahi secukupnya terlebih dahulu agar tidak beterbangan. Hindari menyapu kering. Selain itu, pastikan ketersediaan obat rutin bagi anggota keluarga dengan penyakit kronis tersedia cukup di rumah,” kata Ati.
Curated For You
- Mengapa Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Berbahaya Bagi Pesawat?07 Sep 2026, 10:48 WIB
- Kemenhub Buka 4 Bandara Jadi Alternatif Pendaratan Pesawat, Ini Daftarnya 06 Sep 2026, 18:53 WIB