Serang, IDN Times – Aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan penurunan. Namun, Pemerintah Provinsi Banten mengingatkan potensi erupsi masih ada sehingga masyarakat diminta tidak lengah.
Gubernur Banten Andra Soni turun langsung memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau di Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau (PGA GAK), Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Minggu (6/9/2026).
Aktivitas Anak Krakatau Turun, Gubernur Banten Minta Warga Tidak Lengah

1. Jangan lengah, potensi erupsi Anak Krakatau masih mengintai
Andra bersama jajaran Pemprov Banten, pemerintah kabupaten/kota, dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menggelar rapat koordinasi untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak aktivitas vulkanik.
“Penurunan aktivitas bukan berarti aktivitasnya akan berhenti. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi, sehingga kita harus terus melakukan pemantauan,” ujar Andra.
2. Pemda diminta pastikan langkah mitigasi berjalan hingga tingkat desa
Menurutnya, keselamatan masyarakat menjadi prioritas. Karena itu, pemerintah daerah diminta memastikan langkah mitigasi berjalan hingga tingkat desa, termasuk kesiapan jalur evakuasi dan lokasi pengungsian.
Andra juga meminta masyarakat tetap tenang, tetapi meningkatkan kewaspadaan serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak berasal dari kanal resmi pemerintah. “Keselamatan masyarakat adalah hal yang paling utama. Itu yang harus kita kerjakan,” tegasnya.
Pemprov Banten juga menyiapkan perlindungan terhadap dampak abu vulkanik. Sebanyak 5 ribu box masker didistribusikan melalui Dinas Kesehatan ke sejumlah wilayah prioritas.
Andra juga meminta masyarakat Banten tidak panik, tetapi waspada dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. “Kita terus pantau. Sama-sama kita berdoa agar kita semua diberikan keselamatan dan semua bisa kita lakukan mitigasi,” kata Andra.
3. Masyarakat diminta tak mendekat hingga radius 3 km
Sementara itu, Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan hasil pemantauan menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun. Namun potensi erupsi masih ada dan pemantauan dilakukan selama 24 jam.
Pada 6 September, sebaran abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat menuju Selat Sunda dan Samudra Indonesia. Namun, arah sebaran dapat berubah mengikuti kondisi angin.
PVMBG bersama BMKG terus memantau arah angin dan sebaran abu, termasuk dengan memanfaatkan data dari stasiun pengamatan di Australia. Pemantauan diperlukan karena abu vulkanik dapat berdampak terhadap aktivitas penerbangan.
Untuk keselamatan, masyarakat, nelayan, dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
“Untuk gunung api, kita tidak bisa memastikan kapan erupsi akan terjadi maupun kapan aktivitasnya akan berhenti. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan pemantauan dan membaca tanda-tandanya,” jelas Rita.
Rita menyebut sejumlah peralatan pemantauan mengalami kerusakan. Namun, PVMBG masih memiliki stasiun pengamatan lain yang saling menunjang sehingga aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap dapat dipantau.
"Perbaikan peralatan akan dilakukan setelah kondisi memungkinkan karena beberapa stasiun berada langsung di tubuh Gunung Anak Krakatau yang saat ini masih berbahaya bagi petugas," katanya.
Curated For You
- Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Menyebar ke Banten-Jawa Barat06 Sep 2026, 08:42 WIB
- Kemenhub Buka 4 Bandara Jadi Alternatif Pendaratan Pesawat, Ini Daftarnya 06 Sep 2026, 18:53 WIB
- 8 Bandara Ditutup Akibat Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau06 Sep 2026, 18:29 WIB