Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

ASN Disdukcapil Terima Rp15,4 M di Korupsi Sampah Tangsel Rp75,9 M

ASN Disdukcapil Terima Rp15,4 M di Korupsi Sampah Tangsel Rp75,9 M
Terdakwa korupsi sampah Tangsel saat saling bersaksi (Dok. Khaerul Anwar)
Intinya sih...
  • Zeky Yamani menerima Rp15,4 miliar dari proyek pengangkutan dan pengelolaan sampah di Dinas Lingkungan Hidup Tangsel tahun 2024.
  • Uang tersebut digunakan untuk operasional proyek, namun proyek tak berjalan lancar karena ditolak warga, sehingga uang habis dibagi-bagi.
  • Kerja sama DLH Tangsel dengan PT EPP dilakukan karena tidak ada perusahaan swasta lain yang siap menangani persoalan sampah Tangsel yang kompleks dan volumenya sangat besar.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Serang, IDN Times – Pegawai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Tangerang Selatan (Tangsel), Zeky Yamani, mengakui menerima uang sebesar Rp15,4 miliar dari proyek pengangkutan dan pengelolaan sampah di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel tahun 2024.

Uang tersebut diterima Zeky dari Direktur Utama PT Ella Pratama Perkasa (EPP), Sukron Yuliadi Mufti, selaku pelaksana proyek senilai Rp75,9 miliar. “Dari PT Ella, Rp15,4 miliar,” kata Zeky saat bersaksi untuk terdakwa Sukron Yuliadi Mufti di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Serang, Rabu (7/1/2025).

1. Uang itu diklaim Zeky buat operasional proyek pengangkutan dan pengolahan sampah

ASN Disdukcapil Terima Rp15,4 M di Korupsi Sampah Tangsel Rp75,9 M
Terdakwa korupsi sampah Tangsel saat saling bersaksi (Dok. Khaerul Anwar)

Zeky dihadirkan sebagai saksi meski dirinya juga berstatus terdakwa dalam perkara dugaan korupsi proyek pengangkutan dan pengelolaan sampah tersebut.

Zeky mengaku tidak mengingat secara pasti waktu penerimaan uang tersebut. Namun, dana miliaran rupiah itu dikirim ke tiga rekening miliknya. Rinciannya, rekening Bank BCA menerima lebih dari Rp9 miliar, Bank BJB lebih dari Rp4 miliar, dan Bank BRI lebih dari Rp2 miliar.

Menurut Zeky, uang itu digunakan untuk kebutuhan operasional proyek, seperti sewa lahan, kompensasi dampak negatif (KDN) dari aktivitas pengangkutan sampah, serta sewa armada.

“Untuk bayar koordinator lapangan, Koramil, Muspika, dan sebagainya juga kebagian,” ujarnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Mochamad Ichwanudin.

2. Uang habis dibagi-bagi ptoyek tak berjalan karena ditolak warga

antarafoto-permasalahan-sampah-di-tangsel-tidak-kunjung-usai-1767790131.jpg
Sejumlah pengendara melintas di samping gunungan sampah yang ada di Jalan Raya Otista, Cimanggis, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (6/1/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Zeky mengakui pelaksanaan proyek pengangkutan dan pengelolaan sampah tersebut tidak berjalan lancar. Empat lokasi pembuangan sampah yang disiapkan mendapat penolakan dari warga setempat. “Sepengetahuan saya tidak berjalan karena didemo,” katanya.

Meski proyek tidak terlaksana hingga tuntas, Zeky mengaku menikmati uang lebih dari Rp800 juta. Dana itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar cicilan rumah.

“Saya ambil upah jasa. Punya rumah tapi nyicil. Jerih payah bantu PT Ella buat rumah, makan, dan sekolah anak. Kurang lebih Rp800 jutaan,” katanya.

Dalam persidangan, Zeky juga mengungkap alasan keterlibatannya dalam proyek tersebut. Ia mengaku diminta langsung oleh Kepala DLH Tangsel, Wahyunoto Lukman, dan Sukron Yuliadi Mufti.

“Dimintai tolong Pak Kadis sama Pak Haji Sukron,” ujar Zeky.

3. Alasan Pemkot Tangsel tunjuk PT EPP kelola sampah

Gunungan sampah yang ada di Jalan Raya Otista, Cimanggis, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (6/1/2026).
Gunungan sampah yang ada di Jalan Raya Otista, Cimanggis, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (6/1/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Sementara itu, Wahyunoto Lukman, yang turut dihadirkan sebagai saksi, menyatakan kerja sama DLH Tangsel dengan PT EPP dilakukan karena tidak ada pilihan lain. Ia menyebut sejumlah perusahaan swasta lain menyatakan tidak sanggup menangani persoalan sampah Tangsel yang kompleks dan volumenya sangat besar.

“Kami undang pihak swasta dan beri tantangan, tapi tidak siap,” katanya.

Karena itu, DLH Tangsel kembali menjalin kerja sama dengan PT EPP yang mengaku siap mengangkut dan mengelola sampah. “PT Ella mitra kami tiga tahun berturut-turut. Saya beri tantangan bantu Tangsel angkut dan kelola sampah. Mereka juga sudah bekerja sama dengan daerah lain,” ujarnya.

Wahyunoto mengakui dirinya berada dalam tekanan untuk menyelesaikan persoalan sampah, mengingat TPA Cipeucang sudah kelebihan kapasitas. “PT Ella tahu persis kami dalam tekanan,” tuturnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Banten

See More

Program Biopori Kantor, Cara DCKTR Tangsel Kurangi Sampah

09 Jan 2026, 19:45 WIBNews