Banjir Merata, Andra Soni Akui Masalah Lingkungan Belum Tertangani

- Drainase dan fungsi sungai masih jadi pekerjaan besar, perlu ada koordinasi antar daerah
- Tambang ilegal hingga kawasan konservasi memperparah kondisi banjir, butuh penanganan berkelanjutan
- Normalisasi sungai sebagai langkah awal pengendalian banjir, tapi perbaikan lingkungan juga penting
Serang, IDN Times – Banjir yang melanda hampir seluruh wilayah di Provinsi Banten dalam beberapa hari terakhir bukan semata disebabkan oleh curah hujan ekstrem. Gubernur Banten Andra Soni mengakui, persoalan lingkungan yang belum tertangani secara menyeluruh menjadi faktor utama yang memperparah bencana tersebut.
“Hujan memang sangat tinggi dan terjadi di banyak daerah. Tapi kita juga harus jujur melihat bahwa persoalan lingkungan kita belum sepenuhnya tertangani,” kata Andra, Selasa (13/1/2026).
Menurut Andra, intensitas hujan tinggi dan kondisi lingkungan di Banten yang belum dibenahi secara optimal membuat dampak banjir menjadi lebih luas dan parah.
1. Drainase dan fungsi sungai masih jadi pekerjaan besar, perlu ada koordinasi antar daerah

Ia menyebutkan, banjir terjadi di berbagai wilayah mulai dari kawasan perkotaan, daerah aliran sungai, hingga kawasan industri. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa persoalan drainase, fungsi sungai, dan tata kelola lingkungan masih menjadi pekerjaan besar pemerintah daerah.
“Drainase perkotaan belum optimal, aliran sungai berubah, dan ini tidak bisa diselesaikan sendiri. Harus ada koordinasi lintas daerah dan lintas lembaga,” ujarnya.
Andra mencontohkan sejumlah wilayah yang kerap mengalami banjir berulang, meski hujan dengan intensitas rendah. Salah satunya Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.
“Di Padarincang itu hujan sedikit saja sudah banjir. Ini menandakan ada masalah lingkungan dan aliran air yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Cilegon. Menurut Andra, banjir di wilayah industri tersebut hampir terjadi setiap tahun, namun kini ketinggian air semakin meningkat.
“Biasanya hanya setinggi betis, sekarang bisa sampai dada bahkan setinggi orang dewasa. Ini menunjukkan ada perubahan fungsi sungai dan lingkungan di sekitarnya,” kata dia.
2. Tambang ilegal hingga kawasan konservasi

Andra mengakui, sebagian wilayah rawan banjir berada di kawasan konservasi sehingga penanganannya tidak bisa dilakukan secara sepihak. Selain itu, aktivitas yang merusak lingkungan, termasuk tambang ilegal di sekitar daerah aliran sungai, turut memperparah kondisi banjir.
Ia menambahkan, penanganan banjir tidak cukup hanya dengan respons darurat, melainkan harus dibarengi pembenahan lingkungan secara berkelanjutan.
“Salah satu yang terus kita koordinasikan adalah penindakan tambang-tambang ilegal di sekitar lokasi banjir. Ini bagian dari persoalan lingkungan yang harus kita bereskan,” katanya.
3. Normalisasi sungai jadi langkah awal

Untuk jangka pendek, Pemprov Banten akan melakukan normalisasi sungai dan danau sebagai langkah awal pengendalian banjir. Namun, Andra menegaskan, upaya tersebut hanya bersifat sementara jika tidak diiringi perbaikan tata kelola lingkungan.
“Normalisasi kami lakukan, tapi kalau lingkungan terus rusak, banjir akan terus berulang,” ujarnya.
Ke depan, Pemprov Banten berencana memperkuat sarana pendukung serta memperketat koordinasi lintas lembaga agar persoalan lingkungan dapat ditangani secara lebih sistematis.
“Ini harus kita akui dan benahi bersama. Kalau tidak, banjir akan terus terjadi di mana-mana di Banten,” katanya.


















