Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat/pras.)
Al Amrad mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam operasi pencarian. Gelombang di wilayah pulau-pulau kecil mencapai 1-2 meter.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menghentikan pencarian. Basarnas telah menempatkan alut berdasarkan karakteristik dan kemampuan masing-masing untuk menghadapi kondisi cuaca serta jarak pandang.
"Gelombang satu sampai dua meter itu di zona pulau-pulau kecil," katanya.
Menurut dia, keterbatasan jarak pandang akibat kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau juga menjadi perhatian. Karena itu, alut dengan kemampuan berbeda ditempatkan di sektor yang telah dipetakan.
"Alut yang lebih besar kita tempatkan di posisi yang bisa menghalau masalah cuaca, termasuk masalah visibility tadi," ujarnya.
Al Amrad menegaskan operasi pencarian telah dilakukan sejak laporan diterima dan tidak pernah ditunda. Pada hari pertama, tim langsung bergerak sekitar pukul 14.15 WIB. Tim menggunakan sejumlah alut untuk menyisir lokasi yang diduga menjadi titik terakhir keberadaan speedboat.
Untuk Trip 01, pencarian berlangsung hingga pukul 16.15 WIB. Sementara KN SAR Sanca Buka terus bergerak hingga pukul 21.45 WIB.
"Jadi hari pertama itu pas kami dapat info, kami langsung bergerak pada pukul 14.15 sampai dengan malam hari," katanya.