Seminar memperingati World Food Day 2026 bertema “Innovate Today. Nourish Tomorrow”, Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH) (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Diana menjelaskan bahwa setiap bahan pangan memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda dalam suatu produk. Karbohidrat, misalnya, merupakan zat gizi makro yang menjadi sumber energi utama tubuh, terdiri berbagai jenis dengan karakteristik yang berbeda dalam proses metabolisme di dalam tubuh maupun proses pembuatan bahan pangan.
"Kombinasi bahan-bahan yang digunakan dalam produk pangan ditujukan agar dapat memenuhi jenis dan jumlah zat gizi sesuai dengan peraturan yang berlaku," jelasnya.
Namun, memahami kandungan pangan dari sisi nutrisi saja belum cukup untuk menjelaskan mengapa suatu bahan digunakan dalam produk olahan. Setiap bahan baku juga memiliki fungsi teknologis yang menentukan kualitas, kestabilan, serta pengalaman konsumsi (sensory experience) suatu produk pangan.
Proses formulasi ini memerlukan keseimbangan yang tepat antara standar gizi, tekstur, rasa, hingga keamanan produk guna memastikan nilai nutrisi dan kualitas fisiknya dapat saling melengkapi.
Dosen Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), Julia R. Wijaya menjelaskan pentingnya memahami sifat dan fungsi berbagai komponen pangan. Banyak orang membayangkan membuat formulasi produk pangan sederhana, padahal setiap bahan memiliki fungsi yang berbeda, dan banyak yang secara fungsi saling melengkapi. Ada banyak bahan yang keberadaan dan perannya secara keseluruhan tidak dapat digantikan dengan bahan lainnya.
"Sebagai contoh, pemanis buatan dapat mengganti rasa manis, namun menggunakan pemanis buatan saja tidak dapat menggantikan semua karakter yang dikontribusikan oleh gula dalam suatu produk pangan, dan ini akan memengaruhi karakteristik produk yang dihasilkan," katanya.
Pemanis hanya dapat menggantikan fungsi gula sebagai pemberi rasa manis, tapi dalam produk yang menggunakan gula bukan hanya sebagai pemberi rasa manis, peran gula terhadap karakter fisik seperti tekstur dan body tidak dapat tergantikan oleh pemanis.
"Di sinilah bahan seperti maltodekstrin dibutuhkan. Maltodekstrin bukan gula atau gula tambahan. Struktur maltodekstrin berbeda dengan gula," katanya.
Dalam regulasi pangan, baik BPOM maupun otoritas pangan internasional seperti FDA dan EFSA, maltodekstrin dikategorikan sebagai karbohidrat, hasil hidrolisis atau bahan pangan hasil olahan/turunan dari pati yang dapat digunakan sebagai bagian dari formulasi produk. Maltodekstrin sering dibutuhkan dalam produk pangan justru untuk peran yang berkaitan dengan karakteristik fisik dan fungsional, bukan rasa.
"Pada berbagai produk seperti susu pertumbuhan, minuman, hingga pangan fungsional, maltodekstrin berperan untuk menjaga mouthfeel, kelarutan, serta menjadi carrier untuk vitamin dan mineral dalam produk pangan,” papar Julia.
Peningkatan literasi pangan berbasis sains sangat berguna bagi masyarakat. Pemahaman tentang struktur, sifat dan fungsi bahan pangan, serta komposisi pangan secara utuh dengan merujuk pada sumber informasi yang kredibel akan membantu masyarakat untuk mengerti produk pangan yang dikonsumsinya.
"Juga memahami bagaimana semua bahan berinteraksi sehingga menilai produk tidak lagi hanya dari satu jenis bahan tertentu," ujar Julia.