Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kurangi Antrean Pesawat di Bandara, AirNav dan Boeing Lakukan Riset
Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali (Dok.IDN Times/Humas Bandara Ngurah Rai)

  • AirNav Indonesia dan Boeing menandatangani LoI untuk mengkaji optimasi pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, guna mengurangi kepadatan darat dan meningkatkan kapasitas landas pacu.
  • Studi lanjutan MoU 2023 ini memakai baseline model TAAM berbasis jadwal 24 jam, mencakup konfigurasi east flow dan west flow, lalu divalidasi dengan data operasional AirNav.
  • Setelah observasi bersama para ahli, AirNav dan Boeing akan menguji hingga tiga skenario tata letak, taxiway, parkir, serta pengurutan pesawat; hasilnya berpotensi dimanfaatkan bandara lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang, IDN Times - AirNav Indonesia dan The Boeing Company menandatangani Letter of Intent (Lol) atau kesepakatan awal untuk melakukan studi optimasi operasional pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Penandatanganan dilakukan Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno dan Senior Managing Director, Boeing Commerial Airplanes, Malcolm An, di Hotel Sheraton Jakarta Soekarno-Hatta Airport, Tangerang.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, mengatakan, kajian tersebut diarahkan untuk melihat peluang pengurangan kepadatan pergerakan pesawat di darat sekaligus meningkatkan kapasitas pemanfaatan landas pacu. Analisis dilakukan dengan memetakan kondisi operasi saat ini dan mengujinya melalui pemodelan menggunakan Total Airspace and Airport Modeller (TAAM).

“Yang kami lihat bukan hanya kondisi operasi saat ini, tetapi juga berbagai opsi yang memungkinkan pergerakan pesawat lebih efisien. Setiap opsi akan diuji melalui pemodelan dan simulasi sehingga rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar analisis yang kuat,” ujar Avirianto, Rabu (15/9/2026).

1. Tahap awal studi gunakan baseline model TAAM

ilustrasi pesawat mendarat pada sebuah landasan pacu (pixabay.com/fietzfotos)

Diketahui, LoI ini merupakan kelanjutan Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani AirNav Indonesia dan Boeing pada 2023, yang membentuk kerangka kerja sama di bidang manajemen ruang udara, pelatihan, dan perencanaan strategis manajemen lalu lintas udara.

Avirianto menjelaskan, tahap awal studi dilakukan melalui pemodelan operasi menggunakan baseline model TAAM untuk merepresentasikan kondisi operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai saat ini.

"Model tersebut menggunakan jadwal penerbangan selama 24 jam yang mewakili operasional normal bandara. Pemodelan mencakup east flow dan west flow, dua konfigurasi operasi berdasarkan arah aliran pergerakan pesawat," katanya.

2. Melihat solusi permasalahan bandara yang memiliki single runway

Pesawat Garuda Indonesia lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. (Pexels.com/Jeffry Surianto)

Hasil pemodelan berupa data statistik operasional dan visualisasi empat dimensi (4D). AirNav Indonesia dan Boeing juga melakukan observasi langsung di Bandara I Gusti Ngurah Rai bersama Subject Matter Experts (SME) dari unsur pengendalian lalu lintas udara, operasi bandara, maskapai, ground handling, dan perencanaan bandara, terutama melihat kemungkinan solusi dari permasalahan bandara yang hanya memiliki 1 landasan atau single runway.

"Observasi dapat mencakup antara lain menara ATC, fasilitas radar terminal, pusat operasi ground handling, pusat operasi maskapai, unit perencanaan dan pembangunan bandara, serta area sisi udara (airside)," katanya.

Setelah baseline model divalidasi menggunakan data operasional AirNav Indonesia, kedua pihak akan menyusun alternatif peningkatan operasi. Alternatif tersebut mencakup tata letak, prosedur pergerakan di darat, penggunaan taxiway dan area parkir pesawat, serta pengurutan pergerakan dan koordinasi.

“Alternatif tersebut selanjutnya akan diuji melalui simulasi TAAM. Boeing diperkirakan akan memodelkan hingga tiga skenario untuk menilai kinerja masingmasing opsi sebelum dipertimbangkan untuk diterapkan,” imbuh Avirianto.

3. Hasil studi akan dimanfaatkan bagi bandara lain di Indonesia

Penumpukan pesawat di Bandara Ahmad Yani Semarang akibat erupsi Gunung Krakatau. (Dok. Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang)

Direktur Operasional AirNav Indonesia, Setyo Anggoro mengungkapkan, studi tersebut akan bermanfaat bagi bandara-bandara lain jika di Bandara I Gusti Ngurah Rai berhasil. Pasalnya, saat ini mayoritas bandara di Indonesia hanya memiliki 1 runway dan tidak memiliki taxiway.

"Jadi kalau pesawat yang akan terbang ditarik mundur, maka pesawat yang akan masuk tidak bisa mendarat, harus menunggu terlebih dahulu," katanya.

Sementara itu, Indra Duivenvoorde, Managing Director Boeing Indonesia, menambahkan, kerja sama ini menggabungkan keahlian global Boeing dalam kinerja pesawat dan manajemen lalu lintas udara dengan pengalaman operasional AirNav Indonesia. Kajian ini diarahkan untuk menghasilkan cara-cara praktis berbasis data dalam meningkatkan kelancaran arus lalu lintas, pemanfaatan landasan pacu, serta mendukung penerbangan yang aman, efisien, dan berkelanjutan di Bali.

”Kami memandang Indonesia sebagai salah satu pasar penerbangan terbesar di Asia dan berkomitmen terhadap kemitraan kami dengan AirNav Indonesia serta industri penerbangan sipil nasional,” kata Indra.

Curated For You

Editorial Team

Related Article