Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pabrik Sepatu di Serang Mulai Pindahkan Produksi ke Jawa Tengah

Kota Serang
2 min read
Pabrik Sepatu di Serang Mulai Pindahkan Produksi ke Jawa Tengah
Kadisnaker Banten Septo Kanaldi (Dok. Tangkapan layar video/Anwar)
  • PT Parkland World Indonesia 1 di Kibin, Serang, mulai memproses pemindahan produksi ke Jawa Tengah secara bertahap, sebelum kemungkinan menghentikan operasional di Banten.
  • Disnakertrans Banten berharap pabrik tetap beroperasi di Banten, mengacu pada pengalaman PT KMK Global yang sempat memindahkan produksi tetapi kemudian memperbesar kegiatan di wilayah tersebut.
  • Faktor pemindahan diduga mencakup upah minimum sektoral, kontrak pabrik berakhir, serta biaya tambahan akibat tekanan kelompok masyarakat terkait outsourcing dan pengelolaan limbah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Serang, IDN Times – PT Parkland World Indonesia (PWI) 1 di Kibin, Kabupaten Serang, mulai memproses pemindahan kegiatan produksinya ke Jawa Tengah.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Banten menduga pemindahan dilakukan secara bertahap sebelum perusahaan produsen sepatu itu benar-benar menghentikan operasionalnya di Banten.

Kepala Disnakertrans Banten Septo Kalnadi mengatakan, perusahaan kemungkinan memindahkan sebagian lini produksi terlebih dahulu hingga kegiatan usaha di lokasi baru berjalan stabil.

"Bisa jadi pelan-pelan mereka (PT PWI 1) pindah pelan-pelan. Sudah settle di sana, di sini baru ditutup gitu," kata Septo, Sabtu (31/10/2026).

  1. 1. Berharap PT PWI tak tutup kegiatan produksi di Banten

    Ilustrasi buruh pabrik. IDN Times/Dhana Kencana
    Ilustrasi buruh pabrik. (IDN Times/Dhana Kencana)

    Septo berharap pemindahan produksi tidak berujung pada penutupan pabrik di Banten. Ia menyontohkan PT KMK Global di Cikupa, Kabupaten Tangerang, yang sebelumnya juga memindahkan sebagian produksinya ke Temanggung dan Salatiga, Jawa Tengah. Namun, perusahaan kembali memperbesar kegiatan produksinya di Banten.

    "Sudah bertahap, sudah pindah. sdah banyak yang melakukan itu sebetulnya. Tapi kadang balik lagi, kayak PT KMK sudah buka di Temanggung, buka di Salatiga, ternyata tidak begitu, balik lagi ke sini gitu. Hanya ada beberapa kegiatan ya tetap di sana tapi tidak masif," ujarnya.

  2. 2. Penyebab pabrik hengkang dari Banten

    Septo menduga, tingginya upah minimum sektoral, berakhirnya kontrak pabrik, hingga gangguan oknum eksternal menjadi sejumlah faktor yang mendorong perusahaan memindahkan kegiatan produksinya.

    "Ya beberapa hal itu (penyebabnya). Misalkan adanya upah minimum sektoral, adanya kontrak pabrik yang sudah selesai, kemudian ada yang eksternal (oknum) tadi," katanya.

  3. 3. Keluhkan tekanan kelompok masyarakat yang minta bagian

    Ilustrasi aktivitas di pabrik (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
    Ilustrasi aktivitas di pabrik (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

    Selain persoalan upah dan kontrak, Septo mengungkapkan pihaknya menerima pengaduan perusahaan terkait biaya overhead atau pengeluaran di luar kebutuhan langsung produksi.

    Pengeluaran tersebut diduga berkaitan dengan tekanan kelompok masyarakat di sekitar kawasan industri yang meminta mendapatkan bagian dari aktivitas usaha perusahaan, mulai dari pekerjaan outsourcing hingga pengelolaan limbah.

    "Ada kemarin tuh pengaduan dari tentang ya sekelompok masyarakat yang mungkin tidak mendapatkan pekerjaan di lingkungan itu. Mungkin faktor-faktornya ya bisa saja tidak dapat porsi outsourcing, tidak dapat porsi limbah, atau lainnya," katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More