Ilustrasi sawah. (Dok. Kementan)
Sementara itu, Kepala BPS Provinsi Banten, Yusniar Juliana, mengatakan berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), penurunan luas panen juga terjadi pada periode Januari-September 2026.
Dalam periode tersebut, luas panen tercatat 308,67 ribu hektare atau berkurang 6,15 ribu hektare (1,95 persen) dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 314,82 ribu hektare.
“Realisasi luas panen padi sepanjang Januari-September 2026 mencapai sebesar 308,67 ribu hektare, atau mengalami penurunan sekitar 6,15 ribu hektare (1,95 persen) dibandingkan Januari-September 2025 yang sebesar 314,82 ribu hektare. Sementara, potensi luas panen padi pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan sekitar 17,75 ribu hektare,” kata Yusniar.
Di sisi lain, Gubernur Banten Andra Soni mengatakan pemerintah tetap mendorong penguatan sektor pertanian meskipun luas panen padi mengalami penurunan.
Menurutnya, salah satu indikator perkembangan sektor pertanian terlihat dari nilai tukar petani (NTP) Banten yang kini mencapai 114. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang masih berada di bawah 100.
Meski begitu, Andra menyebut pemerintah masih berupaya meningkatkan NTP Banten agar mendekati angka nasional yang berada di kisaran 134.
“Dan kita mengejar supaya bisa setara dengan nasional sekitar 134. Dan ini dulu tidak pernah terjadi dan alhamdulillah sekarang nilai tukar petani artinya yang ditanam petani yang dikeluarkan petani itu lebih kecil daripada yang didapat oleh petani,” katanya.