Swab Test di Bawah Standar, Pengamat: Bukti Banten Masih Tertinggal

Tangerang, IDN Times - Analis kebijakan publik dari Universitas Islam Syech Yusuf (Unis) Tangerang, Adib Miftahul menilai, penanganan wabah COVID-19 di Banten masih jauh dari harapan. Salah satu pekerjaan rumah yang masih belum tercapai adalah angka pelacakan melalui swab test.
Sejauh ini, swab test di Banten masih berada di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Terbukti Kepala Dinas Kesehatan yang juga mantan kepala Satgas COVID-19 Provinsi Banten mengatakan banyak kendala seperti terbatasnya lab rujukan, reagen dan lain sebagainya. Jelas menggambarkan masalah kesehatan di Banten memang jauh tertinggal," kata Adib, Selasa (28/7/2020).
1. Sudah anggarkan uang besar untuk penanganan COVID-19, Pemprov harus adakan swab test massif

Adib mengatakan, Pemrov Banten harus punya langkah cepat soal penanganan COVID-19, terlebih rasionalisasi anggaran yg sudah dilakukan harus cepat digunakan untuk prioritas penanganan COVID-19. "Bisa dengan cara pengadaan test swab secara massif dan gratis kepada masyarakat. Bisa juga insentif kepada petugas di lapangan agar orang taat protokol kesehatan," imbuhnya.
Adib menilai, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak efektif jika berhenti hanya sebatas imbauan. Pada realitanya, banyak membuat orang melanggar protokol kesehatan ketika ada pelonggaran.
2. Jangan kaget ketika muncul klaster akibat longgarnya pengawasan

Adib menilai, PSBB yang dikeluarkan berkali-kali hingga jilid ketujuh nyatanya tidak berimbas apa-apa. "Ini tak lain hanya pengumuman dan retorika semata," kata dia.
Adib menyebut, minim sekali petugas di lapangan dalam mengawal protokol kesehatan bagi masyarakat. Makanya, ketika misalnya nanti terjadi klaster COVID-19 dari pasar tradisional, mal, hingga sarana umum lainnya, publik tidak perlu kaget.
"Karena memang minimnya pendampingan atau atensi dari penegakan protokol kesehatan. Mengadakan swab test secara maksimal diiringi protokol kesehatan yang dijaga oleh petugas itu bisa menjadi sebuah solusi agar Banten bisa menjadi hijau," kata Adib.
3. Tes PCR COVID-19 di Banten di bawah standar WHO

Sebelumnya diberitakan, uji spesimen kasus baru melalui metode polymerase chain reaction (PCR) di Banten masih jauh di bawah standar WHO.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten pemeriksaan swab test di wilayahnya baru mencapai 38 persen atau sebanyak 46.033 sampel dari target WHO sebesar satu persen dari jumlah penduduk Banten atau sebanyak 120 ribu orang.
"Hal ini terkendala dari keterbatasan lab rujukan COVID, ketersediaan reagen, dan BHP (biaya hak penggunaan). Kami akan terus melakukan case finding and tracing untuk dapat mencapai target yang ditetapkan oleh WHO," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti saat dikonfirmasi, Senin (27/7/2020).
Sementara, untuk pemeriksaan rapid test atau uji cepat COVID-19 di tanah Jawara itu telah melebihi target WHO sebanyak 156.000 sampel, dimana jumlah tersebut mencapai 130 persen dari target WHO satu persen dari jumlah penduduk Banten atau sebanyak 120 ribu orang.
"Kalau untuk rapid test kita sudah melebihi target. Hal itu dilakukan dengan beberapa program mulai kegiatan drive thru dan lain-lain," katanya.




















