Dokter di Tangerang Meraih PhD Hanya 18 Bulan di Finlandia

Tangerang, IDN Times - Seorang dokter di Rumah Sakit Mandaya Puri, Tangerang, diganjar penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dalam kategori dokter yang lulus tercepat program studi Doktor Ilmu Kedokteran di University of Helsinki, Finlandia. Ia menyelesaikan pendidikan doktoral hanya dalam waktu 18 bulan 12 hari
Rekor tersebut dicapai oleh Dr dr Mardjono Tjahjadi SPBS (K) SubspNVas PhD FICs, seorang spesialis Bedah Saraf Subspesialis Neurovaskular Fellor Beuro Onkologi (Cancer). Joy dianugerahkan piagam serta medali MURI atas rekor yang dicapainya. Dia mengaku sebenarnya sudah menyelesaikan pendidikan S3-nya itu di tahun 2017.
Namun belakangan, baru diketahui oleh teman-teman seprofesinya, Joy berhasil menyelesaikan S3 kedoktorannya itu dengan waktu tercepat, hanya 18 bulan 12 hari. Itu menjadi yang tercepat di Indonesia.
"Sebenarnya sudah agak lama selesainya, jadi tahu-tahu ada teman menginfokan ke MURI, ngasih tahu, ini dr Joy tercepat lho PhD-nya. saya enggak tahu, surprize juga. oh ini saya paling cepat ya, ternyata ada rekor seperti itu," kata dr Joy, Sabtu (19/4/2025).
1. Dr Joy berharap bisa menjadi motivasi untuk rekan seprofesinya

Meski begitu, Joy mengaku sangat bangga atas capaiannya. Dia berharap apa yang sudah dicapainya, terlebih dia menempuh S3 mengenai aneurisma otak di luar negeri, bisa menjadi motivasi untuk dokter-dokter muda di Indonesia, agar lebih giat belajar, menimba ilmu kedokteran, untuk kemudian dipraktikkan di Indonesia.
"Senang, bangga. Moga-moga bisa memotivasi teman-teman generasi muda untuk bisa maju membuat prestasi. Memang di awal tidak mudah, dirsasa tidak mungkin, tapi kalau konsisten pasti bisa," ujarnya.
2. Belajar dengan maestro Aneurisma dunia

Dr Joy juga menjelaskan, bukan tanpa alasan dirinya mau begitu saja mengambil kesempatan S3 di University of Helsinki, Firlandia. Selain memang negara tersebut terkenal dengan kurikulum pendidikan yang terbaik di dunia, dia mengaku ada Prof Juha Hernesniemi di sana.
"Beliau ini sudah menangani lebih dari 10 ribu kasus Aneurisma Otak, seorang maestro di ruang operasi, semua dokter saraf pun tahu itu. Bahkan Negara Amerika pun belajar ke Firlandia dengan beliau. Jadi saat ada kesempatan, saya pun akan ambil," ujarnya.
Dia belajar bagaimana caranya penanganan di meja operasi yang seharusnya 2 jam, Prof Juha menyelesaikannya hanya 15 sampai 20 menit. Belum lagi pengobatan-pengobatan setelahnya, yang membuat penanganan Aneurisma Otak, bukanlah sesuatu yang mengerikan, melainkan menyembuhkan.
"Ada doa, ada harapan, bukan saja dari pasien, tapi juga dari keluarga pasien. Itu yang juga saya pelajari dari beliau,"katanya.
Bahkan, pada saat menempuh pendidikan di kampus tersebut, Joy sempat mendampingi Prof Jeha menangani pasien dengan Aneurisma Otak yang sudah pecah. Padahal di luar rumah sakit, salju turun dengan deras, udara dingin menusuk, namun penanganan pasien Aneurisma harus penuh kehati-hatian.
"Terlebih kalau sudah pecah, perlu penanganan yang hati-hati. Harus dilakukan dengan tenang," katanya.
Kasus-kasus seperti ini bisa terjadi di Indonesia. Makanya dia banyak belajar penanganan Aneurisma Otak yang cepat dan tepat seperti apa.
3. Mengenal Aneurisma Otak, tak bergejala tapi berakibat fatal

Sementara, dr Joy juga menjelaskan, Aneurisma merupakan gangguan bentuk pada pembuluh darah yang bisa menyebabkan peredaran darah terganggu. Apabila terjadi di otak lalu pecah, bisa menyebabkan komplikasi lain, hingga menyebabkan stroke.
"Sayangnya, dia (Aneurisma) tidak bergejala, tapi masyarakat wajib kenali faktor risikonya agar bisa melakukan screening di awal," jelasnya.
Faktor risiko yang dimaksud seperti merokok, penyakit darah tinggi, usia di atas 50 tahun, suka minum alkohol berlebihan, jenis kelamin perempuan, dan ada riwayat keluarga yang pernah menderita aneurisma otak.
"Sayangnya, 99 persen pasien yang kita temui sudah pecah. Di Firlandia, Jepang, Korea, aneurisma itu yang pecah hanya 30 sampai 40 persen saja, sisanya bisa ditangani," katanya.