Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kebiasaan yang Perlu Diubah Saat Kamu Kena Mental Exhausted

5 Kebiasaan yang Perlu Diubah Saat Kamu Kena Mental Exhausted
ilustrasi cemas (pexels.com/Ron Lach)

Pernah merasa seperti baterai yang hampir habis meski hari baru dimulai? Kelelahan mental atau mental exhausted memang bisa menyerang siapa saja, terutama di tengah tekanan hidup yang serba cepat.

Namun, tanpa disadari, kamu sering melakukan kebiasaan yang justru memperparah kondisi tersebut. Alih-alih memulihkan diri, kebiasaan ini malah bikin energi makin terkuras.

Supaya gak terjebak lebih jauh, yuk kenali lima kebiasaan yang perlu kamu ubah saat merasa mental exhausted!

1. Menghabiskan waktu dengan scroll media sosial tanpa henti

ilustrasi gawai (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi gawai (pexels.com/cottonbro studio)

Saat merasa lelah secara mental, media sosial sering jadi tempat pelarian. Tapi hati-hati, scrolling tanpa batas justru bikin otak makin capek. Paparan informasi berlebih, konten yang bikin FOMO alias fear of missing out, atau perbandingan hidup dengan orang lain bisa bikin kondisi mentalmu semakin drop.

Daripada terus-terusan scrolling, coba atur waktu khusus untuk membuka media sosial dan fokus pada konten yang membawa energi positif. Nonton video meditasi atau dengarkan podcast motivasi bisa jadi pilihan yang lebih menenangkan.

2. Memaksakan diri tetap produktif meski sudah lelah

ilustrasi lelah (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi lelah (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kita sering terjebak dalam mindset "harus tetap produktif" bahkan saat tubuh dan pikiran sudah mengirimkan sinyal untuk istirahat. Memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan saat mental exhausted hanya akan menghasilkan output yang kurang maksimal.

Kamu bisa mencoba mengenali kapan waktu yang tepat untuk berhenti sejenak. Praktikkan "strategic quitting" dengan mengatur ulang prioritas atau membagi tugas besar jadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah diselesaikan. Dengan begitu, produktivitasmu lebih terjaga tanpa harus memaksakan diri.

3. Menutup diri dan menolak bantuan dari orang lain

ilustrasi lelah (pexels.com/Keira Burton)
ilustrasi lelah (pexels.com/Keira Burton)

Ketika mental exhausted, kita sering merasa ingin sendiri. Rasanya gak ada yang bakal paham, atau takut dianggap lemah kalau cerita ke orang lain. Tapi, mengisolasi diri hanya akan memperburuk kondisi mentalmu.

Cobalah berbagi cerita dengan orang yang kamu percaya, seperti sahabat, keluarga, atau bahkan psikolog. Dukungan emosional dari orang lain bisa memberi perspektif baru dan membantu kamu merasa lebih ringan menjalani hari.

4. Mengabaikan rutinitas self-care karena merasa gak punya tenaga

ilustrasi sedih (pexels.com/Nicola Barts)
ilustrasi sedih (pexels.com/Nicola Barts)

Saat mental lelah, self-care sering jadi hal pertama yang kerap diabaikan. Pola tidur berantakan, makan asal-asalan, dan malas bergerak jadi kebiasaan yang makin memperburuk kondisi tubuh. Padahal, justru di saat-saat seperti ini tubuhmu butuh perawatan ekstra.

Gak perlu langsung melakukan banyak hal sekaligus. Kamu bisa memulai dari langkah kecil seperti tidur cukup, makan makanan bergizi, atau sekadar stretching di pagi hari. Ingat, self-care adalah kebutuhan dasar, bukan sesuatu yang bisa ditunda-tunda.

5. Terjebak dalam pola pikir negatif yang melelahkan

ilustrasi wanita (pexels.com/ALINA MATVEYCHEVA)
ilustrasi wanita (pexels.com/ALINA MATVEYCHEVA)

Mental exhausted sering bikin pikiran negatif muncul tanpa henti. Kalimat seperti "Aku gak cukup baik," "Kenapa gak bisa seperti orang lain," atau "Ini semua salahku" hanya akan menguras energimu lebih dalam loh.

Coba kamu latih diri untuk mengenali pikiran negatif ini dan gantikan dengan afirmasi positif. Ingatkan dirimu bahwa gak apa-apa merasa lelah, dan semua orang punya proses masing-masing. Praktekkan self-compassion dengan memperlakukan dirimu seperti sahabat terbaik yang butuh dukungan.

Mengubah kebiasaan memang gak instan, tapi dampaknya bisa sangat besar untuk kesehatan mentalmu. Mulailah dari hal-hal kecil dan lakukan secara konsisten. Ingat, merawat kesehatan mental itu bukan perlombaan, tapi investasi jangka panjang untuk hidup yang lebih sehat dan bahagia. Yuk, mulai ubah kebiasaan ini demi versi terbaik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau
Follow Us

Latest News Banten

See More

BMKG Prediksi Hujan Lebat di Banten 4–10 Maret 2026

04 Mar 2026, 04:00 WIBNews