Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi kebakaran gambut (pexels.com/Yavuz Solgun)
  • BPBD Kabupaten Tangerang mencatat 666 kebakaran pada Juli–Oktober 2026, dengan 508 kasus didominasi kebakaran lahan dan sampah akibat pembakaran sembarangan.

  • Cuaca panas ekstrem memicu kebakaran lahan dan sampah, sedangkan kebakaran permukiman serta industri mayoritas dipicu korsleting listrik yang membuat api cepat membesar.

  • Balaraja, Curug, dan Rajeg masing-masing mencatat 36 kasus; kerugian kebakaran melampaui Rp100 miliar, sementara banyak industri dinilai belum mematuhi standar K3 dan proteksi kebakaran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mencatat ada 666 kasus kebakaran di wilayahnya selama periode Juli hingga Oktober 2026. Mirisnya, Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengungkapkan hal tersebut didominasi kebakaran lahan dan sampah yang mencapai 508 kasus.

‎"Mayoritas karena bakar sampah sembarangan dan kebakaran lahan. Kebakaran industri dan lain-lain itu mencapai 158 kasus," ujar Taufik, Senin (2/11/2026).

1. Kebakaran industri mayoritas disebabkan korsleting listrik

ilustrasi kebakaran gambut (pexels.com/Oscar Sánchez)

Taufik menyebut, cuaca panas yang ekstrem memicu terjadinya kebakaran lahan ilalang atau sampah di Kabupaten Tangerang. Sementara, bila kebakaran menimpa pemukiman dan industri, mayoritas disebabkan oleh korsleting listrik.

"Sehingga api cepat membesar," katanya.

2. Balaraja jadi Kecamatan yang paling banyak kasus kebakaran

ilustrasi kebakaran tajuk (pexels.com/Guduru Ajay bhargav)

Dia juga menambahkan, wilayah dengan kasus kebakaran terbanyak di Kabupaten Tangerang meliputi Kecamatan Balaraja, Curug serta Rajeg dengan masing-masing 36 kasus. Adapun total kerugian materiil akibat 606 kasus kebakaran tersebut ditaksir mencapai ratusan miliar.

Nilai kerugian itu merupakan akumulasi dari kerusakan bangunan, fasilitas usaha, hingga barang-barang milik warga dan perusahaan yang terdampak kebakaran.

‎"Kerugian total di atas Rp100 miliar," ungkap Taufik.

3. Kebakaran pada industri mayoritas karena K3 tidak dijalankan

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Eclipse Chasers)

Selain itu, Taufik turut menyoroti adanya kelalaian dalam menjalankan sistem mitigasi yang mengakibatkan tingginya angka kebakaran industri di Kabupaten Tangerang.

‎Menurutnya, mayoritas perusahaan industri yang mengalami kebakaran di Kabupaten Tangerang belum mematuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

‎"Bukan hanya yang terbakar, perusahaan yang nggak terbakar yang rata-rata tidak mematuhi mereka males mengurus mengurus proteksi kebakaran," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article