Eri Sudewo, Dokter Gerilya yang Memimpin Perlawanan di Banten (IDN Times/Muhamad Iqbal)
Kisah pengabdian Eri Sudewo bermula jauh sebelum ia memimpin Banten. Selepas menempuh pendidikan tinggi kedokteran di Sekolah Kedokteran NIAS (cikal bakal Universitas Airlangga) pada periode 1937–1945, ia langsung terjun mematri diri dalam kawah candradimuka Revolusi Nasional.
Ketika agresi militer berkecamuk, ia mengawali karier militernya sebagai Dokter Batalyon di Karawang dengan pangkat Kapten. Tak hanya mengobati prajurit yang terluka, jiwa kepemimpinannya membawa Eri menanjak cepat. Ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Staf Resimen VI Karawang, serta Komandan Keamanan Kota Cikampek dan Purwakarta.
Dalam buku memoar yang ditulis oleh istri tercintanya, Kusmartindjung atau Mang, bertajuk My Life With Eri-san a Freedom Fighter, tergambar jelas bagaimana sisi kemanusiaan dan ketegasan militer berpadu dalam diri sang suami.
"Di bagian selatan Banten tidak ada kota besar, hanya alam liar, daerah-daerah belum berkembang tempat berbagai kelompok independen mencoba menjalankan pengaruh mereka dan meracuni pikiran orang-orang desa yang tidak tahu apa-apa, belum lagi penjarahan oleh para Djawara. Eri bertekad untuk mengakhiri unsur-unsur yang tidak diinginkan tersebut sebelum situasi yang lebih kacau berkembang," tulis Mang dalam buku memoar tersebut.
Buku album kenangan militer Belanda berjudul Herinneringsalbum van de 1e Infanterie Brigade Groep der Divisie „7 December” (Deel IV) bahkan mencatat rekam jejak militernya secara terperinci, termasuk transkrip radiogram logistik dan peta taktis militer yang melacak pergerakan gerilyanya di sektor selatan Banten sekitar tahun 1949.