Comscore Tracker

Rumah Multatuli, Akademisi: dari Dulu Hingga Sekarang Terlantar

Anggaran renovasi refocusing untuk penanganan pandemik

Lebak, IDN Times - Cagar budaya Multatuli yang kini terlantar menjadi sorotan. Bangunan yang dulu adalah rumah Eduard Douwes Dekker itu disebut sudah terlantar sejak dulu. 

Akademisi Sekolah Tinggi Agama Islam ( STAI) Latansa Mashiro Rangkasbitung Mochamad Husen mengungkap keprihatinannya melihat kondisi bangunan Multatuli yang menjadi bagian sejarah dunia itu.

"Sejak dulu hingga sekarang gedung Multatuli itu telantar dan terbengkalai, " kata Mochamad Husen, seperti dikutip dari Antaranews, Minggu (28/11/2021).

Baca Juga: Renovasi Cagar Budaya Rumah Multatuli Menggantung Karena Pandemik

1. Siapa yang bertanggung jawab untuk memelihara bangunan Multatuli

Rumah Multatuli, Akademisi: dari Dulu Hingga Sekarang TerlantarBekas Rumah Multatuli atau Douwes Dekker. (cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Multatuli merupakan nama lain Eduard Douwes Dekker. Dia adalah asisten Residen masa Kolonial Belanda yang bertugas di wilayah Kabupaten Lebak. 

Bangunan Multatuli itu berada di lingkungan RSUD Adjidarmo Rangkasbitung. Mochamad Husen menyebut siapa pihak yang bertanggung jawab untuk memelihara bangunan bersejarah itu, tidak jelas betul. 

"Apakah bangunan bersejarah itu merupakan kewenangan pemerintah daerah atau Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Banten," katanya.

2. Pintu dan jendela hilang hingga lantai beralas tanah

Rumah Multatuli, Akademisi: dari Dulu Hingga Sekarang TerlantarBekas Rumah Multatuli atau Douwes Dekker. (cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Kondisi bangunan Multatuli rusak di beberapa bagiannya. Sebagian jendela, pintu, kaca dan genteng hilang. Selain itu, kata Mochamad Husen, tembok dinding berlubang, cat mengelupas, lantai tanah, hingga bangunannya tidak sempurna, dan bangunan rumah Eduard Douwes Dekker sudah tidak sempurna dan tidak ada ruangan.

"Kami berharap gedung Multatuli itu kembali dibangun dan dirawat serta dipelihara, karena merupakan kekayaan budaya bangsa," katanya.

Baca Juga: Wisata Religi Gua Maria Bukit Kanada Lebak, Cek Rutenya

3. Bangunan Multatuli harus dilestarikan dan menjadi destinasi wisata sejarah

Rumah Multatuli, Akademisi: dari Dulu Hingga Sekarang TerlantarBekas Rumah Multatuli atau Douwes Dekker. (cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Menurut Mochamad Husen, perjuangan Eduard Douwes Dekker patut diapresiasi karena memberikan semangat dan motivasi kepada rakyat Indonesia untuk berjuang melawan terhadap penjajahan kolonial Belanda. Hati nurani Multatuli, imbuhnya, bertolak belakang dengan pemerintah kolonial Belanda yang memeras dan mencekik rakyat di Lebak.

Oleh karena itu, Asisten Residen Belanda yang bertugas di Lebak mengangkat karya Novel "Max Havelaar," yang karyanya mendunia karena keburukan dan kezhaliman pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenangnya terhadap warga pribumi.

"Kami berharap bangunan penulis Max Havelaar itu dilestarikan dan bisa menjadi destinasi wisata sejarah, " kata mantan anggota DPRD Lebak itu.

4. Bangunan Multatuli pernah menjadi markas tentata hingga rumah sakit

Rumah Multatuli, Akademisi: dari Dulu Hingga Sekarang TerlantarBekas Rumah Multatuli atau Douwes Dekker. (cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Ia mengatakan, rumah Multatuli itu ditempati tahun 1856 dan sempat menjadi markas tentara pada 1850.

Bahkan, bangunan itu beberapa kali mengalami alih fungsi menjadi rumah sakit pada 1987, apotek tahun 2000, hingga gudang pembangunan Rumah Sakit Dr Adjidarmo pada 2007.

Namun, saat ini, kata  Mochamad Husen, lokasi bersejarah itu hanya menjadi kawasan parkir pegawai rumah sakit setempat.

5. Anggaran perawatan dan renovasi bangunan Multatuli di-refocusing untuk penanganan COVID-19

Rumah Multatuli, Akademisi: dari Dulu Hingga Sekarang TerlantarBekas Rumah Multatuli atau Douwes Dekker. (cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lebak Imam Rismahayadin mengatakan untuk pembangunan gedung Multatuli yang menjadi cagar budaya di Rangkasbitung, Lebak belum memiliki anggaran akibat pandemik COVID-19 itu.

"Seharusnya renovasi bangunan Multatuli direalisasikan 2020. Namun, virus corona yang mewabah sehingga difokuskan untuk penanganan COVID-19, " katanya.

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya