Lebak, IDN Times - Di kejauhan, garis perbukitan yang mengelilingi Waduk Karian tampak tenang. Permukaan air membentang luas, memantulkan langit musim kemarau yang nyaris tanpa awan. Dari tepian Kampung Somang, Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, rakit bambu bermesin kecil bersandar menunggu penumpang.
Bagi wisatawan, perjalanan melintasi waduk menawarkan panorama yang menenangkan. Namun bagi sebagian warga yang pernah tinggal di sana, perjalanan itu adalah cara untuk kembali melihat kampung yang pernah mereka tinggalkan.
Dengan tarif Rp150 ribu untuk sekali perjalanan pulang-pergi, satu perahu dapat mengangkut empat orang. Tarif tersebut tetap berlaku meski penumpangnya hanya seorang. Hanya beberapa menit kemudian, hamparan air mulai berganti dengan pemandangan yang tak biasa, dinding-dinding rumah tanpa atap berdiri di tengah genangan yang surut.
Bangunan-bangunan itu bukan reruntuhan akibat bencana. Mereka adalah sisa sebuah kampung yang pernah dihuni, sebelum proyek Bendungan Karian mengubah lanskap kawasan ini.
Musim kemarau tahun ini membuat muka air waduk turun sekitar 80 sentimeter. Penurunan yang terlihat kecil itu cukup untuk memperlihatkan kembali bekas rumah, jalan kampung, hingga fondasi bangunan yang selama hampir tiga tahun tersembunyi di bawah permukaan air.
Namun, menurut warga setempat, anggapan bahwa kampung tersebut “muncul kembali” tidak sepenuhnya tepat.
“Sebetulnya kampung itu tidak pernah benar-benar tenggelam seluruhnya. Kalau musim kemarau seperti sekarang, memang kelihatan lagi karena airnya surut,” kata Sandi warga Rangkasbitung yang kerap mengunjungi lokasi, Kamis (6/8/2026).
