Kisah Petugas Kebersihan di Banten Mimpikan Hidup Berkecukupan

- Pareang, petugas kebersihan KP3B Serang selama 16 tahun, menerima Rp1,8 juta per bulan; penghasilannya banyak terserap kebutuhan rumah tangga dan cicilan motor Rp1,1 juta.
- Eman Suherman, petugas kebersihan Dinas PUPR Banten, bergaji Rp1,7 juta sebagai PPPK paruh waktu dan bekerja pukul 07.00-16.00 WIB, namun penghasilan itu dinilai belum mencukupi keluarga.
- Maskanah mengandalkan utang warung untuk kebutuhan pokok karena gajinya habis melunasi utang; para petugas berharap pemerintah Banten meningkatkan kesejahteraan pekerja kebersihan dan PPPK paruh waktu.
Serang, IDN Times – Pukul 06.00 WIB, Pareang (57) sudah bergelut dengan debu dan padatnya lalu lintas saat menyapu ruas jalan di kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Curug, Kota Serang. Selama 16 tahun bekerja sebagai petugas kebersihan, kesejahteraan yang diimpikannya tak kunjung datang. Ia hanya menerima gaji sekitar Rp1,8 juta per bulan sebagai PPPK paruh waktu.
Penghasilan itu, kata Pareang, sebagian besar habis untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membayar cicilan sepeda motor sebesar Rp1,1 juta setiap bulan.
“Sekarang lebih parah, saya ngambil motor cicilannya Rp1,1 juta. Atuh gimana enggak habis. Istri juga kadang kasihan, enggak usah ribut kalau enggak ada setoran. Jadi suami pusing mikirin cicilan sama makan,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
1. Berharap gubernur memperbaiki kesejahteraan petugas kebersihan

Meski penghasilannya terbatas, Pareang tetap bekerja dari pagi hingga sore demi menjaga kebersihan lingkungan kantor pemerintahan.
“Saya jam 06.00 WIB sudah harus sampai sini, pulang jam 16.00 WIB. Kerja Senin sampai Jumat,” katanya.
Ia berharap Gubernur Banten Andra Soni memberi perhatian lebih terhadap kesejahteraan petugas kebersihan dan PPPK paruh waktu.
2. Gaji Rp1,7 juta sebagai PPPK paruh waktu
Nasib serupa dialami Eman Suherman (34), petugas kebersihan di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten. Dengan gaji sekitar Rp1,7 juta per bulan sebagai PPPK paruh waktu, ia harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Minimnya tabungan membuat Eman bergantung sepenuhnya pada penghasilan bulanan yang menurutnya jauh dari kata cukup.
“Saya paruh waktu Rp1,7 juta, kerja dari jam 07.00 sampai 16.00 WIB. Gaji segitu mah enggak cukup, pas-pasan doang, malah kurang,” katanya.
3. Gaji habis untuk bayar utang
Keluhan senada disampaikan Maskanah (55), petugas kebersihan lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengaku terus-terusan utang di warung.
Setiap bulan, sebagian besar gajinya habis hanya untuk melunasi utang kebutuhan pokok yang sudah lebih dulu diambil.
“Saya kerja dari tahun 2019. Jam 06.00 WIB sudah di sini, langsung nyapu jalan, terus bersihin rumput di sekitar gedung. Gaji malah habis buat bayar utang warung, buat makan sehari-hari. Tiap hari ngutang sayur, beras sekarung. Pas gajian langsung habis buat nutup utang,” tuturnya.
Maskanah berharap pemerintah lebih serius memperhatikan kesejahteraan petugas kebersihan yang setiap hari bekerja menjaga fasilitas publik.



















