Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Miskin Ekstrem, Warga Tangsel Tinggal Tenda dengan Anak dan Cucu Balita
Miskin Ekstrem, Warga Tangsel Terpaksa Tinggal di Tanah Belukar (Dok. IDN Times/Jupri)
  • Bedah, janda dengan tiga anak dan seorang cucu, sempat tinggal di tenda di tanah kosong Tangsel setelah menunggak kontrakan tiga bulan dan tak memiliki pekerjaan tetap.

  • Setelah kondisi Bedah viral, Camat Setu dan Lurah Babakan mendatangi keluarga tersebut; Bedah diketahui telah memperoleh kontrakan baru di RT 3/RW 3 Babakan.

  • Bedah tercatat kategori miskin ekstrem dan penerima bantuan pemerintah. Pemkot Tangsel memberi sembako, memantau kondisinya, serta mempertimbangkan skema bantuan lanjutan bila diperlukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang Selatan, IDN Times – Keterbatasan ekonomi membuat hidup Bedah, seorang janda dengan tiga anak dan seorang cucu yang masih balita, semakin berat. Bedah, dan keluarganya terpaksa tinggal di tanah kosong penuh belukar beralas tanah beratap terpal lantaran tak sanggup membayar sewa kontrakan, karena tak memiliki pekerjaan tetap.

Kondisi tersebut mendapat perhatian pemerintah setempat setelah video dan fotonya viral di media sosial. Camat Setu, Bunga Pranatalia Putri mengatakan, pihaknya bersama Lurah Babakan Teten langsung mendatangi Ibu Bedah setelah mendapat informasi dari lingkungan setempat.

1. Tunggak kontrakan 3 bulan

Miskin Ekstrem, Warga Tangsel Terpaksa Tinggal di Tanah Belukar (Dok. IDN Times/Jupri)

Bunga mengatakan, dari hasil kunjungan pada 5 Oktober 2026, diketahui Ibu Bedah sebelumnya mengalami persoalan dengan penyewa atau pemilik tempat tinggalnya. Ia disebut menunggak pembayaran kontrakan selama tiga bulan. Adanya tagihan yang terus diajukan pemilik kontrakan membuatnya merasa terganggu hingga akhirnya memilih meninggalkan tempat tersebut.

“Yang terbaru, karena memang saya tanya kenapa sampai mendirikan tenda di tanah kosong itu ternyata ada konflik pribadi dnegan penyewa lama. Karena yang bersangkutan nunggak selama tiga bulan dan mungkin ada tagihan-tagihan yang berkala diajukan oleh pemilik kontrakan sehingga Bu Bedah merasa terganggu akhirnya memutuskan seperti itu,” kata Bunga, Selasa (6/10/2026).

Saat tinggal di tanah kosong, Bu Bedah mengaku tidur seorang diri di dalam tenda. Sementara anak-anaknya mengungsi di rumah tetangga.

2. Kini sudah pindah ke kontrakan

Miskin Ekstrem, Warga Tangsel Terpaksa Tinggal di Tanah Belukar (Dok. IDN Times/Jupri)

Saat didatangi pemerintah pada 5 Oktober, Bedah ternyata sudah mendapatkan kontrakan baru di RT 3/RW 3, Kelurahan Babakan. Namun, ia masih dalam proses pindahan dan belum sepenuhnya menempati kontrakan tersebut.

“Kemarin tanggal 5 Oktober saya beserta Pak Lurah Babakan, Pak Teten, sudah mengunjungi rumah kediaman Bu Bedah yang terbaru, yaitu di RT 3 RW 3 Babakan,” ujar Bunga.

Pemerintah kemudian membersihkan lokasi tanah kosong yang sebelumnya digunakan Bu Bedah untuk mendirikan tenda. Tenda dan barang-barang miliknya sudah diangkat sehingga lokasi tersebut telah bersih.

3. Masuk kategori miskin ekstrem

Miskin Ekstrem, Warga Tangsel Terpaksa Tinggal di Tanah Belukar (Dok. IDN Times/Jupri)

Bunga menjelaskan, Bu Bedah merupakan pendatang asal Sukabumi. Meski demikian, ia cukup lama menjadi pemegang KTP Tangerang Selatan.

Bu Bedah juga tercatat sebagai penerima sejumlah program bantuan pemerintah, termasuk bantuan yang berkaitan dengan P3KE, kemiskinan ekstrem, dan PKH.

Kondisi ekonominya tergolong rentan karena saat ini tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Bu Bedah bekerja serabutan, antara lain sebagai buruh cuci dan setrika rumah tangga. Pemkot Tangsel juga telah memberikan bantuan berupa sembako dan bantuan lainnya.

Bunga mengatakan, pemerintah saat ini masih memantau kondisi Bu Bedah dan keluarganya. Untuk sementara, belum ada bantuan berupa uang yang diberikan.

“Hari ini kami pantau dulu, toh yang bersangkutan masih berusaha. Sejauh mereka masih berusaha pemerintah daerah hanya melakukan monitoring,” katanya.

Jika nantinya membutuhkan bantuan tambahan, pemerintah akan mencari skema yang memungkinkan untuk membantu Bu Bedah dan keluarganya.

“Kalau memang diperlukan nanti kami akan coba cari cara seperti apa untuk membantu yang bersangkutan lebih lanjut,” lanjut Bunga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article