Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Orangtua Siswa SDIP Pamulang Minta Sengketa Diselesaikan Beradab

Kota Tangerang Selatan
Orangtua Siswa SDIP Pamulang Minta Sengketa Diselesaikan Beradab
Sekelompok orang geruduk dan rusak fasilitas SDIS Pembangunan Pamulang (dok. SDIS Pembangunan Pamulang)
  • Orangtua siswa SD Islam Pembangunan Pamulang meminta sengketa lahan Yayasan Syarif Hidayatullah dan UIN Jakarta diselesaikan secara bermartabat, tanpa intimidasi yang dinilai merusak teladan lembaga pendidikan.
  • Sejumlah orangtua khawatir pendudukan sekolah pada 22 Agustus 2026, yang diduga melibatkan preman, mengganggu psikis anak setelah ditemukan puntung rokok, sampah, dan kondisi kelas berantakan.
  • Orangtua menuntut jaminan keamanan, kenyamanan, kurikulum, serta tenaga pendidik tetap terjaga; sebagian mempertimbangkan memindahkan anak bila pengelolaan berubah tanpa kepastian tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tangerang Selatan, IDN Times - Orangtua dari siswa yang bersekolah di Sekolah Dasar Islam Pembangunan (SDIP) Pamulang meminta konflik sengketa lahan antara Yayasan Syarif Hidayatullah dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta diselesaikan dengan cara yang bermartabat. Apalagi, keduanya merupakan lembaga pendidikan yang harus mencontohkan kepada siswa dan mahasiswanya terkait penyelesaian konflik.

Salah satu orangtua siswa, Ana yang memiliki 2 anak yang bersekolah mengatakan, aksi UIN Jakarta yang melibatkan preman dan organisasi masyarakat untuk mengintimidasi tak mencerminkan lembaga pendidikan sama sekali.

"Padahal mereka kan membawa nama UIN sebagai lembaga pendidikan, apa yang mau diperlihatkan kepada siswa dan mahasiswanya?," kata Ana saat dikonfirmasi IDN Times.

  1. 1. Cara premanisme disebut buat psikis anak terganggu

    Sekelompok orang geruduk dan rusak fasilitas SDIS Pembangunan Pamulang
    Sekelompok orang geruduk dan rusak fasilitas SDIS Pembangunan Pamulang (dok. SDIS Pembangunan Pamulang)

    Ana menyebut, sejak konflik tersebut pecah pada 4 Juni 2026 lalu saat siswa tengah dalam masa ujian, dirinya sebagai orangtua khawatir bahwa adanya pengrusakan dan penggerudukan preman kembali terjadi. Terbukti, pada 22 Agustus 2026 dini hari, sekolah tersebut kembali digeruduk dan diduduki preman yang mengaku sebagai petugas keamanan UIN Jakarta.

    "Mereka bahkan merokok di dalam kelas anak kami yang biasa dipakai kegiatan belajar mengajar, saya lihat sendiri bekas puntung dan bungkus rokoknya saat kami orangtua ke sana," kata Ana.

    Ana pun mengaku tak peduli mengenai konflik sengketa lahan antara 2 yayasan tersebut. Namun, hal tersebut tentunya harus diselesaikan secara beradab, sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku, layaknya lembaga pendidikan.

    "Kalau dengan cara kasar seperti ini, apakah psikis anak kami tidak terganggu?" ungkapnya.

    Ia mengungkapkan, dengan dilakukan cara preman oleh UIN Jakarta, ia mengaku khawatir jika nantinya sekolah benar-benar berganti manajemen. Ia khawatir, ke depannya proses pembelajaran tak difokuskan pada kualitas pembelajaran siswa hingga tak adanya musyawarah mufakat kepada orangtua siswa.

    "Kalau pun berganti, saya juga mungkin mempertimbangkan untuk memindahkan anak saya, kecuali mereka bisa menjamin bahwa guru, kurikulum, dan cara pembelajaran tetap sama apalagi anak saya 2 yang sekolah di situ," jelasnya.

  2. 2. Orangtua siswa lainnya bakal pindahkan anak jika pihak premanisme mengelola

    Situasi konflik SDIP Pamulang yang menjadi perhatian DPRD Tangerang Selatan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
    Perwakilan orang tua siswa TKIP-SDIP Pamulang usai rapat dengar pendapat dengan DPRD Tangsel (IDN Times/Muhamad Iqbal)

    Senada dengan itu, orangtua siswa lainnya, Brian mengungkapkan hal yang sama. Sebagai orangtua yang mencari sekolah terbaik untuk anaknya, Brian ingin yayasan yang menaungi sekolah tersebut bisa menggunakan cara beradab.

    "Saya bayar enggak murah untuk sekolah di situ, kalau memang benar-benar berganti manajemen, saya akan memindahkan anak saya, enggak mau ambil risiko," tegas Brian.

    Brian beralasan, dirinya melihat sendiri adanya bungkus dan puntung rokok bekas pakai berserakan di dalam kelas anaknya usai adanya pendudukan oleh diduga preman ke sekolah anaknya pada Sabtu, 22 Agustus 2026 sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.

    "Ketika orangtua murid masuk kemarin nih mendobrak, banyak kami nemuin gelas-gelas bekas minuman, puntungan rokok di dalam kelas anak saya, mereka merokok di dalam kelas, tidur di bantal anak-anak, kondisinya sangat berantakan," kata Brian.

    Brian mengungkapkan, preman yang datang ke sekolah tersebut tak sendiri melainkan didampingi oleh Wakil Rektor UIN Jakarta, Imam Subchi. Saat datang tersebut, para preman melakukan penggantian kunci ruang-ruang kantor sekolah, seperti ruang guru, kepala sekolah, hingga server. Selain itu, mereka juga mengambil kamera pengawas atau CCTV di semua sudut sekolah.

    "Mereka matikan, server-server pendidikan, KBM, pembelajaran online segala macam diambil sama mereka, mereka juga bawa senjata tajam saat datang," ungkapnya.

  3. 3. Orangtua lainnya juga sebut hanya ingin hak anak terpenuhi di sekolah tersebut

    UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (youtube.com/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
    UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (youtube.com/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

    Orangtua lain, Dewi menuturkan, dirinya tidak peduli yayasan mana yang akan memegang SDIP tersebut, ia hanya ingin hak anak-anaknya yang bersekolah di sekolah tersebut dipenuhi dan dijamin. Bukan hanya hak dalam kegiatan belajar mengajar, melainkan juga hak keamanan dan kenyamanan saat menjalankan kegiatan di sekolah.

    "Dan dipastikan SDIP maupun TKIP tidak akan menerima tindakan anarkis dan premanisme dari pihak manapun. Tentunya kami sebagai orang tua, sudah menunaikan kewajiban membayar dengan uang yang tidak sedikit, maka kami akan mempertahankan hak kami dan hak anak-anak kami untuk tetap bersekolah di SDIP dengan tidak mengubah kurikulum maupun tenaga pendidiknya," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More