Produksi Padi Banten Melimpah, Petani Masih Sulit Menikmati Keuntungan

- Produksi pangan Banten mencapai 1,88 juta ton pada 2025, namun kesejahteraan petani belum meningkat karena nilai tambah lebih banyak dinikmati pelaku usaha hilir.
- Sekitar 80–90 persen gabah Banten dikirim ke luar provinsi untuk diolah, membuat beras hasil panen tidak lagi dikenal sebagai produk asal Banten.
- Pemerintah daerah mendorong hilirisasi pertanian dan pembangunan pusat pengolahan beras di Banten agar petani memperoleh nilai ekonomi lebih tinggi dari hasil panennya.
Serang, IDN Times - Provinsi Banten mencatat produksi pangan sebesar 1,88 juta ton pada 2025 dan masuk dalam delapan besar daerah penyumbang pangan nasional. Namun, tingginya produksi tersebut dinilai belum berbanding lurus dengan kesejahteraan petani karena sebagian besar nilai tambah justru dinikmati pelaku usaha di sektor hilir.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Banten yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Banten, Nasir, mengatakan mayoritas petani masih bergantung pada penjualan gabah dengan harga yang mengikuti ketentuan pemerintah, sementara keuntungan besar diperoleh setelah hasil panen diolah dan dipasarkan di luar daerah.
“Ilustrasinya, petani menunggu hampir empat bulan untuk panen, namun harga yang mereka terima hanya sesuai harga pokok pemerintah, Rp6.500 per kilogram,” kata Nasir, Senin (8/6/2026).
1. Gabah Banten dijual dengan merek daerah lain

Berdasarkan data Dinas Pertanian Banten, produksi pangan terbesar berasal dari Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Tangerang. Dari total produksi yang dihasilkan, sekitar 80 hingga 90 persen gabah dikirim ke luar provinsi untuk diolah lebih lanjut.
Nasir menilai kondisi tersebut membuat petani Banten tidak memperoleh nilai tambah dari hasil panen mereka. Setelah gabah dikirim ke daerah lain, produk beras yang dihasilkan tidak lagi dikenal sebagai produk asal Banten.
“Selama ini petani menunggu 4 bulan (panen) kemudian dibawa ke Karawang, dikemas mungkin dalam satu minggu itu udah enggak ada label Banten jadinya beras Karawang dan seterusnya,” ujarnya.
2. Perusahaan yang bergerak di pengolahan justru yang dapat untung besar

Menurut Nasir, perusahaan besar yang bergerak di sektor pengolahan pangan mampu memperoleh keuntungan jauh lebih besar melalui proses hilirisasi dibandingkan petani yang hanya menjual hasil panen dalam bentuk gabah.
“Dalam satu minggu saja, pedagang besar bisa mendapatkan lebih dari 200 persen keuntungan dari gabah yang mereka kelola. Hal ini menunjukkan ketimpangan nilai tambah antara produsen lokal dan pelaku usaha hilir,” katanya.
3. Hilirisasi pertanian di Banten dinilai jadi solusi

Nasir mengatakan pemerintah daerah berharap program hilirisasi pertanian yang didorong pemerintah pusat dapat diarahkan ke Banten. Dengan adanya pusat pengolahan dan distribusi beras di daerah, hasil panen petani dapat diolah dan dipasarkan dengan identitas Banten.
Ia mencontohkan sentra perberasan di Kabupaten Lebak yang mulai beroperasi dengan dukungan APBD serta kerja sama distribusi dengan Pasar Induk Beras Cipinang.
“Mudah-mudahan ke depan dilakukan langkah-langkah strategis sehingga pengelolaan hasil produksi gabah kita setiap musim panen ini bisa kita optimalkan sehingga harkat martabat masyarakat Banten terutama petani itu betul bahwa berasnya beras Banten,” kata Nasir.
Selain itu, pemerintah pusat melalui Bulog disebut telah menyiapkan 100 titik pusat perberasan di Indonesia. Pemprov Banten berharap salah satu titik tersebut dapat dibangun di wilayah Banten untuk memperkuat rantai pasok dan meningkatkan nilai ekonomi hasil panen petani lokal.
“Mudah-mudahan ada satu diarahkan di Banten,” ucapnya.


















