Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sekolah PAUD di Gunungkencana Lebak Rusak, Bertahun-tahun Tunggu Bantuan

Kab. Lebak
Sekolah PAUD di Gunungkencana Lebak Rusak, Bertahun-tahun Tunggu Bantuan
Puluhan Murid PAUD di Lebak Belajar di Kelas Rusak (Dok. IDN Times/Sandi)
Intinya Sih

  • Puluhan murid PAUD Izzaturrahman di Lebak belajar di kelas lapuk, beratap bocor, dan berdinding retak yang dinilai kurang aman bagi siswa serta guru.
  • Sekolah telah berulang kali memperbaiki bangunan secara swadaya dan mengajukan bantuan ke dinas hingga kementerian, tetapi belum ada realisasi perbaikan.
  • Saat hujan, pembelajaran sering terganggu dan kadang dipindahkan ke emperan rumah warga; orangtua khawatir serta berharap pemerintah segera memperbaiki sekolah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lebak, IDN Times – Puluhan murid PAUD Izzaturrahman di Kampung Babakan Keramat, Desa Sukanegara, Kecamatan Gunungkencana, Kabupaten Lebak, terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang kondisinya rusak parah. Bangunan lapuk, atap bocor, hingga dinding retak membuat aktivitas belajar dinilai kurang aman bagi siswa maupun guru.

Pihak sekolah mengaku berulang kali memperbaiki bangunan secara swadaya. Namun, kerusakan terus terjadi karena usia bangunan yang sudah tua.

1. Sekolah mengaku sudah bertahun-tahun menunggu bantuan

Puluhan Murid PAUD di Lebak Belajar di Kelas Rusak (Dok. IDN Times/Sandi)
Puluhan Murid PAUD di Lebak Belajar di Kelas Rusak (Dok. IDN Times/Sandi)

Kepala PAUD Izzaturrahman, Halimah mengatakan kerusakan bangunan sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Meski beberapa kali diperbaiki secara mandiri, kondisi sekolah kembali rusak.

“Kerusakan sudah berlangsung bertahun-tahun. Siswa terpaksa belajar dalam kondisi ruang kelas yang rusak. Perbaikan sudah berkali-kali, tapi tetap saja rusak kembali karena memang kondisinya sudah rapuh,” katanya, Senin (3/8/2026).

Menurut Halimah, pihak sekolah telah mengajukan permohonan bantuan kepada dinas terkait hingga pemerintah pusat. Namun, hingga kini belum ada realisasi perbaikan.

“Kita sudah mencoba berkirim surat ke dinas terkait bahkan hingga ke kementerian, tapi nihil. Padahal ada PAUD di wilayah lain yang sudah mendapatkan bantuan, sementara kondisi sekolah kami jauh lebih parah,” ujarnya.

2. Saat hujan kegiatan belajar sering terganggu

Halimah menjelaskan hampir seluruh ruang kelas mengalami kerusakan. Untuk sementara, kegiatan belajar hanya bisa dilakukan di ruangan yang ditutup menggunakan lembaran asbes.

Saat turun hujan proses belajar mengajar kerap terganggu. “Kami hanya berharap bantuan dari mana pun segera datang, karena semua ruang kelas di sekolah kami sangat rawan digunakan untuk kegiatan pembelajaran,” ucapnya.

Meski berada dalam keterbatasan, para guru tetap berupaya memberikan pembelajaran agar kegiatan belajar tidak terhenti.

3. Orangtua waswas mengantar anak ke sekolah

Kondisi bangunan sekolah membuat orangtua diliputi rasa khawatir. Salah satunya Lilis, yang setiap hari mengantar anaknya ke PAUD tersebut. Menurutnya, kerusakan bangunan membuat orangtua terus dihantui rasa cemas saat anak mengikuti pelajaran.

“Setiap hari kami merasa waswas ketika anak belajar. Namun karena semangat mereka untuk sekolah sangat tinggi, kami tetap mengizinkan. Saat musim hujan, kegiatan belajar bahkan terkadang dipindahkan ke emperan rumah warga,” katanya.

Orangtua berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki bangunan sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman dan nyaman bagi anak-anak usia dini.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More