Di sisi lain, Tarka menjelaskan, orangtua perlu mengetahui apakah anaknya speech delay atau tidak. ketika curiga anak speech delay, orangtua bisa memastikan hal itu ke tenaga kesehatan.
"Bantu anak dengan cara memancing dengan interaksi positif dengan anak. Ajarkan anak dengan kata-kata, berikan makanan sesuai dengan usianya," ungkapnya.
Ketika anak berusia 6 bulan, anak diberi tekstur cair dan berangsur ke ke makanan yang padat. Hal ini berguna untuk melatih otot mulut sang anak, supaya giginya bisa berfungsi dengan maksimal dan siap untuk menyampaikan kata-kata.
"Berikan pula mainan yang bisa memancing otot-otot mulut, seperti mainan yang bisa digigit. Juga latih anak untuk menyedot dengan menggunakan sedotan. Setiap tahahap pemberian makanan membantu anak untuk mencapai tahapan berbicara. Jika ada masalah segera konsultasikan kedokter sebelum terlambat,” tuturnya.
Jika anak mengalami speech delay, orangtua bisa menerapkan stimulasi oromotor. Stimulasi ini merupakan terapi wicara yang disesuikan berdasarkan usia dengan bantuan alat tertentu. Misalnya, orangtua bisa menggunakan metode bermain interaktif yang merangsang anak untuk berbicara.
“Ada juga terapi menirukan wajah seperti menirukan muka sedih, muka happy, di mana anak akan menggerakan wajahnya. Selain itu adapula terapi fokus interaktif pembelajaran seperti menunjukan model mobil, warna sambil menyontohkan cara mengucapkan sehingga anak mengikuti. Sebagai orangtua jangan pelit mulut, sehingga anak menirukan secara maksimal,” terangnya lagi.
Sebelum itu, orangtua pun harus memastikan penyebab anak terlambat berbicara. Apakah karena kurang stimulasi, handphone, atau kurang sering diajak berbicara. Dari penyebab inilah akan diambil kesimpulan, biasanya akan dilakukan terapi berbicara.
Di sisi lain, Tarka Yulasutu juga mengemukakan bahwa nutrisi sangat berpengaruh terhadap anak yang mengalami speech delay, terutama pada bagi prematur. Bayi prematur memiliki anatomi di dalam tubuh yang belum sempurna terbentuk.
“Untuk itu setiap anak perlunya nutrisi-nutrisi seimbang terutama vitamin D dan kalsium. Kalsium sendiri yang berfungsi untuk menguatkan tulang dan otot. Jika terjadi kekurangan kalsium atau defisiensi akan terjadi kekurangan pada otot. Selain itu nutrisi yang cukup akan menguatkan saraf-saraf didalam tubuh,” jelasnya.
Tarka pun berpesan kepada para ibu agar memperhatikan respons anak pada usia-usia tertentu. "Jika tidak ada perubahan, jangan gengsi segeralah bawa anak ke dokter sehingga segera tertangani dan bisa dikendalikan," kata dia.