Warga Tangsel terpaksa mencuci pakaian di Sungai Cisadane akibat kekeringan (IDN Times/Muhamad Iqbal)
Persoalan lingkungan Cisadane juga berkaitan dengan perubahan hubungan masyarakat terhadap sungai. Penggiat sejarah Serpong, Syahrudin alias Mang Iging, mengatakan Cisadane dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat sebelum kawasan perkotaan dan jaringan jalan raya berkembang.
Sungai tersebut bukan hanya menjadi sumber air, tetapi juga jalur transportasi, pusat kegiatan ekonomi, dan ruang interaksi sosial warga.
“Bicara Cisadane, sudah pasti itu warisan peradaban. Jauh sebelum seperti sekarang ini, Cisadane sebenarnya merupakan tampak muka. Sebelum ada jalan raya, bahkan sebelum masa Hindia Belanda,” kata Mang Iging.
Ia mengingat, masyarakat dahulu memanfaatkan sungai sebagai jalur penghubung kawasan hulu dan hilir. Aktivitas ekonomi tradisional seperti pembakaran kapur atau dikenal sebagai jebongan juga pernah berkembang di Serpong.
Kedekatan masyarakat dengan Cisadane bahkan masih terasa hingga sekitar dekade 1990-an. Saat itu, warga masih menggunakan sungai untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk mandi dan membersihkan diri menjelang Ramadan.
“Kalau bicara masa lalu yang saya rasakan, Cisadane memang menjadi sentral. Sampai tahun 1990-an ke belakang, kami masih melakukan banyak aktivitas di sana. Sebelum ada Cipeucang, kami mandi di sungai, bahkan menjelang bulan puasa,” ungkapnya.
Namun, perkembangan permukiman dan infrastruktur perkotaan mengubah wajah sungai sekaligus hubungan masyarakat dengan lingkungan tersebut.
Mang Iging mengakui kondisi Cisadane saat ini tidak lagi sama dengan yang dikenalnya pada masa lalu. Meski demikian, ia tidak ingin berspekulasi mengenai tingkat maupun sumber pencemaran karena hal itu membutuhkan penelitian dan keterangan pihak yang berkompeten.
Ia menilai dokumentasi sejarah dan kesaksian warga perlu dipertemukan dengan data lingkungan terkini. Dengan begitu, perubahan kondisi sungai dapat diketahui secara lebih menyeluruh dan menjadi dasar penyusunan langkah pemulihan.
Menurutnya, pengelolaan Cisadane juga membutuhkan koordinasi lintas wilayah karena aliran sungai melintasi sejumlah daerah. Kebijakan satu pemerintah daerah dapat berdampak terhadap kawasan lain yang berada di sepanjang alirannya.
“Memang harus ada komunitas khusus Cisadane. Potensinya sangat besar. Cisadane itu seharusnya menjadi tampak muka, bukan tampak belakang,” tegasnya.