Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Ganggu Pernapasan, Ini Bahayanya
Masyarakat Bandar Lampung mulai merasakan dambak debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
  • Abu vulkanik Anak Krakatau mengandung partikel tajam, halus, dan material kimia yang dapat terhirup hingga saluran pernapasan serta memicu iritasi pada jaringan lembap.
  • Paparan jangka pendek dapat menyebabkan iritasi hidung, tenggorokan, mata, dan kulit, batuk, hingga sesak napas; risikonya lebih besar bagi penderita asma.
  • Paparan berulang partikel silika berisiko merusak paru-paru. Warga diminta membatasi aktivitas luar ruangan, memakai masker N95/KN95 dan kacamata, serta mengikuti arahan resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tangerang, IDN Times – Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang menyebabkan sebaran abu vulkanik perlu diwaspadai masyarakat, terutama mereka yang berada di wilayah terdampak.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dibandingkan debu biasa. Partikelnya berasal dari pecahan material vulkanik, termasuk batuan dan material menyerupai kaca vulkanik yang dapat bersifat abrasif.

“Bahaya abu Gunung Anak Krakatau terletak pada kombinasi sifat fisik partikelnya yang tajam dan kandungan kimianya,” ujar Daryono, Minggu (6/9/2026).

1. Partikel halus bisa masuk ke saluran pernapasan

Penampakan debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Kabupaten Tanggamus dan Pesibar. (IDN Times/Istimewa).

Daryono mengatakan, sebagian abu vulkanik berukuran sangat halus sehingga dapat terhirup dan masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Kondisi tersebut membuat paparan abu vulkanik perlu mendapat perhatian, terutama ketika konsentrasinya tinggi atau seseorang berada di luar ruangan dalam waktu lama.

Selain karakteristik fisiknya, abu vulkanik juga dapat membawa material kimia yang berasal dari proses erupsi. Dalam kondisi tertentu, permukaan partikel dapat mengandung senyawa asam seperti sulfat dan klorida.

Ketika mengenai jaringan tubuh yang lembap, material tersebut dapat menyebabkan iritasi.

2. Bisa memicu batuk hingga sesak napas

Masyarakat Bandar Lampung mulai merasakan dambak debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, hingga gangguan pernapasan.

Risikonya dapat lebih besar bagi orang yang memiliki penyakit pernapasan, termasuk penderita asma.

Paparan juga dapat menyebabkan mata terasa perih dan mengalami iritasi. Kulit pun bisa mengalami gangguan apabila bersentuhan dengan abu vulkanik dalam kondisi tertentu.

Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap abu vulkanik sebagai debu biasa yang aman untuk dihirup.

3. Paparan berulang juga perlu diwaspadai

Penampakan debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Kabupaten Tanggamus dan Pesibar. (IDN Times/Istimewa).

Menurut Daryono, paparan material vulkanik dalam jumlah besar dan berulang dapat memberikan dampak terhadap kesehatan paru-paru. Salah satu perhatian utama adalah partikel silika kristalin yang terdapat pada sebagian abu vulkanik.

Paparan silika respirabel dalam jangka panjang dan konsentrasi tinggi diketahui dapat menyebabkan kerusakan paru-paru, termasuk silikosis.

Karena itu, masyarakat di wilayah yang mengalami sebaran abu disarankan mengurangi paparan, terutama ketika aktivitas erupsi masih berlangsung.

4. Gunakan masker dan lindungi mata

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyebar hingga warga di Jakarta Barat, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Anata Siregar)

Untuk meminimalkan risiko, masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan selama terjadi sebaran abu vulkanik.

Jika harus keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker dengan filtrasi baik, seperti N95 atau KN95, serta kacamata pelindung untuk mengurangi paparan pada mata.

“Untuk meminimalkan risiko tersebut, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi saat terjadi sebaran abu. Jika terpaksa harus beraktivitas di luar, penggunaan kacamata pelindung dan masker dengan tingkat filtrasi tinggi sangat dianjurkan,” jelas Daryono.

Ia mengingatkan masyarakat untuk mengikuti informasi dan arahan resmi terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta sebaran abu vulkanik.

Curated For You

Editorial Team

Related Article