Pembangunan Irigasi Dikebut, Produksi Beras di Banten Ditarget Naik 30 Persen

- Pemprov Banten membangun tujuh proyek irigasi di empat kabupaten senilai sekitar Rp48 miliar, didukung anggaran pusat Rp471 miliar untuk jaringan sepanjang 81 kilometer.
- Pembangunan irigasi ditargetkan mengairi sekitar 10 ribu hektare sawah, meningkatkan frekuensi tanam dari dua menjadi tiga kali setahun, serta mendorong produksi gabah 20–30 persen.
- Pemprov juga membangun kawasan hulu, memakai konstruksi beton untuk menekan kebocoran, memperbaiki akses jalan pertanian, dan mengajak masyarakat mengatur distribusi air secara adil.
Pandeglang, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mempercepat pembangunan infrastruktur irigasi untuk mendongkrak produksi pertanian dan mengejar target swasembada pangan.
Gubernur Banten Andra Soni secara simbolis meresmikan pembangunan irigasi tahun anggaran 2025 di Cisata, Desa Tegal, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, Rabu (2/9/2026). Sebanyak tujuh proyek irigasi yang tersebar di empat kabupaten dibangun dengan total anggaran sekitar Rp48 miliar. Infrastruktur ditargetkan mampu memperkuat pasokan air ke lahan pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
"Alhamdulillah, kita meresmikan hasil pekerjaan terkait irigasi tahun 2025 kurang lebih di tujuh lokasi dengan anggaran sekitar Rp48 miliar," ujar Andra.
1. Seluas 10 Ribu hektare sawah terairi

Gubernur Banten Andra Soni meresmikan irigasi di 3 daerah (Dok. Khaerul Anwar) Pembangunan irigasi oleh Pemprov Banten juga mendapat dukungan pemerintah pusat. Pada 2025, pemerintah pusat mengalokasikan sekitar Rp471 miliar melalui program Instruksi Presiden (Inpres) Perbaikan Irigasi.
Anggaran tersebut digunakan untuk membangun jaringan irigasi sepanjang 81 kilometer yang mengairi sekitar 9.250 hektare lahan persawahan. Jika digabung dengan pembangunan yang dilakukan Pemprov Banten, total area sawah yang mendapat pasokan air mencapai sekitar 10 ribu hektare.
"Pemerintah pusat juga kembali mengalokasikan sekitar Rp480 miliar untuk pembenahan sistem irigasi di Banten," katanya.2. Produksi gabah dibidik naik 30 persen

Gubernur Banten Andra Soni meresmikan irigasi di 3 daerah (Dok. Khaerul Anwar) Andra mengatakan, perbaikan jaringan irigasi mulai berdampak terhadap intensitas tanam petani. Jika sebelumnya sebagian lahan hanya dapat ditanami dua kali dalam setahun, kini ditargetkan bisa mencapai tiga kali tanam.
Kondisi tersebut diharapkan meningkatkan luas tambah tanam (LTT) sekaligus produksi gabah Banten.
Produksi gabah yang sebelumnya berada di kisaran 1,8 juta ton ditargetkan meningkat sekitar 20 hingga 30 persen pada tahun ini. "Walaupun kita sedang dapat tantangan musim kering, tapi kan teman-teman bisa lihat tadi, dengan adanya irigasi," katanya.3. Tak hanya saluran, hulu ikut dibangun

Gubernur Banten Andra Soni meresmikan irigasi di 3 daerah (Dok. Khaerul Anwar) Menurut Andra, ketersediaan air menjadi fondasi penting untuk mengoptimalkan teknologi pertanian dan meningkatkan produktivitas lahan.
Pemprov Banten tidak hanya akan memperbaiki saluran irigasi. Pemerintah juga mulai mengarahkan pembangunan ke kawasan hulu sebagai sumber pasokan air. Andra menegaskan, irigasi tidak dapat menciptakan air. Infrastruktur tersebut hanya berfungsi mengalirkan air yang tersedia ke lahan pertanian.
"PR kita berikutnya adalah menjaga hulu supaya airnya tetap tersedia dan bisa dialiri ke sawah-sawah petani," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten Arlan Marzan mengatakan, pembangunan irigasi menjadi salah satu fokus pemerintah daerah untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Pada akhir 2024, indeks kinerja sistem irigasi (IKSI) Banten berada di angka 52 persen. Dalam rencana strategis (Renstra), kenaikannya ditargetkan hanya sekitar 1 persen per tahun atau 5 persen dalam lima tahun. Namun, target tersebut justru terlampaui dalam waktu satu tahun.
"Target lima tahun yang cuma naik lima persen, ini dalam satu tahun ternyata sudah naik 10 persen karena masif. Ada kolaborasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah pusat melalui Inpres," kata Arlan. Menurutnya, percepatan tersebut tidak terlepas dari dukungan pemerintah pusat melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025.
Arlan menambahkan, sejumlah jaringan irigasi kini mulai menggunakan konstruksi beton, terutama di wilayah dengan tekanan tanah cukup tinggi.
Sebelumnya, sebagian saluran menggunakan pasangan batu yang dinilai memiliki risiko kebocoran lebih besar.
Dengan konstruksi beton, saluran diharapkan lebih kedap sehingga kehilangan air dapat ditekan dan distribusi air ke sawah menjadi lebih optimal.
"Target kami, 10 tahun dengan konstruksi beton ini bisa optimal melayani menyalurkan air ke sawah-sawah petani," jelasnya.
Dari tujuh proyek irigasi yang dibangun Pemprov Banten pada 2025, tiga berada di Pandeglang dan dua di Lebak. Dua proyek lainnya masing-masing berada di dua kabupaten lainnya. Konsentrasi pembangunan di Pandeglang dan Lebak dilakukan karena wilayah Banten Selatan menjadi salah satu penopang lumbung pangan Banten.
Pemprov Banten juga mengintegrasikan pembangunan irigasi dengan perbaikan akses jalan di sekitar lokasi proyek. Langkah ini dilakukan agar hasil pertanian lebih mudah didistribusikan dengan biaya yang lebih rendah.
Arlan turut meminta masyarakat ikut menjaga jaringan irigasi, terutama dalam pengaturan distribusi air antarwilayah. "Kami juga butuh support bersama-sama dengan masyarakat untuk bagaimana yang krusial ketika nanti pembagian airnya. Supaya nanti bisa kondusif, bisa bersama-sama antar desa untuk mengatur debit air di masing-masing wilayahnya, sehingga semua bisa berkeadilan terlayani," katanya.

















