Kabut Asap Karhutla Menebal, Penerbangan ke Kalimantan Terdampak

- Kabut asap karhutla di Kalimantan mengganggu penerbangan, dengan jarak pandang Pontianak turun hingga 600 meter, seluruh penerbangan terlambat, dan satu rute Jakarta-Pontianak kembali ke bandara asal.
- Pada 1 September, visibilitas di Tarakan dan sejumlah bandara perintis Kalimantan sempat memicu pengalihan serta penundaan penerbangan; pada 2 September, kondisi Kalimantan Utara mulai membaik.
- AirNav Indonesia memperketat pemantauan ruang udara, cuaca, dan meteorologi serta berkoordinasi dengan pihak terkait; operasional Bandara Kualanamu normal meski erupsi Gunung Sinabung turut dipantau.
Tangerang, IDN Times - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan dilaporkan semakin meluas dan terus memberikan dampak signifikan terhadap operasional penerbangan. AirNav Indonesia memperketat pemantauan kondisi ruang udara secara menyeluruh, khususnya terkait perubahan jarak pandang (visibility) dan kondisi meteorologi yang berpotensi memengaruhi keselamatan operasional.
Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, mengatakan bahwa kondisi atmosfer dan jarak pandang yang dinamis memerlukan pemantauan secara berkelanjutan. Hal tersebut agar informasi yang dibutuhkan untuk mendukung keselamatan penerbangan dapat tersedia secara cepat dan akurat.
“Keselamatan penerbangan adalah prioritas utama kami. Dalam menghadapi kondisi kabut asap seperti saat ini, AirNav Indonesia terus melakukan pemantauan terhadap kondisi ruang udara, termasuk perubahan jarak pandang, kondisi cuaca, serta informasi meteorologi lainnya," kata Avirianto di Tangerang, Rabu (2/9/2026)
1. Jarak pandang penerbangan di Pontianak yang terparah

Ilustrasi kota terkena kabut asap karhutla (magnific.com/teksomolika) Dijelaskan, berdasarkan pemantauan pada Rabu, 2 September 2026 hingga pukul 11.57 WIB, kondisi terdampak kabut asap paling signifikan terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat, dengan jarak pandang turun drastis hingga 600 meter. Kondisi ini menyebabkan seluruh penerbangan mengalami keterlambatan (delay).
Satu penerbangan tujuan Jakarta-Pontianak terpaksa melakukan return to base (RTB) atau kembali ke bandara asalnya. Sementara itu, penerbangan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah masih berjalan normal dengan jarak pandang aman di sekitar 3.500 meter.
"Informasi tersebut kami koordinasikan dengan seluruh stakeholder terkait untuk memastikan setiap penerbangan mendapatkan informasi yang diperlukan dalam mendukung pengambilan keputusan operasional,” ungkapnya.
2. Meski jarak pandang sempat terbatas, hari ini asap mulai menipis

Suasana karhutla di Kalbar. (IDN Times/adpim). Sehari sebelumnya, pada Selasa, 1 September 2026, dampak kabut asap juga sempat memasuki wilayah udara Kalimantan Utara. Sebagai dampak, jarak pandang di Bandara Juwata, Tarakan, sempat merosot tajam ke rentang 1.000–5.000 meter. Hal ini mengakibatkan satu penerbangan terpaksa dialihkan (divert) ke bandara terdekat, serta tiga penerbangan lainnya sempat tertunda.
Pada hari yang sama, penurunan visibilitas ekstrem akibat akbut asap juga tercatat di beberapa bandara perintis Kalimantan. Antara lain di Malinau, jarak pandang sempat menyentuh 2.000 meter yang menyebabkan satu penerbangan perintis dialihkan (divert). Kemudian di Bandara Long Apung, jarak pandang saat itu hanya berkisar 150-300 meter. Demikian halnya di Bandara Tanjung Harapan, berada di kisaran 400-1.000 meter.
”Tetapi hari ini (2/9), kondisi di Kalimantan Utara terpantau mulai membaik, dengan jarak pandang yang meningkat hingga di kisaran 3.000–5.000 meter,” imbuh Avirianto.
3. AirNav juga perketat pengawasan penerbangan akibat erupsi Gunung Sinabung

Para pelajar di SD Negeri 047174, di Desa Kutarayat, Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, tetap menjalankan aktivitas belajar mengajar di saat Gunung Sinabung berada di level III atau siaga, Rabu (2/9/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo) Tidak hanya melakukan pemantauan terhadap dampak kabut asat karhutla, pemantauan juga dilakukan Airnav Indonesia terhadap dampak erupsi Gunung Sinabung di Sumatra Utara. Hari ini, operasional penerbangan di Bandara Kualanamu kembali normal. Tidak ada abu vulkanik yang menutupi jalur penerbangan.
Namun, ia memastikan, jika ada potensi gangguan apa pun, sesuai prosedur pihaknya akan secepatnya merilis informasi tersebut kepada pilot dan maskapai penerbangan.
"Langkah ini untuk memastikan setiap penerbangan mendapatkan informasi yang diperlukan dalam mendukung pengambilan keputusan operasional. Hal ini karena keselamatan penerbangan adalah prioritas utama kami,” pungkasnya.

















